Kamis, 06 Agustus 2015

Percaya Tidak, Model Bisnis ke Depan akan Seperti GOJEK


Dunia dan bentangan bisnis saat ini memang masuk ke era perubahan dengan keceatan yang luar biasa. Rentang periode keberhasilan perusahaan telah mengalami beberapa kali pemendekan rentang waktunya. Selama tahun 1980, di Fortune 500 hampir secara eksklusif diisi oleh perusahaan-perusahaan yang telah masuk dalam daftar itu selama 35 tahun. Saat ini, perusahaan yang masuk di klub eksklusif ini rata-rata 15 tahun.  Sekarang, hampir 40 persen daftar itu diisi oleh perusahaan yang 20 tahun lalu hampir tidak pernah terdengar.

Perubahan memang membawa bisnis masuk ke bidang persaingan baru. Pasar berkembang lebih cepat dan mengarah pada penciptaan lapangan baru kompetisi. Bentuk yang paling berbahaya dari persaingan  tidak lagi berasal dari dalam pasar Anda sendiri. Sebaliknya, pesaing sering datang dari arah yang Anda tidak menduganya. Lihat saja di pasar keuangan. Sampai dua tiga tahun lalu, semua bank melakukan kurang lebih hal yang sama. Mereka masing-masing memberikan penawaran kepada pelanggan yang sebanding. Kadang-kadang, ada bank yang mungkin memperkenalkan inovasi atau reposisi kecil. Tapi kejutan nyata hanya sedikit dan jauh dari nyata. Namun, kini berubah.

Simak fenomena yang terjadi belakangan. Setiap tahun Fast Company menerbitkan daftar perusahaan paling inovatif di dunia. Namun dari waktu ke waktu, model bank-bank klasik menghilang di daftar Fast Company. Sekarang, kartu kredit sudah banyak. Penetrasinya juga sudah tinggi sehingga susah bagi pemain baru masuk ke dalamnya. Kalaupun bisa, itu cuma sekadar masuk karena sulit menemukan menampilkan pembedanya dengan kartu kredit lain.  Dalam situasi seperti itu, datang Lending Club sebagai penantang. Lending menawarkan fasilitas kredit diantara konsumen. dengan kata lain, melalui Lending Club, konsumen A bisa meminjamkan uangnya ke konsumem lainnya B misalnya, dengan Lending Club sebagai fasilitatornya.

Model pinjam meminjam uang ini tentu saja menghilangkan fungsi utama dari bank-bank sebagai perantara. Square adalah contoh lain perusahaan yang ada di daftar FastCompany. Seperti PayPal, Square telah mengembangkan pilihan baru sistem  pembayaran. Square adalah kotak putih kecil berbentuk (tidak mengherankan) persegi. Jika Anda menghubungkannya ke iPhone atau iPad, mereka berubah menjadi alat mobile point-of-sale. Anda dapat melakukan pembayaran dengan kartu kredit. Ini berarti pembayaran mobile dengan Square mudah dan nyaman. Daftar Fast Company juga berisi beberapa start-up ambisius lain yang memiliki potensi untuk menggerogoti bisnis inti dari sektor perbankan.

Dulu tidak pernah terbayang kalau ada layanan ojek dengan tarif sesuai argometer—sehingga bebas dari rasa khawatir kemahalan, dan dikendarai oleh pengojek berseragam rapi. Kini ada GO-JEK yang mewujudkan ide tersebut. Adalah Nadiem Makarim Makarim bersama Michaelangelo “Michy” Moran dan Kevin Aluwi yang mewujudkan ide ini dengan menggandeng para tukang ojek yang mangkal di area Jakarta Selatan dan Pusat. Layanan ojek berbasis aplikasi mobile ini hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang sering terkendala kemacetan ibukota.

Selain kemudahan pemesanan, karena dapat dilakukan via telepon, SMS, Blackberry Messenger (BBM), Twitter, hingga WhatsApp, added value lain dari GO-JEK adalah kecepatan, kenyamanan karena pelanggan dijemput ke lokasi, serta harga yang fix—berdasarkan kilometer—sehingga pelanggan tak perlu tawar-menawar. GO-JEK juga membuka layanan Go-Food. Layanan tersebut menawarkan jasa antar makanan atau kuliner, mulai dari level cafĂ© dan resto ternama, hingga kuliner warung rumahan. Inovasi lainnya yang dilahirkan oleh tim Online GO-JEK adalah GO-JEK Wallet. Fitur tersebut memudahkan konsumen melakukan pembayaran tanpa harus membawa uang tunai, alias langsung didebet dari GO-JEK Wallet.  Bayangkan berapa orang yang terlibat dalam bisnis GO-JEK.

Fenomena persaingan baru itu bukan hanya terjadi di pasar keuangan. Di hampir setiap industri selalu ada pemain baru dengan sesuatu yang baru. Masing-masing pemain baru itu menggunakan teknologi baru yang terkait dengan jenis hubungan pelanggan baru. Sebagai contoh, pemimpin tradisional di pasar sewa mobil kini menemui kesulitan untuk berdamai dengan inisiatif revolusioner dari perusahaan-perusahaan seperti Car2Go.

Car2Go adalah sebuah aplikasi yang memungkinkan pelanggan untuk melihat secara real time posisi mobil Car2Go yang tersedia untuk disewa di setiap kota atau di kota tertentu. Konsumen dapat mengaktifkan mesin mobil yang disewanya setelah mereka berada di dekatnya. Ketika mereka pertama kali masuk ke dalam mobil, mereka diminta untuk membuat evaluasi cepat tentang kondisinya, sehingga kebersihan dan kepatutan dari pelanggan sebelumnya dapat diperiksa.

Setelah proses tersebut dilakukan, pelanggan bebas menggunakannya kapanpun mereka siap. Tarifnya  ditentukan oleh jumlah kilometer.  Pembayaran dilakukan pada akhir perjalanan dengan kartu kredit. Setelah pelanggan mencapai tujuan akhir mereka, mereka hanya meninggalkan mobil di mana pun mereka berada. Ini adalah titik yang akan digunakan oleh pelanggan pengguna berikutnya. Ini mengindikasikan terjadinya revolusi hubungan pelanggan, yang sebelumnya tidak pernah setidak-stabil sekarang ini. Hubungan itu selalu berapa dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang bahkan semakin pendek.

Orang-orang yang bergerak di teknologi sering mengklaim bahwa dengan teknologi, model bisnis baru kini bisa mengeksploitasi kemungkinan membuat sesuatu yang luar biasa. Pada kenyataannya, teknologi saja tidak cukup. Mereka masih membutuhkan hubungan dengan pelanggan yang bentuknya kini sama sekali baru, meski memiliki satu kesamaan, yakni pelanggan memiliki kontrol atas seluruh proses, dari awal sampai akhir. Kuncinya adalah layanan optimal. Ini yang seringkali membuat pelanggan berbahagia.

Namun demikian, teknologi hanya  berfungsi meningkatkan pengalaman pelanggan ke tingkat yang berbeda. Singkatnya, teknologi memfasilitasi hubungan pelanggan baru. Pengalaman pelanggan menjadi semakin penting sebagai sumber keunggulan kompetitif. Dalam sebuah penelitian, 73% responden menyatakan bahwa bahkan ketika saluran digital perusahaan bekerja dengan sempurna, mereka masih menginginkan  memiliki akses ke manusia secara nyata.

Dua tahun lalu, seperti ditulis The Ecnomist, 9 Maret 2013, suatu malam ada kejadian dimana 40.000 orang menyewa akomodasi dari sebuah perusahaan penyedia jasa layanan yang menawarkan 250.000 kamar yang tersebar di 30.000 kota di 192 negara. Mereka memilih kamar dan membayar semuanya secara online. Tapi tempat tidur mereka disediakan oleh individu swasta, bukan oleh jaringan hotel. Tuan rumah dan tamu dipertemukan oleh Airbnb, sebuah perusahaan berbasis di San Francisco.

Sejak diluncurkan pada tahun 2008 lebih dari 4 juta orang telah menggunakannya - 2,5 juta dari mereka pada tahun 2012 saja. Ini adalah contoh yang paling menonjol dari sebuah raksasa baru “sharing economy" di mana orang menyewa tempat tidur, mobil, kapal dan aset lainnya langsung dari banyak penyedia yang terkoordinasi melalui internet.

Selama beberapa tahun terakhir, sharing economy telah meledak dengan cara yang tak terbayangkan. Konsep yang dulu yang mungkin dulu tidak terbayangkan, kini berada di antara jejeran perusahaan terpanas dunia. Bayangkan saja, dengan valuasi $ 10 miliar bisnis "couchsurfing" dengan platform Airbnb, misalnya, itu berarti melebihi valuasi Hyatt Hotels, yang tahun lalu memiliki sekitar 75 ribu karyawan dan hampir 500 hotel. Aplikasi panggil dari Uber saat ini menawarkan layanan di lebih dari 130 kota di seluruh dunia dan baru-baru ini memiliki valuasi $ 1,820 miliar. Lagi lagi  nilai itu kurang lebih sama dengan valuasi gabungan raksasa sewa otomotif Hertz dan Avis

Anda mungkin berpikir bahwa bisnis ini tidak berbeda seperti halnya dari menjalankan bisnis tidur dan sarapan seerti yang dulu dikenal dengan istilah timeshare atau berpartisipasi dalam sebuah kolam mobil. Namun berbeda dengan bisnis timeshare seperti yang dikenal dulu, teknologi telah mengurangi biaya transaksi sehingga aset yang dibagi menjadi lebih murah dan lebih mudah diperoleh dari sebelum-sebelumnya, bahkan bisnis yang sekarang kini makin berkembang itu, skalanya menjadi jauh lebih besar.  Perubahan besar yang terjadi adalah ketersediaan data dalam jumlah yang lebih besar tentang semua hal, termasuk orang-orang dan hal-hal yang memungkinkan aset fisik yang bisa dibagi dan masing-masing terpilah dan dikonsumsi sebagai layanan.

Sebelum internet berkembang, menyewa papan selancar, mesin pembangkit listrik atau tempat parkir dari orang lain memang bisa. Akan tetapi sekarang jasa layanan biasanya lebih dari layak. Sekarang ada website seperti Airbnb, RelayRides dan SnapGoods yang mempertemukan pemilik dan penyewa; smartphone dengan GPS memungkinkan orang bisa melihat keberadaan mobil terdekat yang disewakan atau di parkiran terdekat. Jejaring sosial menyediakan cara bagi orang untuk memeriksa dan membangun kepercayaan. Sistem tagihan dan pembayarannya juga dilakukan secara online.

Sama halnya dengan bisnis peer-to-peer seperti eBay yang memungkinkan orang untuk menjadi pengecer, situs berbagi memungkinkan orang menjadi penyedia jasa penyewaan taksi dadakan, perusahaan penyewaan mobil atau hotel butik begitu mereka cocok. Caranya juga mudah, Anda cukup buka online atau men-download aplikasi. Model bisnis ini bisa dilakukan untuk item yang mahal tetapi mereka tidak memanfaatkannya secara penuh. Kamar tidur dan mobil adalah contoh item yang paling banyak dijumpai. Tidak hanya itu, orang juga bisa menyewa ruang berkemah di Swedia, sebidang tanah di Australia atau mesin cuci di Perancis. Dengan kata lain, dalam sharing economy, akses mengalahkan kepemilikan.

Sharing economy adalah tentang menghubungkan permintaan kepada kapasitas atau aset cadangan. Ini memang bukan hal yang baru. Tetapi selama dekade terakhir, bisnis ini berkembang dari sekadar alat transaksi di antara teman-teman dan keluarga, menjadi sebuah gerakan bisnis global yang semakin hari semakin besar bila dinilai dalam rupiah. Rachel Botsman, penulis buku tentang sharing economy, mengatakan pasar konsumen peer-to-peer penyewaan mobil ini nilainya mencaai  $ 26 miliar.
Sebagai suatu Megatrends yang terus berkembang dan mungkin berbenturan, sharing economy menjadi fitur bisnis yang semakin diterima. Sebuah perusahaan konsultan bisnis, PWC, memperkirakan bahwa lima sektor bisnis ekonomi berbagi utama yang kini berkembang, yakni model bisnis keuangan peer-to-peer, sistem kepegawaian secara online, peer-to-peer akomodasi, berbagi mobil dan musik video streaming. Semuanya memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan global menjadi $ 335 miliar pada tahun 2025.

Definisi yang lebih luas dari ekonomi berbagi ini juga memasukkan bisnis pinjaman peer-to-peer atau meletakkan panel surya di atap Anda dan menjual listrik kembali ke orang sekitarnya meskipun yang meski terlihat sedikit tapi bila dilihat dari pemanfaataan memenuhi kriteria sebagai bisnis sharing economy. Itu hanya bersifat individu. Padahal web memudahkan juga bagi perusahaan untuk menyewakan ruang kantor dan mesin cadangan yang menganggur. Jadi, inti dari bisnis sharing economy adalah orang satu sama lain bisa saling sewa menyewakan asetnya.

Di luar fenomena itu, pelaku bisnis juga semakin bijaksana. Orang semakin membutuhkan keseimbangan antara kerja dan hidup yang baik untuk menjadi bahagia. Bahkan, itu salah satu kriteria untuk sesuatu yang menjadi "tempat terbaik untuk bekerja" dan perusahaan seperti sering meneria penghargaan setiap tahun. Model sharing economy menjadi alternative baru bagi pebisnis dan sebagai cara meningkatkan kehidupan konsumen dan kontraktor independen. GOJEK, Uber, dan sebagainya telah menginspirasi model bisnis serupa di sejumlah industri. Mereka tidak membutuhkan uang ekstra dapat memilih dari pekerjaan yang bisa benar-benar mereka nikmati. Itu yang terjadi ada anggota GOJEK, GrabTaxi, GrabBike dan sebagainya.