Selasa, 04 Agustus 2015

Strategi Telkom Mempersiapkan Talent Kelas Dunia

  


Dalam suatu organisasi, sumber daya manusia bukan hanya sebagai alat dalam produksi tetapi memiliki peran penting dalam kegiatan produksi suatu organisasi. Kedudukan SDM saat ini bukan hanya sebagai alat produksi tetapi juga sebagai penggerak dan penentu berlangsungnya proses produksi dan segala aktivitas organisasi.
SDM memiliki andil besar dalam menentukan maju atau berkembangnya suatu organisasi. Oleh karena itu, kemajuan  suatu organisasi ditentukan pula bagaimana kualitas dan kapabilitas SDM di dalamnya. Buku yang ditulis Priyantono Rudito , kini Direktur Human Capital Management PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., ini mengulas pengalaman Telkom dalam melakukan akselerasi pembentukan manusia-manusia hebat berkelas dunia. 
Awalnya, ketika Telkom memutuskan untuk mengembangkan dan mentransformasi perusahaan, manajemen Telkom memilih strategi yang menempatkan orang (human capital) sebagai simpul dari keseluruhan proses tersebut. Konsekuensinya, munculnya kebutuhan untuk mengembangkan orang-orang yang berkualifikasi great people, great leader dengan global standars.
Atas dasar itu, Pryantono Rudito, penulis buku ini, berpendapat bahwa sejatinya fungsi sebenarnya dari sebuah perusahaan adalah menciptakan pemimpin. Ketika sebuah organisasi mampu menghasilkan para pemimpin dalam jumlah besar maka para pemimpin hebat itu akan menjadi sandaran keberlangsungan sukses organisasi tersebut dalam jangka panjang.
Pertanyaannya sekarang adalah darimana sumber daya manusia tersebut? Dalam pikiran Rudito ada tiga pilihan sumber talenta tersebut. Pertama membeli SDM mumpuni di pasar. Kedua, mengembangkan dari dalam, dan ketiga, gabungan keduanya. Namun setelah ditimbang-timbang untung ruginya, maka diputuskan untuk memilih opis ketiga, yakni menggabung antara membeli SDM mumpuni dan mengembangkan sendiri.
Dari mana Rudito memulai? Ada tiga hal yang menginspirasi Rudito. Pertama adalah penulis begitu terpengaruh oleh gagasan Thomas Friedman, seorang wartawan the New York Times seperti yang dituangkannya adalam buku The World Is Flat!
Kedua, saat Rudito mendapat mandate dari CEO Telkom untuk mendukung program International Expansion, yakni upaya Telkom untuk go global dengan menancapkan bisnisnya di berbegai negara yang menjadi target pasar seert Hongkong, Australia, Timor Leste, Malaysia, dan sebagainya. Gagasan tersebut melahirkan Global Talent Program yang mengirimkan 1000 orang karyawan ke luar negeri sepanjang tahun 2013 agar mereka merasakan bagaimana bekerja di luar negeri.
Ketiga, adalah bakal berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ini bisa dianggap sebagai perdagangan bebas . Jika Indonesia tidak menyiapkan orang-orang yang mampu bersaing, maka Indonesia hanya akan menjadi pasar.
Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas tentang strategi dan kebijakan yang dijalankan Telkom dalam mengakselerasi pembentukan talenta global. Dalam konteks ini Telkom menggunakan model 5E. Bagian kedua, menampilkan studi kasus pelaksanaan ekspansi internasional dan akselerasi penyiapan talenta. 
Ketika membahas konsep, Rudito menawarkan model 5E (Enthusiasm, Eduknowledge, Exposure, Equity, Enabler), sebuah konsep yang dibangun Telkom untuk mengakselerasi penciptaan pemimpin-pemimpin hebat berkelas dunia. Ge Model 5E merupakan strategic leverage yang mentransformasikan Telkom menjadi a truly global company.
Enthusiasm berarti keinginan (desire) yang melahirkan kesungguhan (passion) karena adanya harapan (hope) tertinggi untukmenjadi talenta terbaik berkelas dunia. Untuk mempermudah penjelasan kredo ini, Rudito memberikan ilustrasi dirinya saat ingin mencapai skor kemampuan bahasa Inggris IELTS ketika mau sekolah di Australia. Berbekal niat, keinginan, dan kesungguhan yang luar biasa untuk bisa belajar di luar negeri, Rudito mampu mencapai skor IELTS yang diharapkan
Kredo kedua adalah Eduknowledgeaja (pembelajaran atau learning). Dalam pemahaman Rudito, pembelajaran berarti proses akuisisi pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill) yang sesuai dengan dinamika dan perkembangan bisnis di tingkat global. Kredo ini dibangun dengan asumsi bahwa agar bisa kompetitif di tingkat global, perusahaan harus memiliki karyawan yang belajar terus menerus mengikuti perkembangan bisnis global.
Yang ketiga adalah Exposure. Ini adalah elemen terpenting dalam pendekatan strategic leverage untuk mengakselerasi talenta hingga mencapai kapasitas kelas dunia. Ini diabangun dari asumsi bahwa orang Indonesia tidak bisa bersaing di luar negeri bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan teknis, melainkan karena tidak memiliki cukup kesempatan bekerja dan mengekspresikan kemampuannya di luar negeri.
Yang keempat adalah Equity. Dalam pandangan Rudito, eduknowledge dan exposure tidak akan langgeng jika pengembangan talenta global tidak diikuti dengan terciptanya kinerja bisnis. Karena itu, orang yang dikembangkan haruslah memiliki talenta global readiness dan mereka harus mampu mencipatakan nilai berarti bagi perusahaan.
Rudito membagi equity ke dalam tiga jenis; yakni people equity, market equity, dan financial equity. People equity berarti yang bersangkutan mampu meningkatkan akumulasi penegtahuan, ketrampilan dan kompetensi di tingkat karyawan maupun organisasi. Yang kedua, yang bersangkutan mampu meningkatkan kinerja pasar seperti ekuitas merek, kepuasan konsumen, dan loyalitas. Yang ketiga, yang bersangkutan mampu meningkatkan kinerja keuangan sepertipendapatan dan nilai pasar perusahaan.
Kredo kelima adalah Enabler. Ini adalah platform, sistem, dan infrastruktur yang memungkinkan empat elemen lainnya (enthusiasm, eduknowledge, exposure, dan equity) bisa terwujud. Dalam konteks Telkom, Enabler adalah CorpU yang didalamnya terdapat berbagai sistem, kebijakan, programyang memfasilitasi proses akselerasi pembentukan talenta global.
CorpU seperti kawah candradimuka bagi pemimpin masa depan Telkom. Sebagai center of excellence, CorpU memiliki tiga fungsi utama. Pertama, sebagai center of chiefship yang bisa melahirkan great leader kelas dunia. Kedua, sebagai center of competence yang dapat melahirkan great people. Ketiga, sebagai center of certification yang akan melahirkan SDM yang memiliki global standard.        
Buku ini seakan menunjukkan betapa Telkom sangat menghargai proses kerja ketimbang hasil jangka pendek. Ilustrasinya, ketika Telkom mempromosikan Andy Revara menduduki posisi Band Posisi I di Myanmar. Pada awal 2012, Myanmar membuka tender proyek nation-wide Telecommunications. Boad of Director Telkom sangat berharap memperoleh salah satu  dari dua lisensi operator yang akan ditenderkan itu.
Andy menginjakkan kakinya di Myanmar pada Januari 2013. Posisinya adalah sebagai coordinator satuan tugas the Winning Team Myanmar dan dibebani dua target tugas, pertama mendirikan perusahaan di Myanmar, dan kedua mendapatkan bisnis inlicense.
Beberapa bulan setelah kemudian, ada tender mobile license yang mencakup lisensi untuk seluruh wilayah negara bagi pemenangnya. Telkom ikut dan harus bersaing dengan 90 perusahaan lainnya. Pemenangnya Telanor (Norwegia) dan Oredo (Qatar) yang didukung penuh negaranya. Ini berarti Telkom kalah, karena harga lisensi yang ditawarkan sangat tinggi.
Apakah Telkom menghukum Andy? Tidak. Agustus 2013 andy ditunjuk sebagai country manager Telin Myanmar Branch. Sadar bahwa untuk mendapatkan bisnis unlicensed tidak gampang, Andy melakukan pendekatan emosional dengan mantan pemerintah Myanmar yang pada tahun 1980an pernah ditugaskan ke Indonesia selama enam bulan.
Disini ada yang terpotong dari cerita tersebut. Namun pada pragraf berikut, penulis buku menceritakan sukses Andy memenangkan IT Transkripst. Itulah bisnis pertama mereka. Setelah itu, ada beberapa proyek telekomunikasi lainnya di Myanmar yang dimenangkan Telkom.
Yang menarik adalah, di akhir paragraph yang membahas topic ini, penulis mengutip pendapat Arief Yahya yang saat itu menjabat Direktur Utama Telkom yang “mengatakan bahwa kekakalahan atau kegagalan bukanlah suatu kejahatan. Di saat kekalahan melanda maka yang harus dilakukan adalah menguatkan kembali tekad untuk melanjutkan perjuangan. Memahamikebali bahwa kita adalah orang-orang terpilih.”

Bagaimanapun, buku ini layak dibaca oleh mereka yang mncintai dan yang berkecimpung dalam pembinaan sumber daya manusia. Kepiawaian Rudito dalam memperkuat argumentasi teorities makin memperkuat bobot kualitas buku ini. Karena buku ini ditulis oleh tokoh yang terlibat langsung, buku ini seakan memberikan gambaran utuh tentang sebuah perubahan.