Selasa, 01 September 2015

Transformasi Menjadi Perusahaan Juara

Lingkungan bisnis berubah dengan sangat cepat. Agar tidak tertendang, untuk beradaptasi dengan perubahan itu, perusahaan kini seakan harus dua kali lebih cepat dari lima tahun lalu.
Era digital ditandai dengan adanya jaringan yang tersebar, aliran informasi yang bebas, dan bisnis dengan yang dipercepat. Perkembangan ini menuntut perusahaan secepatnya mengubah cara kerja mereka. Rancangan dan proses bisnis juga harus – bukan hanya infrastrukturnya — juga menjadi tangkas.
Electronic Arts, sebuah publisher game elektronik yang didirikan pada tahun 1982, pernah menjadi pengembang game terkemuka, pemegang lisensi sebuah tim olahraga dan judul film untuk game yang dimainkan di konsol video. Zynga – sebuah perusahaan game mobile – yang berjaya pada tahun 2007 dianggap sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas kerugian Electronic Arts selama Juni 2005 sampai Desember 2012.
Kenapa? Ini karena persoalan perubahan. Zynga mengamati bahwa kenyamanan konsumen dan jaringan sosial adalah fitur yang paling penting dalam sebuah platform game. Pemain lebih suka berperang melawan teman-teman di ponsel daripada duduk di ruang bawah tanah mereka dengan konsol game. “Model deluxe” pengembangan game adalah sesuatu dari masa lalu, dan Zynga percaya bahwa pasar ingin menikmati game online berbasis data.
Contoh lainnya, Zara berhasil karena kemampuannya dalam memanfaatkan pertukaran informasi di seluruh setiap bagian dari rantai pasok Zara — dari pelanggan ke manajer toko, dari manajer toko spesialis dan desainer, dari desainer ke staf produksi , dari pembeli ke subkontraktor, dari manajer gudang ke distributor. Zara juga melatih karyawan untuk menggali komentar dari pelanggan.
Ketika pelanggan memberitahu karyawan toko bahwa mereka lebih suka celana tanpa resleting atau mereka menyukai kerah bulat pada blus mereka, staf penjualan memberikan informasi ini kepada manajer toko yang kemudian melaporkannya ke kantor pusat. Di kantor pusat, tim desainer internal dengan cepat mengembangkan desain baru berdasarkan masukan ini dan mengirimkannya ke pabrik-pabrik Zara di mana mereka diproduksi .
Fenomena tersebut membenarkan argumen bahwa kemampuan beradaptasi menjadi lebih penting daripada kualitas lainnya. Ini karena dalam lingkungan bisnis yang berubah begitu cepat, membuat apa yang akan kita kerjakan seolah tidak relevan. Seringkali kita mendapati bahwa ketika kita ingin mengimplementasikan suatu rencana itu, lingkungan telah berubah lagi.
Dalam Transform. How Leading Companies Are Winning with Disruptive Social Technology, penulisnya, Christopher Morace, mengilustrasikan fenomena tersebut dengan mengambil cerita tentang Alice, tokoh utama dalam karya Lewis Carroll Through the Looking – Glass. Disitu Alice mengalami percepatan yang tiada henti dalam petualangannya. Suatu saat, Alice bertemu dengan Red Queen yang menantangnya berlomba lari di lapangan berbentuk seperti papan catur. Dalam permainan itu, Alce menemui bagaimana dirinya harus berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi hanya untuk tinggal di tempat yang sama.
Frustrasi dan terengah-engah, Alice berkata ke Red Queen, “Di negara kami, jika berlari cepat dalam waktu yang lama, kita akan berada di tempat yang berbeda.” Mendengar itu, Red Queen mengatakan bahwa, “Negara yang lambat. Di sini,seperti yang Anda lihat, Anda harus lari hanya untuk berada di tempat yang sama. Jika Anda ingin mencapai atau berada di tempat lain, Anda harus melakukan (lari) setidaknya dua kali lebih cepat dari yang biasa Anda lakukan.”
Bisnis saat ini juga seperti itu. Para pebisnis menjalankan bisnisnys dua kali lebih cepat tetapi hanya menghasilkan sedikit kemajuan. Ibaratnya kita berlari di treadmill dengan percepatan yang bisa kita buat semakin tinggi namun garis finishnya sulit dipahami. Untungnya, dalam bisnis ada alat yang bisa membantu. Ketika proses bisnis membatasi kecepatannya, perangkat seperti smartphone bisa jadi membuat pekerja lebih produktif. Akan tetapi, sekali lagi, itu berarti Anda mengorbankan istirahat malam, akhir pekan, dan liburan Anda.
Sistem komando dan kontrol yang ketat pernah menjadi gaya manajemen yang dominan dalam perusahaan. Namun dalam lingkungan informasi yang mengalir begitu cepat, pendekatan ini tidak lagi seefektif sebelumnya. Sebaliknya, seperti militer yang mengganti peleton besar dengan pasukan khusus, perusahaan perlu model organisasi adaptif yang responsif terhadap perubahan yang cepat dalam inovasi produk, selera pelanggan , atau lingkungan peraturan.
Ketika perusahaan tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan tempo perubahan yang begitu cepat, mereka bengkok atau patah. Suatu perusahaan ibaratnya sebuah mesin yang menjalankan seperangkat proses yang besar. Begitu perubahan sering terjadi, perusahaan harus merespon perubahan ini dengan lebih cepat. Hal ini tentu saja membutuhkan kelincahan dan kemampuan beradaptasi. Ketika Anda meningkatkan tingkatan dari sebuah proses, pengecualian untuk proses standar juga harus meningkat.
Di masa lalu, perusahaan teknologi membantu mengelola dan mengotomatisasi proses. Namun hari ini, bisa jadi perangkat lunak tersebut tidak lagi sesuai dengan lingkungan yang terus berkembang. Dengan kata lain, kerja suatu system dibatasi oleh masa. Suatu sistem bisa bekerja sampai sesuatu dalam lingkungan berubah. Ketika masalah muncul dengan produk, selera pelanggan berubah, atau pesaing baru muncul, kemampuan perusahaan untuk bereaksi dengan cepat menjadi lebih penting daripada konsistensi.
Dalam lingkungan yang dinamis, mekanisasi adalah pendekatan yang salah. Mekanisasi ibaratnya membangun perusahaan sehingga menjadi sebuah mesin namun tidak ada kemudi. Bila Anda berlomba adu balap, yang Anda butuhkan adalah bergerak cepat. Tetapi setiap kali Anda ingin mengubah arah, kemudi menjadi kritis. Banyak perusahaan telah menghabiskan jutaan dolar untuk teknologi informasi, namun mereka tidak dapat menavigasi lingkungan yang berubah dengan cepat. Jadi disini yang diperlukan adalah inovasi. Inovasi yang mendukung kemampuan perusahaan untuk bereaksi dengan cepat.