Jumat, 09 Oktober 2015

Menjadi Berbeda itu Penting

“Saya direkrut menjadi bagian dari pemerintahan kota Chicago ketika sedang aktif-aktifnya menjadi aktivis tata ruang dan ruang terbuka yang mewakili pihak swasta dan publik,” cerita Astrid Sri Haryati, alumni S2 Jurusan Landscape Architecture University of Colorado, Denver. Astrid memang beda. Bila arsitek lain memilih mendesain rumah atau gedung tinggi, Astrid justru memilih jalur infrastruktur.

Pertimbangannya sederhana. Dana infrastruktur untuk masyarakat luas selalu ada, karena itu selalu saja ada pekerjaan untuk arsitek infrastruktur. Pilihan yang berbeda inilah yang mengantarkan Astrid menjadi principal termuda  di bawah usia 30 tahun di sebuah perusahaan architecture engineering di AS. Itu ula yang membuat Walikota Chicago dan San Fransisco meliriknya. Di Chicago, Astrid berperan sebagai Assistant to the Major for Green Initiatives. Di belakang layar, dia juga membantu beberapa strategi kebijakan Barack Obama semasih menjadi Senator Illinois.

Menjadi berbeda juga dilakukan Whulandary Herman, Puteri Indonesa 2013, saat mengikuti Miss Universe di Moskow. Di datang ke kota itu dua hari menjelang karantina. Karena tradisi yang datang duluan menjemut yang datang belakangan, Whulandary selalu berkesempatan menjemput setiap peserta yang datang. Karena itu, setiap peserta mengenalnya. Dia juga memanggil orang kaya Donald Trump dengan cara yang berbeda. Bila orang lain memanggil bakal calon presiden AS itu dengan panggilan Mr. Trump, Whulandary memanggilnya dengan Mr. Donald. Ini yang kemudian membuat Mr. Trump mengingatnya.

Astrid dan Whulandary adalah contoh dua orang Indonesia yang berhasil membangun karir global. Keduanya memertontonkan sesuatu yang berbeda. Intinya adalah, agar berhasil dalam persaingan seseorang perlu membangun diferensiasi. Berprestasi tinggi dan berenamilan baik, balumlah cukup. Seseorang yang ingin maju dan berhasil harus membuat orang lain ingat dan berkesan. Karena itu temukan cara agar orang lain dapat mengingat Anda melalui kesan yang positif. Dalam bahasa Handi Kurniawan, penulis buku ini, mereka mendapatkan panggung dunia karena pilihan yang berbeda dengan lainnya.

Menurut Handi, berkarir di panggung dunia  pada dasarnya bisa diraih semua orang. Bagaimana caranya, buku ini banyak memberikan banyak tips agar seseorang bisa berkarir di anggung dunia.
Buku ini diawali dengan pernyataan bahwa manusia ada dasarnya diciptakan Tuhan dengan bakat masing-masing yang luar biasa. Setiap talenta yang diberikan Tuhan tidak sia-sia. Persoalannya adalah banyak orang yang belum menyadari talenta itu, banyak orang yang belum mengetahui pengetahuan atau perangkat yang diperlukan untuk mencaai keberhasilan. Banyak juga yang belum benar-benar mengasah talenta agar menjadi tajam dan berguna.    

Buku ini banyak memberikan gambaran keada pembacanya tentang cara berkarir dari baik menjadi hebat, dalam arti mendapat panggung dunia. Buku ini merupakan buku kedua yang ditulis Handi Kurniawan, seseorang yang waktu kecil menganggap bahwa keluar negeri itu hanya mimpi. Kini Handi dengan karir professional telah berkeliling ke banyak negara di berbagai benua.

Seperti halnya yang pertama, buu ini dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama merupakan simple framework yang bisa digunakan sebagai strategi untuk sukses. Bagian kedua bersi tentang profil 14 narasumber yang berhasil di tingkat global. Meski ada kesamaan, namun perbedaannya adalah ada tokoh-tokoh yang ditampilkan. Berbeda dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan ada buku pertama, Go Global,  yang menampilkan tokoh-tokoh yang relative telah dikenal, pada buku kedua ini, Handi menampilkan beberapa tokoh-tokoh yang banyak dikenal melalui publikasi di media. Namun karena interaksi penulis dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan membuat enggel yang ingin ditampilkan menjadi berbeda. 

Bagian pertama buku ini tentang MAPLE sebagai jalan menuju kesuksesan di tingkat global menunjukkan ketekunan penulis dalam mengkonstruksikan pengalamannya ke dalam lima huruf yang sekaligus mencerminkan area focus. Yang menarik adalah, penulis yang memiliki latar belakang akuntan memiliki sudut pandang sebagai seorang konstruktivis sebagaimana yang sering saya jumpai pada orang-orang yang memiliki latar belakang ilmu social lainnya.

                         Judul Buku     : Global Career: Boost Your Career to the World Stage
                         Penulis            : Handi Kurniawan
                         Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama, 2015
                         Tebal Buku     : 380 halaman, termasuk cover


Hal ini terlihat pada konstruksi MAPLE yang oleh penulisnya masingmasing disusun mewakili dua kata. Ini mengisyaratkan bahwa pada setiap orang sebaiknya tidak terpaku ada satu cara untuk sukses. “Selalu ada jalan dan ilihan dalam hidu,” kata Handi. M misalnya melambangkan mindset dan mental. Mindset berarti pola pikir yang dalam konteks ini yang dimaksud adalah pola pikir positif. “Kalau Anda berpikir besar, Anda akan menjadi besar. Kalau Anda berpikir kecil, Anda akan menjadi kecil.”

Menurut Handi, setiap keberhasilan diawali dari mindset atau pola pikir. Talent berkelas dunia yang sangat sukses memiliki pola pikir yang berbeda dari orang rata-rata. Namun hal itu tidak berarti bahwa mereka lebih pintar, lebih jenius atau lebih beruntung. Mereka adalah orang yang mampu mengembangkan pola pikir global, memiliki kekuatan untuk memilih, menyingkirkan pikiran yang membatasi diri, percaya pada kekuatan visual dan memiliki keyakinan mampu mewujudkan mimpinya. Sedangkan mental berarti kemampuan untuk mengendalikan emosi. Sikap ini mempunyai dimensi tidak takut jatuh, tidak bermain dengan perasaan, bertahan meski di bawah tekanan, dan tidak menyerah sebelum berhasil.

Ilustrasi yang disampaikan penulis ketika membedah dimensi ini memang disajikan secara menarik. Sayangnya, tidak dielaborasi terlalu mendalam sehingga muncul kesan saya bahwa prosesnya begitu mulus tanpa liku perjuangan. Saya membayangkan bahwa untuk masuk ke lingkungan global – terutama bagi mereka yang bekerja di sebuah perusahaan – prosesnya tentu berliku. Dalam konteks fenomenologi, memiliki karakter tidak takut jatuh, dan sebagainya membutuhkan temapaan dan pengalaman. Disilah kekurangan buku ini. Menurut saya, buku ini menjadi jauh lebih bagus bila penulis juga mampu memberikan gambaran lebih mendalam tentang latar belakang tokoh-tokoh yang diilihnya sebagai sumber.  

Dalam kaitan dengan berkarir di tingkat global misalnya, nulis memang membahas tentang kemauan beradatasi sebagai syarat bagi orang yang ingin berhasil. Sebab bagaimanaun bermain di tingkat global berarti banyak berinteraksi dengan orangorang dari bergbagai budaya. Realitasnya, orang sekelas mantan bos Hewlett Packard Carly Fiorina, almarhum Steve Jobs - mantan bos Apple, dan Vikram Pandit, mantan eksekutif kepala Citibank pernah gagal.

Vikram Pandit diangkat menduduki  jabatan tertinggi di Citibank karena hard skill-nya. Dia memang berhasil membuat meningkatkan pendapatan Citibank, tetapi dia diminta untuk meninggalkan karena dia memiliki masalah dengan anggota dewan direksi yang lain dan para pemangku kepentingan Citibank.

Carly Fiorina dituduh membalikkan goodwill insinyur Amerika dan mengasingkan pelanggan Hewlett Packard melalui pernyataannya yang menekankan bahwa ekonomi global itu berarti tidak ada satu pun pihak yang berhak mengklaim sesuatu yang diberikan Tuhan untuk bekerja kembali. Karena itu, orang Amerika Serikat harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan rekan-rekannya di negara berkembang. Pernyataan itu dianggap melecehkan insinyur Amerika yang selama ini menganggap bahwa – karena keahlian dan ketrampilan yang lebih tinggi - merekalah  yang paling berhak mendapatkan pekerjaan, terutama di AS.

Tak ada gading yang tak retak. Meski terdaat beberaa kekurangan, namun buku ini setidaknya
membuat wawasan saya tentang berkarir di tingkat global menjadi lebih terbuka. Karena itu, buku ini memang cocok bagi mereka yang selama ini merasa “mustahil” berada di entas dunia. Karena pada dasarnya, seperti dikatakan penulis, setiap orang punya kemamuan untuk itu. Tinggal bagaimana Anda mengenali dan menempatkan kemampuan Anda itu untuk lingkungan yang membutuhkannya dengan tepat.