Rabu, 21 Oktober 2015

Sampai Kapan Indonesia Menjadi Pasar Rumahsakit Asing?

Source: “Overview of the development of Malaysia Healthcare towards Medical Tourism”, Dr Mary Wong Lai Lin, CEO of Malaysia Healthcare Tourism Council, 2012

Industri pariwisata medis dunia kini berkembang pesat, tak terkecuali Asia yang kini terus menempati urutan teratas tujuan wisata medis internasional. Saat ini tercatat sekitar 50 negara di semua benua yang serius menggarap wisata ini dan beberapa negara Asia berhasil memimpin pasar. 
Tidak seperti turis umum yang membutuhkan perhatian masalah medis, wisatawan medis adalah orang-orang yang memang dengan sengaja melintasi batas wilayah internasional untuk tujuan eksklusif, yakni memperoleh pelayanan medis. Tren ini makin menguat karena meningkatnya biaya perawatan kesehatan di negara-negara maju, biaya pelatihan medis lintas negara dan makin luas dan mudahnya jangkauan transportasi udara.

Peringkat pertama pariwisata medis tertinggi di Asia adalah India, Singapura dan Thailand. Ketiga negara, yang bila dikombinasikan menguasai hampir sekitar 90% dari pangsa pasar pariwisata medis di Asia pada tahun 2008. Kini industri wisata di negara-negara itu terus berinvestasi di bidang infrastruktur perawatan kesehatan mereka untuk memenuhi meningkatnya permintaan perawatan medis yang terakreditasi melalui fasilitas kelas satu.

Industri medical destinations Asia terus menawarkan prosedur medis yang lebih baik dan lebih peduli daripada kebanyakan medical destinations lainnya. Makin banyak rumah sakit di Asia yang mengukir reputasi yang luar biasa sehingga pariwisata medis ini kian berkembang menjadi pemintal uang yang utama.

Dalam laporannya yang berjudul “Asia Medical Tourism Market and Forecast to 2020” iGATE
RESEARCH, pasar pariwisata medis Asia diperkirakan tumbuh dua digit selama periode 2015 hingga 2020. Thailand memegang pangsa pasar tertinggi di pasar pariwisata medis Asia, diikuti oleh India dan Singapura. Korea Selatan berdiri di posisi keempat pada tahun 2014 dan kemungkinan akan lebih dari dua kali lipat pangsa pasar pada tahun 2020, sementara Malaysia berada di posisi terakhir dengan pangsa XX% r pada tahun 2014.

Industri pariwisata media Thailand  paling cepat berkembang. Thailand menawarkan pariwisata medis dengan solusi end-to-end  terintegrasi dengan perjalanan udara, akomodasi hotel untuk perjalanan keluarga dan bandara. Pemerintah Thailand membentuk instansi khusus untuk membantu memasarkan keahlian mereka secara global

Dari tahun ke tahun, kunjungan wisatawan medis ke Thailand meningkat dari hampir 400 ribu pasien asing pada tahun 2007, menjadi hampir 700 ribu pasien pada tahun 2012 dengan nilai yang  mengejutkan, $ 3,8 miliar. Angka itu belanja kesehatan langsung yang dampak ekonomi keseluruhannya bisa mencapai tiga kali jumlah itu. Wisatawan-wisatawan itu berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Timur Tengah, Inggris, Amerika Serikat dan Australia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Kapan Indonesia mengembangkannya? Apakah menunggu sampai mereka jauh meninggalkan Indonesia? Padahal sejatinya perkembangan itu peluang bagi Indonesia. Bayangkan, saat ini pemerintah negara-negara seperti Singapura dan Thailand serius menggarap wisata ini. Pemerintah India telah menghapus banyak pembatasan visa dan memperkenalkan skema visa-on-arrival bagi wisatawan medis dari negara-negara tertentu.

Fasilitas ini memungkinkan warga negara asing untuk tinggal di India selama 30 hari untuk alasan medis dan bahkan bisa mendapatkan visa hingga 1 tahun tergantung pada kebutuhan pengobatan. Agen-agen khusus perjalanan medis juga bermunculan di seluruh dunia, dan rumah sakit Asia atas secara rutin memiliki meja khusus “internasional” dan layanan untuk membantu pasien luar negeri mulai dari janji dokter hingga akomodasi.

Menurut perkiraan Bank Dunia dari 2012 pengeluaran orang Indonesia untuk kesehatan baik publik maupun swasta masih sangat rendah, yakni hanya 2,7% dari total PDB. Bandingkan dengan rata-rata ASEAN yang sebesar 3,9% (masih di bawah China yang mencapai 5,2% dan rata-rata negara OECD yang 9,5%). Sebaliknya Malaysia, Thailand dan Filipina menghabiskan sekitar 4% - dan meningkatnya - dari PDB.

Namun angka PDB tersebut tidak cukup mengungkapkan destinasi warga kaya di negara-negara tersebut saat mereka membutuhkan perawatan dan layanan kesehatan. Yang pasti, Thailand, Malaysia dan Singapura banyak diuntungkan oleh 'turis kesehatan' Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir banyak publikasi tentang makin bertumbuhnya kelas menengah Indonesia yang sudah tentu menuntut pelayanan publik yang lebih baik sebagai imbalan atas pajak yang telah mereka bayar.

Sejak 2014 lalu, Indonesia memperkenalkan skema awal Universal Healthcare yang disebut SJSN Sistem Jaminan Sosial Nasional), sebuah sistem jaminan sosial yang ditetapkan Undang-Undang nomor 40 tahun 2004. Sistem ini dijalankan oleh BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan), sebuah Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama untuk Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan Badan Usaha lainnya ataupun rakyat biasa.

Itu belum memberikan jaminan warga negara Indonesia. Tahun 2013, Edelmen Indinesia mengilustrasikan bahwa jika terbang ke Penang, Malaysia, Anda akan melihat banyak penerbangan yang datang dari Sumatera Indonesia. Data 2011 memberikan gambaran bahwa lebih dari 330.000 orang Indonesia yang mencari pengobatan di Malaysia. Mereka  menghabiskan lebih dari $ 150 juta untuk biaya medis langsung. Menggunakan asumsi bahwa mereka juga melibatkan perjalanan keluarga; belanja akomodasi; pasca perawatan di negara penyembuhan dan sebagainya, total pengeluaran medis mereka bisa bernilai hampir $ 1 miliar pada tahun 2013 dan angka ini tumbuh sekitar 30% per tahun.

Daya tarik orang pergi ke luar negeri untuk perawatan kesehatan bukan hanya sekadar imbalan nilai yang didapat atas uang yang mereka bayarkan, bagi masyarakat Indonesia akses terhadap layanan dan perawatan kesehatan yang berkualitas yang tidak tersedia di “rumah”nya sendiri juga menjadi pertimbangan yang sangat penting. Pemerintah Indonesia juga pernah secara resmi melarang orang Indonesia pergi ke luar negeri untuk perawatan kesehatan. Namun laranagn itu tidak bertaring ketika pejabat dan beberaa anggota  pejabat serta orang kaya Indonesia melakukannya.

Sekarang mereka membidik pasien Indonesia. Banyak orang Indonesia yang sekadar mengecek kesehatan atau berobat ke rumah sakit yang ada di Malaysia dan Singapura. Menurut kabar Singapura, The Straits Times, jumlah pasien asing mencari perawatan medis di Singapura terus meningkat setelah sempat memudar pada tahun 2009 akibat krisis keuangan global. 

Menurut statistik dari Departemen Kesehatan Singapura dan Singapore Tourism Board, pada total 35.959 wisatawan medis mengunjungi Singapura dan menghabiskan hampir S $ 1 miliar atau US $ 806 juta, naik dibandingkan dua tahun sebelumnya. Indonesia menyumbang 47,2 persen dari wisatawan ini, dengan Malaysia kedua jauh sebesar 11,5 persen, diikuti oleh Bangladesh (lima persen), Vietnam (4,1 persen) dan warga negara Myanmar (2,7 persen).

Warga Indonesia yang berobat ke Taiwan juga cukup besar. Dijelaskan Jacob ST Pang (Feng), Deputy Executive Manager International Medical Center Chang Gung Memorial Hospital, “Orang Indonesia yang datang ke Taiwan untuk berobat cukup besar. Contohnya, di Chang Gung Memorial Hospital, sebagai rumah sakit swasta terbesar di Taiwan, jumlah orang Indonesia yang datang berobat ke kami mencapai 1.100 orang per tahunnya. Itu artinya, sekitar 6% dari total pasien mancanegara.”

Begitu menjanjikannya pasar Indonesia, membuat Chang Gung Memorial Hospital tak tinggal diam. Pada pekan ketiga Oktober ini, Chang Gung Memorial Hospital memutuskan untuk berpartisipasi pada program “Taiwan Health Industry Trade Meeting” yang digelar pemerintah Taiwan lewat Taiwan Taiwan External Trade Development Council (TAITRA).

Melalui program yang digelar selama dua hari itu, 21-22 Oktober 2015, Chang Gung Memorial Hospital berkesempatan memperkenalkan rumah sakit mereka kepada market Indonesia. “Kami juga mengedukasi dan memperkenalkan Chang Gung Memorial Hospital lewat website. Bahkan, dalam waktu dekat, kami akan menggelar Ambassador Program, yakni dengan mengundang dokter-dokter Indonesia untuk berkunjung ke rumah sakit kami untuk diberikan training selama satu bulan,” lanjut Jacob, yang menyebutkan selama ini strategi Word of Mouth (WOM) masih menjadi strategi yagn efektif dalam mendatangkan orang Indonesia ke Taiwan.

Sejumlah added value ditawarkan Chang Gung Memorial Hospital demi bersaing dengan rumah sakit-rumah sakit yang ada di Malaysia dan Singapura. Pertama, Chang Gung Memorial Hospital memiliki tujuh pusat kesehatan dan 29 pusat spesialis. Kedua, service excellence senantiasa ditawarkan kepada pasien maupun keluarga pasien. Ketiga, Chang Gung Memorial Hospital memiliki letak yang strategis, yakni dekat dengan bandara. Keempat, harga yang ditawarkan pun sangat resonable jika dibandingkan dengan Malaysia maupun Singapura. Kelima, Chang Gung Memorial Hospital memiliki Pusat Terapi Proton, sebagai salah satu pusat terapi radiasi yang terbesar dan paling maju di Asia. Pusat Terapi Proton juga memiliki fasilitas yang mampu mengobati sekitar 1.800 kasus baru per tahun. “Pusat Terapi Proton akan kami luncurkan pada 10 November 2015,” tambahnya.

Added value itulah yang juga dirasakan oleh dua orang pasien Indonesia yang pernah berobat di Chang Gung Memorial Hospital. “Saya memiliki penyakit Parry-Romberg Syndrome, yang membuat saya harus melakukan operasi plastik. Dibandingkan dengan rumah sakit di Malaysia dan Singapura, di mana saya pernah berobat, dengan kualitas dan penanganan yang sama, harga yang ditawarkan Chang Gung Memorial Hospital bisa lebih murah 30%. Bahkan, penjelasan dari para dokternya jauh lebih rinci,” cerita Leonard Alamveta, salah seorang pasien Indonesia yang berobat di Chang Gung Memorial Hospital.


Senada dengan Leonard, Goh Eng Ho yang terpaksa menjalani oeprasi angkat ginjal juga merasakan pengalaman yang berkesan di Chang Gung Memorial Hospital. “Sebelumnya, saya berobat di rumah sakit Malaysia dan Singapura. Saya divonis sakit kanker oleh mereka. Tetapi, karena saran dari teman, saya pergi ke Taiwan, ke Chang Gung Memorial Hospital untuk berobat. Rupanya, saya tidak terkena kanger. Melainkan, ginjal saya rusak karena kebiasaan saya meminum obat-obatan Cina. Dan, saya pun melakukan operasi angkat ginjal di sana, dengan biaya yang jauh lebih murah dibanding di Malaysia maupun Singapura,” tutur Goh Eng Ho. Jadi?