Minggu, 22 November 2015

Bagaimana GoJek Mengubah Cara Berbelanja Masyarakat Indonesia?


Minggu sore, tujuh remaja putra dan putri dengan seragam atasan jeans warna gelap dan atasan biru dengan atribut Indomaret ndorong empat troly penuh dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga sehari-hari keluar masuk gang di kawasan Rengas, Rempoa, Ciputat Timur. Pemandangan itu berlangsung hampir setiap akhir pecan sejak dua bulan terakhir.
Di sebuah gang, sekelompok ibu membeli produk-produk yang sebagian besar dijual dengan harga promo sehingga harganya lebih murah dibanding penjualan biasa, termasuk yang dijual di warung-warung di kawasan perkampungan tersebut. Para tenaga penjualan tersebut juga mempromosi cara belanja mudah dengan telepon ke Indomaret terdekat, bahkan ada penawaran belanja melalui aplikasi dengan promosi gula seberat satu kilogram gratis untuk belanja senilai Rp 200 ribu.  
Hari-hari ini peritel tradisional pedagang warung – disadari atau tidak – harus bersilat menghadapi banyak tekanan. Tekanan pertama, makin bertumbuhnya ritek modern. Keduanya, maraknya bisnis yang menggunakan alikasi seerti Gojek dan sebagainya. Saat ini perusahaan memperkuat layanan GoMart yang menyediakan layanan jual beli online memanfaatkan para pengojek untuk membelanjakan barang kebutuhan konsumen di toko ritel.
Konsekuensinya adalah bila Anda dulu mendadak memerlukan katakanlah gula, Anda tinggal telpon ke warung tetangga, persoalan beres. Sekarang, model itu memiliki pesaing ya GoMart tadi. Jaminan kecepatannya bisa diprediksi, dan Anda juga bisa “titip” belanja produk lainnya. Sementara bila Anda mengandalkan warung tetangga, Anda mungkin mendapat jawaban yang ngantar tidak ada atau alasan lainnya sehingga Anda harus menunggu atau kalau tidak sabar Anda beranjak mengambil sendiri ke warung tetangga itu.
Ketiga, saat ini peritel modern seperti Indomart atau Alfamart menyediakan aplikasi layanan seperti GoJek tadi. Jadi Anda juga bisa pesan barang kebutuhan Anda tanpa perlu beranjak dari rumah Anda. Bahkan bila Anda berbelanja dengan menggunakan alikasi tersebut, berbagai tawaran menarik seerti diskon khusus bisa Anda dapatkan.      
Kini perusahaan menghabiskan banyak uang, waktu dan penelitian untuk mengembangkan apa yang mereka yakini bisa menjadi keunggulan bersaing, yakni pengalaman terbaik bagi pelanggan  produk dan layanan mereka, dan konsumen selalu memiliki kata akhir yang bagus bagi perusahaan  baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam mencari keunggulan bersaing, perusahaan kini mulai melihat proses yang yang ada di balik rantai nilai dank e dalam rantai nilai dari pemasok dan distributor, serta akhir pada pelanggannya. Ketika berjuang agar lebih kuat dalam bersaing, jika sebelumnya perusahaan bermitra dengan pemasok dan distributor, kini mereka focus pada penyampaian nilai langsung ke konsumen.
Dewasa ini banyak persaingan tidak lagi antara pesaing individual. Persaingan lebih dirasakan anara sistem penyerahan nilai yang diciptakan oleh para pesaing, seperti GoMart yang bias dianggap sebagai pendatang baru dalam bisnis retail (online). Mereka berusaha untuk membangun system penyerahan nilai lebih baik agar bias menguasai pangsa pasar dan memperoleh laba lebih besar.
Dewasa ini para pemain di binis retail juga berusaha memperluas pasar. Mereka berusaha menarik pelanggan baru, yakni pembelanja yang enggan keluar rumah. Mereka juga memperkenalkan cara belanja baru baik melalui aplikasi maupun tenaga penjual yang keluar masuk perkampungan warga.  
Kepedulian tentang pengalaman positif ini karena muncul anggapan betapa berharganya tanggapan konsumen ini makin memerkuat hipotesis akan pentingnya mengembangkan produk-produk seperti aplikasi mobile, terutama bagi perusahaan yang mempertimbangkan soal waktu yang dihabiskan konsumen terkait dengan interaksinya dengan perangkat yang terhubung mereka setiap hari. Beberapa penelitian menunjukkan waktu yang dihabiskan orang untuk berinteraksi degan alat komunikasi sekarang melebihi delaan jam sehari.

Kenapa itu muncul gagasan seperti itu? Pertama, pelanggan sekarang bisa mengatur atau mengendalikan produsen, termasuk peritelnya. Pemikiran tersebut semakin kuat terutama dalam situasi eknomi yang kurang menentu. Ini bisa dilihat dari perubahan yang terjadi selama beberaa bulan lalu saat nilai dollar naik. Saat itu produsen dengan ekstra hati-hati menaikan harganya. Kemasan kethengan yang samai akhir tahun lalu mulai ditinggalkan, kini marak kembali.