Minggu, 22 November 2015

Kemana Arah Trend Retail Tradisonal ke Depan?



Tantangan yang dihadapi peritel tradisional kini makin berat, termasuk paska maraknya aplikasi dalam alat teknologi komunikasi dan sebagainya. Lalu bagaimana peritel tradisonal menghadapi tantangan itu ?

Perusahaan seperti GoJek, Uber, Grub Hub, dan Amazon telah mengubah secara permanen cara konsumen berpikir tentang layanan dan bagaimana mereka melakukan aktivitas kehidupannya sehari-hari. Mereka tidak lagi mau menunggu taksi di sudut tanpa tahu kapan itu akan tiba atau mempercayai restoran yang menjanjikan pengiriman dalam waktu 45 menit. Sebaliknya, konsumen ingin sebanyak mungkin informasi di ujung jari mereka dan sesegera mungkin.
Ini membuat bukan hal yang luar biasa bagi pengecer bergantung pada mitra rantai suplai mereka dan menjadikan sistem catatan persediaan mereka semakin mudah. Pengecer mengirim data mereka ke penyedia logistik pihak ketiga atau menghubungkan sistem POS [point-of-sale] mereka  untuk memberikan informasi yang up-to-date tentang barang-barang yang tersedia di rak-rak took sesegera mungkin, sehingga memuaskan konsumen yang membutuhkan akses langsung ke informasi. Dengan demikian, pengecer harus mampu memberikan pengalaman intuitif di toko dan online. Bila tidak, mereka akan kehilangan loyalitas pelanggannya.
Kedua, persaingan kini semakin marak. Perusahaan berlomba memberika layanan secepatnya dengan ketepatan yang tinggi. Gagasan ini makin menunjukkan pengaruhi manakala melihat fenomena yang muncul belakangan ini. Produsen sekarang berusaha untuk berhubungan langsung dengan konsumennya melalui situs bahkan situs mobile atau applikasi. Ketika konsumen kebanjiran  berbagai jenis saluran, perusahaan berusaha keras memastikan bahwa strategi itu berjalan dan memastikan bahwa mereka terlibat (engage) dengan pelanggannya.
2011 silam, Kalbe Farma meluncurkan Kalbestore.com sebagai saluran penjualan via website. Setahun setelah peluncuran Kalbe e-Store berkembang dan tumbuh sekitar 30% per bulan atau rata – rata 200 ribu unique visitor dari berbagai kota di Indonesia yang telah mengakses, dan kurang dari 5% melakukan transaksi. Namun jumlah visitor yang besar tidak lantas menaikkan tingkat penjualan, strategi lain pun diciptakan Kalbe lewat jasa pengiriman produk Kalbe yang terintegrasi dengan website, Kalbe Farma kian gencar melakukan kampanye dan beragam inovasi dengan fokus sales dan awareness.
Di tingkat retailer, di Jakarta sekarang ada jasa layanan antar grocery, HappyFresh. Jika pada awalnya layanan ini hanya dapat diakses oleh mereka yang mendapatkan undangan, kini layanan HappyFresh dapat diakses oleh semua orang. Di Jakarta, area yang pertama kali dicakup adalah wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. HappyFresh sendiri berniat untuk memperluas cakupan layanannya ke wilayah Jakarta Barat dan Tangerang pada akhir pekan ini.
Layanan yang diberikan oleh Happy Fresh memungkinkan Anda untuk memesan bahan makanan melalui aplikasi mobile dan menunggu hingga pesanan Anda tersebut diantarkan ke rumah Anda tanpa perlu mengantri di kasir atau terjebak kemacetan. Pesanan Anda akan diantarakan dari toko terdekat yang tersedia di lokasi Anda. Waktu yang diperlukan hingga pesanan tersebut sampai di depan pintu Anda diharapkan hanya satu jam saja. Bahkan Indomart dan Alfamart kini memanfaatkan aplikasi untuk melayani pembeli yang malas keluar rumah, bahkan mereka menawarkan diskon tambahan untuk beberapa iten tertentu bila melakukan embelian melalui aplikasi.
Social commerce adalah topik tentang tombol panas lainnya. Dalam beberapa waktu belakangan jejaring social seperti Facebook, Pinterest dan Twitter menambah dan mengubah layanannya yang memudahkan pengguna mereka untuk melakukan transaksi produk atau merek favorit mereka. Bulan lalu, Twitter memperluas layanannya dengan menawarkan fitur “Buy Now” yang memungkinkan konsumen membeli produk atau barang atau jasa digital melalui jejaring media sosial. "Enam puluh persen pengguna kami menggunakannya untuk mengajukan pertanyaan dan mendapatkan informasi dari merek favorit mereka. Bagi kami, ini adalah salah satu alat [buy button] bagi banyak merek yang bisa digunakan sebagai strategi menciptakan keterlibatan," kata Philippe Dauman Jr., Director of Commerce Twitter.
Pinterest juga mencoba sebuah tombol beli sendiri dengan menambah fitur layanan 'Buyable Pins' ke jaringannya. Fitur ini memberikan pengguna kemampuan untuk membeli barang-barang dari aplikasi mobile Pinterest secara langsung tanpa mengarahkannya ke website merek. Klaimnya, ada  sekitar 60 juta 'Buyable Pins' pada jaringan Pinterest. "Ketika Anda harus menemui pelanggan di mana mereka berada," kata Michael Yamartino, head of commerce for Pinterest. "Kami mengatakan kepada mereka, pelanggan Anda ada di Pinterest, sehingga memberi kemampuan kepada mereka untuk membeli di Pinterest."
Dalam situasi seperti itu lalu bagaimana peritel tradisional bisa besaing ? Seperti diketahui barang yang dijual di peritel tradisional hampir sama seperti barang-barang yang dijual di peritel modern dengan variasi jenis yang beragam. Tetapi peritel tradisonal cenderung menjual barang-barang lokal saja dan jarang ditemui barang impor. Kalaupun ada kebanyakan produk dari China yang murah harganya.
Karena barang yang dijual dalam peritel tradisional cenderung sama dengan peritel modern, barang yang dijual juga mempunyai kualitas yang relatif sama terjaminnya dengan barang-barang di peritel modern. Namun, secara kuantitas, peritel tradisional umumnya mempunyai persediaan barang yang jumlahnya sedikit sesuai dengan modal yang dimiliki pemilik atau permintaan dari konsumen. Dari segi harga, peritel tradisional tidak memiliki label harga yang pasti karena harga disesuaikan dengan besarnya keuntungan yang diinginkan oleh setiap pemilik usaha sendirisendiri. Selain itu, harga pasar selalu berubah-ubah, sehingga bila menggunakan label harga lebih repot karena harus mengganti-ganti label harga sesuai dengan perubahan harga yang ada di pasar.
Salah satu kekuatan peritel tradisional adalah kemamuannya dalam melayani pembelian dalam volume kecil atau kethengan. Karena itu bila ingin meningkatkan pendapatannya, peritel tradisional harus terus meningkatkan jumlah pelanggannya. Ini berarti mereka harus memperluas jangkauan pasarnya.  Persoalannya adalah, ketika dia berusaha memerluas jangkauan pasarnya, dia akan berhadapan dengan peritel lain yang juga tetangganya.
Alternatif lainnya atau kedua adalah dengan membangun komunitas caranya adalah dengan menciptakan warung atau kedai jualannya sebagai temat untuk mengobrol dan sebagainya. Beberapa waktu lalu, perusahaan rokok Sampoerna mendorong peritel tradisional membangun ikatan emosional melalui komunitas tersebut. Karena itu, beberapa gerai tradisional dilengkai dengan meja kursi yang memungkinkan orang untuk ngobrol dan sebagaina termasuk menonton acara TV, game bagai remaja atau sarana komunikasi seperti akses internet dan sebagainya. Dengan dengan demikian, pelanggan semakin didorong untuk membeli lebih beragam atau lebih banyak.

Ketiga adalah dengan membangun ataumeningkatkan keakraban dengan pelanggan. Salah satu keunggulan peritel tradisonal adalah bahwa mereka telah saling mengenal dengan pelanggannya. Ini karena pelanggan peritel tradisional umumnya adalah tetangga-tentangganya. Disini peritel tradisional bisa menyediakan nilai berupa layanan pada segmen pasar yang tepat. Misalnya, seringkali rumah tangga mengalami kesulitan memasang kembali regulator saat penggantian tabung gas.  Dalam situasi seperti ini, ritel tradisional bisa membantu atau memberikan bantuan memasang regulator gas tersebut.