Minggu, 15 November 2015

Pelajaran tentang Personal Branding dari Donald Trump


Anda mungkin tidak menyukai Donald Trump. Namun, dari konteks public relations, Trump adalah sebuah fenomena. Kenapa?
Betul, Donald Trump itu seorang pengganggu dan pembual, tapi dia sekaligus juga seorang penakluk. Mungkin, seperti yang banyak dilakukan para politisi, dia melakukan yang dia kerjakan sekarang konteksnya adalah pencitraan untuk maju ke audisi calon presiden AS dari Partai Republik 11 bulan dari sekarang di Cleveland. “Apakah Anda membencinya atau sedikit tidak menyukainya, satu hal yang harus diakui, Donald Trump adalah fenomena,” tulis Fraser Seitel, contributor pada Forbes Online.
Dalam tradisi selebriti yang “kehebatan” seseorang diukur dengan Skor Q, Trump memang memiliki energi massa dengan perangkat public relations yang tepat bagi calon pemilih AS. Cukup dimaklumi, public AS kini tertekan oleh kondisi ekonomi yang tidak menentu dan pergeseran beragam budaya serta kejengkelan public terhadap para politisi yang kini (di AS) lebih sibuk memikirkan cara bagaimana dia bisa terpilih kembali. Inilah sebabnya, mengapa posisitioning Trump sejauh ini telah bekerja dengan baik.
Q Score adalah pengukuran tingkat keakraban dan daya tarik merek, selebriti, perusahaan, atau produk hiburan (misalnya, acara televisi) yang digunakan di Amerika Serikat. Semakin tinggi Q Score menunjukkan bahwa item atau orang tersebut lebih dihormati diantara anggota kelompok yang akrab dengan mereka. Q Skor dan varian lainnya terutama digunakan oleh iklan, pemasaran, media, dan industri hubungan masyarakat.
Ada beberapa alasan yang membuat Trump “hebat”. Pertama, Trump adalah seorang selebriti yang bonafide. Dalam budaya selebriti, semua orang mengetahui siapa Trump. Dia menjadi bintang TV, bahan gossip selama bertahun-tahun. Itu sebabnya bila calon kandidat lainya seperti Jeb Bush, et. al. menghabiskan jutaan dolar untuk iklan, Trump hanya menghabiskan dolar yang jauh lebih sedikit. Trump tidak perlu beriklan; dia mendapatkan publisitas gratis yang sebagian besar disebabkan posisinya sebagai selebriti yang kehidupannya telah menjadi sorotan media.
Kedua, Trump berkata apa adanya. Dia tidak berbicara berbicara dengan bahasa politik. Dia berbicara langsung dengan bahasa yang dimengerti orang mengerti. Anda mungkin tidak setuju, tapi Anda pasti tahu dari mana dia berasal. Tidak demikian halnya dengan Jeb, yang mendapat sorotan buruk tentang perang Irak. Atau Hillary, yang masih belum bisa keluar dari cara-nya sendiri akibat kontroversi email dan kegagalan dia saat menjadi menteri luar negeri. 
Banyak lagi “kehebatan” yang ditulis Seitel. Intinya, Trump memang seperti itu dan orang memakluminya karena posisinya sebagai selebriti. Apakah dia berhasil dalam konvensi calon presiden dari partai Republik nanti, itu ditentukan oleh bagaimana dia konsisten beradaptasi dengan perubahan selama 11 bulan ke depan. Intinya adalah bahwa membangun citra atau reputasi seseorang siap menjadi presiden tidak bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu. Bahkan butuh kegiatan yang berkeseinambungan.
Yang menarik adalah selama perjalanan itu, tak tertutup kemungkinan seseorang, perusahaan atau merek mengalami beberapa sandungan. Disinilah pentingnya perencanaan strategis, suatu rencana jangka panjang yang biasanya dibuat oleh manajemen level atas. Perencanaan ini memuat keputusan terkait dengan tujuan utama organisasi dan kebijakan dalam mengimplementasikannya. Dalm konteks ini, pengamatan terhadap situasi lingkungan menjadi alat utama untuk mengidenifikasi dan memprioritaskan isu-isu strategis yang dijadikan rujukan dalam membuat perencanaan sebuah organisasi.
Anda mungkin juga sering melihat atau membaca berita tentang sepak terjang Paris Hilton, Martha Stewart dan sebagainya. Orang boleh menyukai atau membenci mereka. Namun yang pasti, kekuatan dan keberhasilan merek pribadi mereka “tidak bisa dibantah.” Anda juga sering melihat seorang polisi wanita, pedagang makanan, dan sebagainya yang menjadi perbincangan di media sosial ?
Fenomena itu seakan memberitahu pembaca bahwa personal branding tidak hanya untuk orang kaya atau terkenal. Dalam dunia digital saat ini, Anda juga dapat melakukan sendiri personal branding. Kuncinya adalah Anda bisa membedakan diri dari orang lain, terutama yang Anda angga sebagai “pesaing”, meningkatkan visibilitas dan kredibilitas Anda di pasar yang ingin Anda tuju, dan menempati posisi yang unik dan kompetitif dalam pikiran target market potensial Anda.
Sama seperti perusahaan dan produk branding, pernyataan personal branding membutuhkan ringkasan proposisi unik (USP) yang menawarkan manfaat atau nilai unik Anda. Pernyataan branding Anda membedakan Anda dari pesaing dan memberikan alasan kuat kenapa mereka mereka harus memilih Anda.
Sebagai aturan umum, pernyataan singkat ini harus berkomunikasi: pertama, apa yang menjadi kekhususan Anda (siapa Anda), apa yang bisa Anda lakukan, dan bagaimana Anda melakukannya dengan lebih baik atau berbeda dengan yang lain (layanan Anda), kepada siapa Anda melakukannya (target audience Anda), dan atribut apa saja yang melekat pada diri Anda (keterampilan paling penting yang Anda miliki).

Sementara pernyataan personal branding Anda bertujuan untuk mempengaruhi persepsi calon klien atau pemilih dengan menekankan pada kekuatan Anda, namun Anda harus berhati-hatilah. Sebuah personal brand (merek pribadi) harus didasarkan pada identitas Anda yang nyata. Konsekuensinya, Anda harus menunjukkan siapa Anda dan apa yang dapat Anda lakukan, tidak hanya sebuah citra dari luar diri Anda.