Selasa, 29 Desember 2015

Ini Dia Trend Corporate Social Responsibility 2016


Decade terakhir bisa jadi adalah era keemasan Corporate Social Responsibility. Betapa tidak, selama dekade terakhir, konsumen semakin khawatir pada ancaman lingkungan. Ini menyebabkan pergeseran besar dalam belanja konsumen dan arah investasi perusahaan yang mendorong kehidupan lebih baik. Bisnis yang berkelanjutan - dan mereka yang baru saja mengklaim berkelanjutan - telah mampu mendatangkan keuntungan sehingga menarik ribuan pemain baru ke pasar.
Fenomena ini akan diuji oleh lingkungan, bisnis mana yang paling berkomitmen terhadap bisnis berkelanjutan. Jika Anda bekerja di sebuah departemen CSR maka sekarang adalah saat yang tepat  untuk mendorong kinerja keberlanjutan yang lebih tinggi melalui operasi Anda.
Dengan kalimat lain, sekarang  adalah saat yang tepat bagi Anda untuk bertanya seberapa dalam keberlanjutan dalam DNA perusahaan Anda. Jika jawabannya adalah "tidak terlalu", Anda mungkin ingin menopang komitmen perusahaan Anda sekarang atau mulai mencari pertunjukan lain. Perusahaan dengan komitmen yang lemah atau baru lahir kemungkinan akan menempatkan mereka pada kondisi jalan tempat atau tutup.
Perusahaan di seluruh dunia kini menghadapi tantangan baru melalui persyaratan CSR yang ditentukan oleh masing-masing pemerintahan di temapt perusahaan tersebut beroperasi. Di India, misalnya, kini ada India Companies Act, sebuah undang-undang disahkan pada 2013, yang mengamanatkan bahwa perusahaan dengan ukuran tertentu harus menyumbangkan 2 persen dari laba bersih yang mereka hasilkan untuk inisiatif yang berdampak sosial.
Tapi di sisi lain, tahun depan juga terbuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan cakupan program CSR yang ada. Berikut adalah peluang-peluang yang dipaparkan oleh Maeve Miccio, Vice President for Corporate Responsibility di Silicon Valley Community Foundation.
1. Pengaruh Karyawan terhadap Kegiatan CSR Semakin Besar
Tren ini dipelopori oleh perusahaan teknologi yang kemudian diadopsi oleh sector lain. Jadi dalam menentukan jenis kegiatan dan mitra yang diajak kerjasama, perusahaan makin memperhatikan masukan dari karyawan. Organisasi atau perusahaan seperti Yelp dan Yahoo Employee Foundation memberdayakan karyawan mereka untuk mendirikan semacam LSM yang didanai melalui pengumpulan dana dari karyawan sendiri.
Strategi ini berkaitan erat dengan penelitian seperti Deloitte Millenial Survey 2015, yang menunjukkan bahwa millenials berpotensi memilih tempat kerja berdasarkan apa yang ingin dicapai perusahaan. Menurut survei Nielsen, 67 persen karyawan lebih suka bekerja untuk sebuah perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial.
Mereka percaya bahwa para pemimpin perusahaan harus memberi prioritas tinggi pada kontribusinya terhadap masyarakat setempat dan masyarakat yang lebih luas. Dengan makin meningkatnya proporsi millenials, maka karyawan yang mempengaruhi kegiatan CSR makin besar.
Program CSR sering hanya memikirkan dari perspektif eksternal. Ini berarti perusahaan hanya memikirkan tentang perusahaan menjadi warga yang baik bagi lingkungannya. Kini, CSR lebih dari sekedar praktek dalam masyarakat yang bertanggung jawab. Ini Karena bila hanya melihat dari perspektif luar, Anda kehilangan kesempatan terbesar untuk melakukan dengan baik pada karyawan Anda.
Memprioritaskan kebutuhan karyawan menunjukkan bahwa Anda peduli. Pada gilirannya kepedulian Anda itu meningkatkan keterlibatan dan retensi karyawan. Menurut penelitian terbaru, para millineal membutuhkan perkembangan dan pertumbuhan karir. Menurut penelitian, 58 persen millennium, karir dan pengembangan profesional merupakan tujuan karir utama mereka. Karena itu, bila pertumbuhan kurang maka karyawan akan meninggalkan majikannya.
2. Kolaborasi Dengan Pemerintah Daerah dan Kota
Akhir-akhir ini makin banyak perusahaan beranggapan bahwa kolaborasi perusahaan dengan lembaga pemerintah daerah atau kota dalam kegiatan CSR bisa memberikan dampak yang lebih besar. Program Smarter Cities yang dilakukan IBM misalnya, adalah model yang dinilai banyak pihak sangat positif. Disini  kontribusi IBM adalah memberikan konsultasi dan dukungan teknologi untuk memajukan kota di berbagai bidang seperti keamanan publik dan manajemen darurat.
Makin tingginya minat para professional perusahaan jasa profesional dan perusahaan teknologi dalam meluncurkan inisiatif ini meningkatkan keahlian, pengaruh dan investasi dalam meningkatkan efisiensi kinerja infrastruktur.  Contoh terbaru adalah program Amazon Web Services, City on Cloud.
Tahun 2016, Pemprov DKI Jakarta menargetkan pembangunan 150 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, sangat terbantu dengan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan.
3. Penyelasaran Inisiatif Perusahaan dan Pemerintah di Seluruh Dunia
Perkembangan tahun depan memberikan peluang bagi perusahaan untuk menyelaraskan upaya inisiatif antar pemerintah. Conference of Parties tahunan (COP21) atau yang dikenal sebagai Paris Climate Conference 2015, Desember lalu, bertujuan mendorong PBB untuk mengikat perjanjian diantara negara-negara di seluruh dunia untuk menjaga tingkat pemanasan global berada di bawah 2 ° C. Disini perusahaan dari berbagai sektor satu sama lain merasa perlu berkolaborasi dengan  pemerintah untuk mencapai target parameter seperti yang digariskan dalam perjanjian tersebut.
4. Makin Tingginya Tuntutan Transparansi 
Fakta bahwa investor, konsumen dan pemerintah membutuhkan transparansi yang lebih besar dari sektor swasta bukanlah hal baru. Di Amerika Serikat misalnya, perusahaan teknologi seperti Pinterest, Slack dan Twitter meningkatkan transparansi dengan mengungkapkan beragam data internal mereka. Pengungkapan sukarela ini membuat masing-masing elemen dalam organisasi tersebut untuk berbagi sumber daya, praktik dan proses pembelajaran terbaik.

Misalnya, beberapa perusahaan teknologi telah berbagi kemampuan sumber daya melalui berbagai macam pelatihan. Selain itu, melalui Dodd-Frank Act, beberapa perusahaan tertentu di AS diminta melaporkan segala potensi konflik di seluruh rantai pasokan mereka, dan laporan awal yang menunjukkan bahwa langkah ini mulai mendorong perubahan positif, yakni berkurangnya konflik di berbagai industri.