Selasa, 29 Desember 2015

Suka Tidak Suka, Bagi Perguruan Tinggi Image itu Penting


Tahun ini Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) kembali meraih “The Best School of Communication” dari Majalah MIX. Sebagai perguruan tinggi negeri yang sudah terakreditasi A, bahkan sudah memiliki nama besar di dunia pendidikan, UI tercatat menjadi pilihan yang paling diminati oleh lulusan SMA di Indonesia.
Meski sudah memiliki nama besar dan tingkat trust yang tinggi, bukan berarti Departemen Ilmu Komunikasi UI tak melakukan branding. Upaya branding yang dilakukan UI memang nyaris tak memanfaatkan iklan konvensional. Sebaliknya, UI memilih branding melalui berbagai aktivasi kemahasiswaan sekaligus sepak terjang sang alumni.
Salah satu aktivasi kemahasiswaan yang cukup bergengsi dan sudah punya nama adalah “Pekan Komunikasi” yang digelar setiap tahun. Pada “Pekan Komunikasi 2015” yang dihelat selama lima hari, UI menghadirkan rangkaian kegiatan seperti lomba #PRVaganza: Creating Lasting Impact, workshop #AdWar, gala dinner, Festival Film #Crebo, seminar Journalight, hingga company/community visit.
Amplifikasi lewat social media dipilih panitia “Pekan Komunikasi”, antara lain lewat akun Facebook Pekan Komunikasi UI dan Twitter @pekankomunikasi. Tagar #Pekom2015 juga senantiasa digunakan di sepanjang acara demi memperoleh amplifikasi yang besar di media sosial. 
Departemen Komunikasi UI yang berada di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Politil (Fisip) juga terhitung kampus yang cukup aktif memanfaatkan saluran digital. Pengelola kampus aktif meng-up date situs www.commdept.fisip.ui.ac.id. Sementara mahasiswanya aktif mengup date www.anakui.com. Pada situs www.anakui,com, jurusan ilmu komunikasi UI pernah dibahas tuntas. Artikel tentang ilmu komunikasi UI ini dilihat sebanyak 3.846 kali. Untuk kegiatan yang melibatkan alumni, Departemen Komunikasi UI memiliki program “Tokoh dan Selebriti Alumni Fisip Bicara” serta “Life After Campus”. Pada kegaitan itu, penyanyi papan atas seperti Andin, yang juga alumni lmu Komunikasi UI, turut ambil bagian.
Yang kita pikirkan, percayai, dan rasakan tentang sesuatu merupakan citra, meskipun citra atau image bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan. Satu perusahaan penerbangan mungkin memiliki banyak masalah keterlambatan, perilaku awaknya atau serringnya kecelakaan. Akan tetapi perusahaan penerbangan tersebut masih dianggap lebih aman karena citranya sebagai bisnis yang ramah lingkungan, jumlah armadanya paling besar sehingga destinasinya paling luas. Citra bisa saja mengatakan "berbeda dan lebih baik" meskipun pada kenyataannya "sama."
Menurut Weidlich (1999), kabar baiknya adalah bahwa setiap wilayah, perusahaan atau merek, tidak peduli ukuran, dapat berdampak pada citra. Kabar buruknya adalah bahwa jika Anda tidak berupaya membangun kesadaran positif dalam mempengaruhi citra Anda, kemungkinan yang muncul adalah  pengaruh negatif yang diam-diam hadir di tempat kerja Anda.
Banyak ahli pemasaran merasa bahwa citra lebih penting daripada kenyataan karena citra – yang merupakan kumpulan-kumpulan dari persepsi, sikap, keyakinan, ide, dan perasaan yang muncul sekitar obyek - membuat orang bertindak dengan cara tertentu dan membentuk sikap terhadap produk, jasa, bisnis, korporasi , organisasi, atau bahkan sistem perguruan tinggi. Bagi banyak orang, citra berdasarkan  yang mereka lihat, sentuh, dengar, rasakan, percayai, dan pikirkan adalah nyata. Begitu kompleksnya sebuah citra, Twineham (1996) mengingatkan bahwa hanya dibutuhkan satu krisis buruk yang tidak ditangani secara benar untuk merusak reputasi sekolah, perusahaan, wilayah, atau tempat.

Karena itu, membangun citra yang baik secara aktif merupakan tindakan sangat penting untuk kesehatan dan pertumbuhan sistem sebuah perusahaan, perguruan tinggi atau seseorang. Sebagaimana Carey (1993) tunjukkan bahwa dalam konteks perguruan tinggi, "Seperti kerikil jatuh ke dalam kolam citra publik Anda dapat berdampak pada karir, komunitas, dan pendidikan Anda dan pada akhirnya public. Ruar biasanya, riak pengaruh menjalar ke orang tua, masyarakat dan pembayar pajak."