Jumat, 30 Desember 2016

KONTROL MEDIA


Dalam teori pers otoriter, control terhadap media dilakukan melalu mekanisme perizinan dan sensor. Pers bisa dimiliki oleh publik atau perorangan. Namun demikian tetap dianggap sebagai alat untuk menyebarkan kebijakan pemerintah. Dalam teori pers liberal, John Locke (1632–1704), John Stuart Mill (1806–1873), dan Milton Friedman (1912–2006) mengilhami gagasan bahwa pers harus mendukung fungsi membantu menemukan kebenaran dan mengawasi pemerintah sekaligus sebagai media yang menyampaikan informasi, menghibur, dan mencari keuntungan.
Dalam lingkungan seperti itu, control pemerintah bergeser. Pemerintah bukan lagi sebagai pemegang control utama. Namun demikian realitasnya pemerintah tetap bisa menjadi pemegang control utama melalui mekanisme control terhadap isu. Pada 1978, Stuart Hall dan kawan-kawan memunculkan gagasan tentang Primary Definition. Menurut Hall dkk, kelompok elit, berkat kemudahan aksesnya alam menggunakan saluran komunikasi massa, memperoleh status sebagai pendefinisi utama dalam wacana publik tentang persoalan terkini.
Interpretasi mereka tentang peristiwa dan kerangka penjelasan mereka dalam memahami peristiwa menjadi semacam konsensus, sedangkan penjelasan dan keterangan lain dikesampingan atau dipinggirkan dan dianggap tidak absah. Teoritis penyandang status ini banyak, relaitasnya pemerintah mendominasi status tersebut. Penelitian Bennet dan kawan-kawan (2007) tentang perang Irak menunjukkan bahwa dari 414 berita tentang alasan dan rasionalisasi perang yang disiarkan ABC, CBS dan NBC dari September 2002 hingga Maret 2003, hanya 34 berita yang berasal dari luar Gedung Putih.
Ini memperkuat teori Indexing News yang diajukan Benet (1990) sebelumnya yang menunjukkan bahwa media massa berita cenderung menggunakan elit pemerintah sebagai sumber-sumber resmi. Mereka cenderung mengindeks berita berbagai perdebatan resmi. Liputan terhadap suatu isu menurun seiring dengan makin meredanya konflik antar elit pemerintah. Hal ini penting karena menurunnya liputan atas suatu isu karena telah dicapai  kesepakatan, atau isu tersebut menghilang dari agenda formal.
Intinya, hipotesis pengindeksan berita memprediksi bahwa konten berita tentang isu-isu kebijakan politik dan publik pada umumnya akan mengikuti parameter perdebatan elit. Ketika elit politik (seperti Istana, dan para pimpinan dewan, dsb) mencapai kesepakatan umum tentang suatu masalah, liputan berita atas suatu isu cenderung menurun atau berhenti sama sekali. 
Sebaliknya, ketika elit politik tidak setuju, liputan berita cenderung memblow-up ketidaksetujuan mereka. Karenanya ketika pemerintah menahan diri untuk tidak "berpendapat" tentang isu tersebut, interpretasi yang muncul adalah pembiaran. Ketika pembiaran berlangsung, yang muncul adalah prasangka.   
Dengan kata lain, isu dan pandangan media tunduk pada debat politik tingkat tinggi yang paling besar peluangnya untuk mendapatkan liputan berita yang luas. Isu-isu yang tidak diperdebatkan kurang mendapatkan perhatian secara kritis. Dengan kata lain, ketika pemerintah mendefinisikan suatu isu, selesai sudah isu tersebut. 

Berita Bohong


Suatu ketika seorang wartawan yang datang ke Kuba, pulang tanpa membawa berita. Dia mendatangi dan minta saran William Randolph Hearst, orang dianggap sebagai pelopor jurnalisme kuning atau jurnalisme got (comberan). Hearst cuma memberi saran singkat, “Kamu poles citranya, saya poles tentang perangnya.” Itu euphoria ketika AS berseteru dengan Kuba. Pemerintah butuh citra Kuba yang “jahat” sebaga alasan untuk “mengintervensi” Kuba.

Sekarang seperti yang dilaporkan The Washington Post, beberapa orang menciptakan situs berita palsu untuk mengeruk penghasilan lebih  $ 10.000 per bulan melalui Google AdSense, sebuah program yang dijadikan tolok ukur keberhasilan media online karena mengkonversi pengunjung menjadi dolar berdasarkan perolehan iklan. Washington Post menurunkan tuliisan itu berdasarkan wawancaranya dengan beberapa remaja di Macedonia yang menjalankan situs-situs berita palsu. Sebagian besar diantara mereka mengatakan bahwa cara yang mereka lakukan itu sebagai cara termudah dan  menguntungkan untuk mendapatkan uang ditengah ekonomi yang berat. https://www.washingtonpost.com/world/europe/in-macedonias-fake-news-hub-teen-shows-ap-how-its-done/2016/12/02/98bce38e-b88d-11e6-939c-91749443c5e5_story.html?utm_term=.4884c4954ff5

Penyajian berita palsu itu tidak selalu sama. George Orwell, seorang novelis, esais, wartawan dan kritikus asal Inggris pernah mengatakan bahwa “beberapa berita lebih palsu daripada yang lain”. Jadi bagaimana Anda tahu bedanya? Menurut Dr. John Johnson, penulis buku EVERYDATA: The Misinformation Hidden in the Little Data You Consume Every Day, ada lima jenis berita palsu yang mungkin kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama, ada berita yang 100% palsu. Beberapa waktu lalu, sempat beredar kabar bahwa Sri Edi-Swasono meninggal, atau Paul McCartney meninggal. Sri Edi dan Paul hanyalah contoh dari banyak selebriti yang menjadi korban laporan kematian secara online. "RIP Paul McCartney" menjadi trending di Twitter. Padahal, siapapun yang berada di sampingnya tahu bahwa Paul jelas-jelas masih hidup.

Kedua, berita dengan _slanting_ (miring) dan bias. Baru-baru ini The Washington Times menerbitkan daftar berita bohong. Dalamdaftar itu termasuk antara lain cerita yang menyebutkan bahwa perubahan iklam menyebabkan makin banyak badai seperti Katrina. Sekilas mungkin pernyataan bahwa perubahan iklm tadi tidak benar, dan untungnya, sejak Katrina yang menghancurkan itu memang tidak ada lagi badai serupa. Tapi apakah benar kesimpulan tersebut? Nampaknya, Washington Times menggunakan fakta ketiadaan badai paska Katrina tersebut untuk mendongkrak argumentasi tentang realitas perubahan iklim. Hanya karena perubahan A (perubahan iklim dapat menyebabkan badai besar) dan B (tidak ada badai besar) tidak berarti bahwa perubahan C (perubahan iklim) tidak ada.

Ketiga, propaganda murni. The Washington Post baru-baru ini melaporkan tentang kampanye propaganda canggih yang dibuat Rusia. Washington Post menulis bahwa Rusia banyak menyebarkan artikel menyesatkan secara online selama kampanye pemilu presdiden beberapa waktu lalu. Sementara itu tuduhan itu masih perlu pembuktian, mungkin lebih adil bila ada yang mengatakan bahwa beberapa berita palsu yang dimunculkan memang khusus dirancang untuk mempengaruhi opini pembaca dalam menentukan pilihannya.

Keempat, menyalahgunakan Data. "Have a Beer, It’s Good for Your Brain," itu bunyi salah satu laporan yang dimuat di majalah Inc (http://www.inc.com/will-yakowicz/beer-improves-brain-function.html). Tapi Anda harus menunggu beberapa menit terlebih dulu sebelum Anda mengambil setengah liter (atau dua) berikutnya. Itu merupakan tulisan yang didasarkan pada hasil pada tikus - bukan pada manusia. Jumlah bir yang dikomsusi agar pikiran membuat pikiran jadi bagus itu  setara dengan 28 tong pada manusia. Ini adalah contoh yang bagus tentang bagaimana media sering salah menafsirkan penelitian, menawarkan dan menampilkan suatu temuan semenarik meski tidak benar-benar berlaku untuk Anda. Parahnya, tulisannya sering tidak didukung keilmupengetahuanan.

Kelima, apa yang disebut dengan Imprecise and Sloppy. Misalnya, ada tulisan menyebutkan bahwa 1 diantara 5 CEO itu Psikopat. Judul tulisan ini bisa dijumpai di banyak media mulai dari the Telegraph (http://www.telegraph.co.uk/news/2016/09/13/1-in-5-ceos-are-psychopaths-australian-study-finds/) hingga Washinton Post (https://www.washingtonpost.com/news/on-small-business/wp/2016/09/16/gene-marks-21-percent-of-ceos-are-psychopaths-only-21-percent/?utm_term=.568bc28d3355).


Karena dia seorang CEO, Dr. John Johnson menyebut kesimpulan itu salah, karena dia (akunya) bukanlah seorang psikopat. Penelitian itu didasarkan pada survei pada  profesional di industri rantai pasokan, bukan CEO. Sebuah headline tentang professional di rantai pasokan mungkin tidak seksi, tapi berbicara tentang CEO memberikan kesan yang salah.

Senin, 28 November 2016

Eksotis dan Uniknya Pasar Asia



                                                 Judul Buku          : Going East
                                                 Penulis                 : Rudolf Tjandra
                                                 Penerbit               : Afterhours Books
                                                 Tebal Buku          : 215 halaman

Melihat Selintas judul dan warna sampul buku ini, sempat terlintas dalam pikiran buku itu membahas tentang pasar China. Sebab bagaimana pun China kini telah menjadi raksasa dunia yang mungkin telah mengambil posisi Amerika Serikat sebagai lokomotif bisnis dunia. Pertanyaan yang muncul dalam pikiran adalah kenapa China? Masih adakah peluang bagi perusahaan Indonesia untuk masuk ke pasar China. Saya baru menyadari kalau buku ini tidak sekadar membahas pasar China, melainkan bisnis negara-negara Timur Jauh setelah membaca Bab II buku ini.
Ini juga yang menarik perhatian saya karena penulis buku ini juga memasukkan pasar ASEAN. Menurut penulis buku ini, perkembangan ekonomi negara-negara Asia Timur kini membuat kawasan ini menjadi yang paling sukses di dunia. Tidak hanya perusahaan-perusahaan di China, Hongkong, Macau, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan yang berkembang, perusahaan-perusahaan di kawasan ASEAN juga tumbuh melesat. 
Banyak juga perusahaan mutinasional yang telah memanfaatkan peluang yang ada Asia. Unilever, Nestle, Samsung, Lenovo, Lo’oreal telah memperluas kantor regionalnya dan menjadikannya sebagai unsur penting dalam mengembangkan bisnis mereka. Keberhasilan yang telah dinikmati para pioneer ini bukanlah sesuatu yang berlaku umum. Artinya setiap perusahaan multinasional berhasil ketika masuk ke pasar lokal. 
Banyak faktor pendukung yang membuat ekonomi Asia berkembang. Iklim politik yang kondusif untuk industri dan perdagangan, ketersediaan sumber daya alam, dan ketersediaan tenaga kerja mulai dari yang kelas pekerja hingga yang memiliki keahlian dengan biaya yang relative rendah. Dalam masyarakat modern, tingginya tingkat diferensiasi structural, makin terspesialisasi fungsi-fungsi dalam masayarakat, dan otonomi sistem ekonomi dari pemerintah merupakan kontribusi besar bagi perkembangan perdagangan dan industri serta kesejahteraan.
Dalam situasi yang kondusif tersebut, bagaimana perusahaan lokal mampu tumbuh dan berkembang meski tidak memiliki kekayaan sumber daya yang tidak sebesar perusahaan multinasional yang juga pesaing mereka. Bagaimana perusahaan-perusahaan lokal itu mampu menghasilkan, setidaknya dalam negeri, pasar merek terkemuka. 
Bagi saya pertanyaan itu relatif, sebab bagaimanapun saat ini pasar global didominasi oleh perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) yang berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara dunia ketiga. Keragaman budaya merupakan tantangan utama sekaligus peluang yang dihadapi perusahaan multinasional dan lokal dalam menerapkan strategi dan praktek pemasaran mereka.
Dalam situasi seperti itu wajar bila kemudian muncul perdebatan apakah yang menjadi dasar bagi praktek pemasaran internasional. Dalam konteks ini, pemasar internasional dihadapkan pada pertentangan sehubungan dengan budaya di berbagai belahan di dunia. Pada tingkat politik dan sosial, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa subkultur di banyak bagian dunia kini mulai diekpresikan untuk menyatakan politik dan identitas sosial mereka. Ini dapat dilihat dari sering terjadinya berbagai konflik etnis.
Dalam konteks pola konsumsi, ada bukti yang berkembang bahwa kini muncul dan berkembang pola pasar dunia. Ini setidaknya ditunjukkan oleh tren produk dan merek menyebar global yang mendominasi pasar dunia. Beberapa kritikus khawatir tentang efek samping dari pemasaran global pada identitas budaya mereka sendiri. Perkembangan ini menimbulkan tantangan bagi pemasar, yang harus mampu mengembangkan pasar global sementara pada saat yang sama mempertahankan identitas budaya lokal, menghindari cap sebagai 'perusahaan asing', polusi beragam budaya dan memaksakan imperialisme budaya.
Para pebisnis berbagi keyakinan dan nilai-nilai tertentu, tetapi sangat menyesatkan bila Anda percaya bahwa mereka selalu lebih kuat daripada pengaruh budaya lain (misalnya, budaya nasional). McDonalds, yang mencoba untuk menstandarisasi produknya, harus menyesuaikannya dengan selera lokal. Di India, McDonalds melayani burger domba, dan tidak burger sapi. Tekanan globalisasi juga dapat menyebabkan  penguatan identitas lokal. Di Eropa misalnya, pertumbuhan Uni Eropa bisa dibilang mengarah ke penguatan identitas daerah (seperti dalam kasus Skotlandia). Gagasan bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda dapat digabungkan bersama adalah jantung dari konsep 'melting pot', yang secara luas diyakini di Amerika Serikat sampai pertengahan abad ke-20. Hal digantikan oleh konsep pluralisme budaya, atau 'mangkuk salad', di mana unsur-unsur individu mempertahankan identitas mereka sendiri.
Melting pot adalah sebuah metafora untuk menggambarkan masyarakat yang heterogen berubah  menjadi lebih homogen. Unsur-unsur yang berbeda "mencair bersama-sama" menjadi satu kesatuan yang harmonis dengan budaya umum atau sebaliknya. Untuk masyarakat yang homogen menjadi lebih heterogen melalui masuknya unsur-unsur asing dengan latar belakang budaya yang berbeda yang bisa berakibat pada munculnya potensi disharmoni dengan budaya sebelumnya. Secara historis, fenomena itu sering digunakan untuk menggambarkan asimilasi imigran ke Amerika Serikat.
Globalisasi ekonomi diyakini telah banyak mengurangi hambatan yang pernah ada sebelumnya yang yang memisahkan satu negara dengan negara lainnya. Perdagangan lebih bebas daripada sebelumnya sehingga menciptakan saling ketergantungan yang lebih besar. Akibatnya, selama beberapa tahun terakhir laju konvergensi politik dan ekonomi meningkat secara dramatis sehingga kemiripan struktur politik dan ekonomi negara seakan muncul. Selain itu, banyak ahli percaya bahwa globalisasi ekonomi telah melemahkan kontrol negara. Globalisasi melonggarkan cengkeraman negara atas kebebasan populer dengan memungkinkan warga untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut masalah politik dan ekonomi penting yang dihadapi negara.
Namun, beberapa sarjana politik internasional, menolak klaim mengenai efek universal globalisasi ekonomi politik. (Brown dan Jones, 1995; Dupont, 1996; Fukuyama, 1989 dan 1995; Haggard, 1990; Huntington, 1991; Jones, 1995; Kaushikan, 1993; Scalapino, 1989; Tai, 1993; Tamney, 1991; Zakaria, 1994). Mereka berpendapat bahwa budaya politik yang unik di negara-negara Asia melemahkan efek globalisasi. Dengan demikian, dampak globalisasi dirasakan berbeda di Asia dibandingkan yang dirasakan oleh kawasan di belahan dunia lainnya.
Ada hal lain yang membuat pasar Asia unik. Para pakar menunjukkan pengaruh Konfusianisme dalam membangun sikap masyarakat terutama masyarakat Asia Timur. Norma-norma perilaku masyarakat di banyak negara Asia Timur masih sangat didasarkan pada cita-cita Konfusianisme. Selain itu selama bertahun-tahun, kolusi antara bisnis dan pemerintah yang melanggengkan struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat telah muncul dan dilembagakan di banyak negara Asia Timur. Akibatnya, kontrol negara-negara Asia terhadap warga mereka tetap kuat dibandingkan dengan warga di belahan dunia lainnya, membuat dampak dari globalisasi ekonomi menjadi berkurang.
Keunikan pasar Asia yang membuat perusahaan multinasional yang bergerak di barang-barang konsumen (consumer goods) berhasil di Amerika Serikat atau Eropa misalnya, tidak serta merta mengekspor model bisnis, produk dan rumus pemasaran mereka di kawasan Asia seperti Indonesia, Myanmar atau Thailand. Pasar yang berkembang ini berbeda dalam hal kebijakan pemerintah, peraturan perundang-undangan, perilaku ekonomi, sistem distribusi, kebutuhan dan perilaku konsumennya. Sebagian besar produsen dunia barang konsumsi yang mencoba menjual produk satu produk untuk seluruh dunia menemui kegagalan di pasar Asia.
Selama bertahun-tahun Procter & Gamble menjalankan bisnis diapers sekali pakai mereka seakan tanpa gairah. Salah satu hal yang membuat tak bergairah karena mereka menempatkan label ekonomi sebagai variabel utama dalam keputusan mengembangkan atau menghentikan bisnisnya itu. Karakteristik konsumen Indonesia adalah menginginkan barang-barang dengan harga murah tapi di sisi lain mereka tidak ingin menggunakan barang yang dicap murahan.  Dalam situasi seperti itu, P&G lebih suka mengimpor produk diapers dan menjalankan kampanye pemasarannya di luar Indonesia.
Untuk menggarap pasar Inndonesia dan negara Asia Timur membutuhkan pendekatan baru. Agar berhasil dibutuhkan pemahaman karakter dan budaya konsumen Asia. Yang diperlukan disini bukan sekadar pendekatan etic atau keilmuan, yang juga penting adalah pendekatan emic atau berdasarkan sudut pandang budaya. Keberhasilan pendekatan emic yang dilakukan Unilever dan kekuranggairahan P&G dalam memasarkan diapers menunjukkan kevalidan pendekatan emic. Unilever selalu membangun merek didasarkan pada akar budaya setempat. Itu juga yang dilakukan McD setelah beberapa tahun masuk ke asar Indonesia dengan menambahkan nasi dan sambal pada menu yang ditawarkan.
Pandangan-pandangan yang dikemukakan penulis -- yang telah bertahun-tahun menekuni dunia pemasaran produk konsumen -- dalam buku ini membuat buku ini menjadi perlu untuk dibaca oleh para praktisi yang ingin memperluas pasar poduknya di kawasan Asia Timur dan akademisi yang selalu ingin mengetahui perubahan yang terjad di lingkungan pemasaran dan ekonomi ekonomi. Seperti yang dikatakan Dato Ahmad Fasisal Jaafar saat mengomentari buku ini, Going East membetrikan perspektif kekinian dan pemikiran baru pada topic pasar masyarakat ekonomi ASEAN dan implikasinya pada semua pemimpin bisnis.

UNFRIENDING



Musim panas 2008, Anna Mayer bersiap-siap untuk memulai kuliah semester pertamanya di sebuah sekolah pascasarjana di kotanya. Saat luang, dia menulis blog pseudonim tentang perjuangannya agar bisa masuk ke perguruan tempat dia akan mengikuti pendidikan S2-nya yang berat, dan masalah pribadi lainnya. Dia sangat menikmati interaksinya dengan pembaca dan komentar pada blognya. Dia juga makin menikmatinya manakala mendapati dukungan atas ide-idenya dari para pembaca yang muncul di papan dukungan blognya.
Tiba-tiba suatu hari, sebelum sekolah dimulai, saat dia mencari namanya, dia menemukan postingan yang menggambarkan dirinya sebagai "bodoh, pelacur gemuk dan jelek" yang "tidak bisa memanfaatkan arahan dari seorang laki-laki." Pengirim pesan tak bernama (anonymous) itu mencantumkan alamat e-mail, nomor telepon, dan profil situs kencannya. Dia juga menerima e-mail peringatan yang mengatakan bahwa penulis mengetahui dimana dia tinggal. Pengirim pesan itu juga mengejek Mayer sebagai penulis blog pseudonym yang dalam tulisannya cenderung melebih-lebihkan diri.  
Hari-hari berikutnya, komentar blognya makin seru. Di blognya muncul berbagai nama seperti "Anna Mayer Fat Ass Chronicles" dan "Anna Mayer Keeps Ho'Ing It Up." Pesan-pesan dalam tulisan itu  mengingatkan orang lain dengan mengatakan bahwa Mayer mengidap herpes yang harus segera diobati. Pengirim pesan lainnya mengklaim bahwa dia memiliki gangguan bipolar dan catatan kriminal sehingga tak layak mengekspos diri di depan umum.
Komentar rasis yang selama ini tidak pernah menimpanya itu kini seakan tak mau lepas darinya. Bahkan sebuah tulisan yang mencantumkan alamat e-mail profesornya, jelas-jelas meminta pembaca untuk memberitahu mereka tentang Mayer sebagai seorang rasis yang memuakkan. Seseorang menyetel  account Twitter di nama Mayer, mengklaim Mayer sedang mengkhayalkan sebuah pemerkosaan dan seks yang kasar.
Ratusan posting seakan khusus ditujukan untuk menyerangnya. Mayer tidak bisa menebak identitas orang yang mempost pesan tersebut. Dia bertanya-tanya apakah pelecehan itu sebagai pembalasan karena membela teman sekelas yang membuat blog tentang fantasi seksualnya. Dalam sebuah komentar anonim, Mayer memang telah menunjukkan dukungan untuk teman sekelasnya. Lalu apakah ada yang salah atau tidak biasa bila ada seseorang yang memiliki fantasi. Mungkinkah orang yang tersendiri Mayer yang marah? (Citron, Danielle Keats. 2014. Hate Crimes in Cyberspace. President and Fellows of Harvard College).
Itu fenomena di blog dimana setiap orang bisa mengakses dan membacanya. Di edia sosial, seperti Facebook dimana tidak semua orang bisa mengaksesnya, fenomenanya mirip-mirip dengan fenomena diatas.  Selama beberapa bulan persiapan pemilihan presiden AS, Facebook seakan menjadi tong “kemarahan” dan amukan pendukung baik Hillary maupun Trump. Kedua kubu pendukung dan penentang salah satu calon saling unfriending.
Jaringan sosial terbesar di planet itu mengatakan bahwa pemilihan presiden 2016 menghasilkan lebih dari 5,3 miliar postingan, suka, komentar dan _share_. Selama Januari-Oktober 2016, lebih dari 110 juta orang Amerika terlibat dalam perdebatan online tentang kedua calon. Tak ada data resmi dari Facebook tentang jumlah orang yang diunfriend. Namun diperkirakan sekitar 0,02% pengguna Facebook diunfriend temannya. Unfriending merupakan tindakan pencoretan atau penghapusan nama seseorang dari daftar nama teman yang mencoret atau menghapusnya.

Postingan soal politik, agama dan ras cenderung membuat dunia seakan terpolarisasi, bahkan terbelah. Ketika pandangan dan dunia terpolarisasi, maka pernyataan atau komentar apapun dalam media sosial baik itu menentang, menduku, bahkan yang netrakl sekalipun, cenderung “diprotes.” Ketika seseorang mendukung suatu kelompok, kelompok lainnya memprotes dan sebaliknya. Ketika seseorang yang mungkin berusaha netral pun cenderung dicari narasi yang menegasikan kenetralan itu.
Christopher Sibona, A PhD dari University of Colorado Denver Business School pernah melakukan penelitian dengan mensurvei lebih dari 1.500 pengguna Facebook dan pengikut twitter tentang alasan mengapa orang melakukan _unfriend_. Dari survey itu dia menyimpulkan ada 3 alasan orang untuk unfriending.
Pertama, seseorang akan diunfriend karena sering memposting hal-hal yang tidak penting, memposting hal-hal yang tidak pantas, dan ketiga, memposting topic yang cenderung membuat terpolarisasi seperti agama dan politik. Topik ini cenderung membuat orang merasa tidak nyaman, jengkel, dan terprovokasi terutama jika postingan itu dilakukan terus-menerus.
Sedikit tanda-tanda bahwa sikap ekstrim terhadap orang memiliki sikap politik dan ideology yang berbeda menurun. Para peneliti malah memprediksi bahwa fenomena tersebut cenderung memburuk (Baldassarri & Gelman, 2008; Smerconish, 2011).
Para peneliti kini banyak yang tertarik melakukan penyidikan tentang fenomena polarisasi sikap ini, termasuk dalam hal bagaimana pola komunikasi yang terjadi selama perdebatan misalnya, dan bagaimana ideologi, ketakutan, geografi, dan media mempengaruhi cara orang membangun konsep dan memposisikan isu-isu saat mereka melakukan perdebatan di media sosial atau media pesan instan.  Temuan menunjukkan bahwa semakin sering seorang individu dan kelompok berbicara tentang suatu isu, politik misalnya, pandangan mereka menjadi semakin ekstrim (Mackie, 1986; Sia, Tan, & Wei, 2002; Sunstein, 2009).
Selain itu, pada saat dihinggapi rasa ketakutan, seperti setelah peristiwa 11 September 2001, individu cenderung untuk membagi dunia menjadi dua kubu -- yakni mereka dan lainnya – sebagai upayanya untuk memulihkan rasa kepastian, keamanan, dan kesopanan. Ketika perasaan itu muncul, prang cenderung membuat stereotip _kami_ dan _mereka_ dan makin membekukan keyakinan sehingga muncul sikap dogmatism. Konsekuensinya, karena stereotip itu maka orang makin susah mengadopsi atau menerima gagasan yang berbeda dengan gagasannya.
Polarisasi geografi kini juga makin marak. Warga Amerika yang selama ini merasa bahwa budaya masyarakat homogen (Bishop, 2004), isolasi geografis yang cenderung menurunkan akses ke pandangan yang berbeda, bisa jadi dapat meningkatkan pandangan yang sudah ekstrim. Dalam konteks pemerataan pembangunan misalnya, ketika akses informasi tentang pebagunan wilayah makin susah, orang cenderung memiliki pandangan yang ekstrim tentang ketimpangan karena ketidaktahuan atau ketiadaan data tentang pemerataan pembangunan

Selain itu, media juga ikut  berkontribusi mengintensifkan polarisasi. Bukan hanya karena semakin banyaknya media, perkembangan teknologi juga semain memudahkan seseorang atau kelompok  mengekspresikan pandangannya. Di sisi lainnya, individu cenderung mencari dan mengkonsumsi media yang memperkuat, menonjolkan, dan selanjutnya mempolarisasi keyakinan mereka (Abramowitz, 2011). Akibatnya, saling balas cacian bukan lagi sesuai yang tabu, bahkan semakin sering muncul ketika orang-orang yang berada di salah satu posisi yang terpolarisasi itu menjelek-jelekkan lawannya dengan menyebut mereka salah informasi, bodoh, dan jahat (Pearce & Littlejohn, 1997). Jadi, bagaimana sebaiknya menurut Anda?

Minggu, 20 November 2016

Street Marketing


Empat tahun silam, Tipp-Ex - merek cairan koreksi terlaris dari Eropa --- memposting serangkaian video The Tipp-Ex (perience) dengan fitur beruang dan pemburu di Youtube. Di salah satu videonya,  ditampilkan seorang pemburu meminta pengunjung untuk memilih apakah dia harus menembak beruang tersebut atau  tidak. Jika pemirsa memilih "menembak beruang itu," pemburu menolak. Pemburu kemudian mengambil Tipp-Ex dan menghapus kata "menembak."
Pemirsa kemudian diberi kesempatan menuliskan kata kerja apapun untuk mengganti kata "menembak" tersebut. Jika pemirsa menulis "tarian" misalnya, pada video tersebut pemirsa akan melihat sang pemburu menari dengan beruang. Menarik. Untuk memberikan keleluasaan kepada pemirsa memilih kata kerja, Tipp-Ex memproduksi empat puluh skenario video yang berbeda dengan empat puluh pilihan kata kerja.
Dalam kampanye lain, pemburu dan beruang berada dalam sebuah pesta ulang tahun. Tiba-tiba sebuah rudal masuk dan mengancam mengganggu pesta. Lagi-lagi dalam video itu pemirsa diberi alternative untuk memilih frasa "mengakhiri pesta" atau "tidak mengakhiri pesta." Video tersebut merupakan video kampanye yang banyak diperbincangkan selama 2011. Video tersebut menghasilkan lebih dari 20 juta hits di YouTube dalam waktu kurang dari dua tahun.
Itulah yang disebut dengan Marcel Saucet, penulis buku Street Marketing sebagai kampanye pemasaran alternative. Pemasaran alternatif merupakan respon langsung terhadap perubahan harapan baik konsumen dan perubahan sosial. Tapi seperti halnya dengan pendekatan konvensional, bagi merek,  kampanye alternative ada kondisi seperti sekarang menjadi suatu keharusan.
Pendekatan kampanye seperti ini memiliki dua keuntungan. Pertama, operasionalisasi dan biaya pengembangannya, pada  umumnya jauh lebih rendah daripada kampanye berbasis media tradisional. Juga, karena mereka begitu asli, mereka juga memberi merek kesempatan untuk menghasilkan banyak buzz tentang strategi komunikasi mereka.
Kelesuan ekonomi yang dihadapi dunia saat ini telah memaksa perusahaan untuk menjadi sangat kreatif dalam hal mencari tahu bagaimana mempertahankan afeksi pelanggannya. Sebab seperti diketahui, konsumen modern cenderung kurang mengkonsumsi suatu merek atau produk tanpa berpikir tentang apa yang mereka lakukan. Mereka juga cenderung memiliki keahlian dan pengetahuan yang lebih tinggi tentang produk. Bahkan mereka mengetahui  bisa jadi mengetahui lebih rinci dari atribut yang membedakan antara suatu produk dengan produk lainnya.
Pertanyaannya adalah mengapa konsumen kurang enggan meninggalkan produk dari satu merek ke merek lain yang memenuhi harapan mereka lebih baik. Buku ini mencoba memberikan jawabannya sehingga ketika pemasar menghadapi persoalan yang sama, alternative yang disosorkan penulis bisa menjadi pertimbangan.  
Pemasaran alternative juga makin penting karena saat kelesuan ekonomi atau pada situasi normal perusahaan juga harus bersaing dengan makin meningkatnya multi-kompetisi, sesuatu yang telah menjadi masalah bagi banyak bisnis. Dalam upaya mereka untuk meningkatkan pangsa pasar, mereka harus beradaptasi dengan semua hal-hal baru, termasuk ketika mereka mencoba untuk meningkatkan penjualannya.
Sebuah kampanye komunikasi selalu berusaha untuk mengejar salah satu dari dua gol: meningkatkan pengakuan dari konsumen atau mempromosikan produk, layanan, atau merek. Kampanye pemasaran konvensional dapat menawarkan respon terhadap beberapa kendala kontekstual yang dibahas di atas karena beberapa alasan.
Pertama, operasi baru tersebut - baik yang baru karena mereka menggunakan teknologi digital atau karena mereka melakukannya di tempat di luar point of sales – membantu merek untuk membuat kontak langsung dengan konsumen, yang saat ini cenderung mengharapkan transparansi yang lebih besar dari perusahaan. Kedua, kampanye tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan atas investasi jika perusahaan mampu menghasilkan buzz besar. Hal ini karena mereka umumnya biaya kamanye tersebut lebih rendah dari biaya kampanye tradisional. Tapi jika berhasil, mereka bisa sama-sama efektif.
Ketiga, operasi ini tidak hanya optimal secara finansial tetapi juga meningkatkan citra merek perusahaan. Orisinalitas adalah sesuatu yang perusahaan dapat gunakan untuk menunjukkan kepada  konsumen bahwa mereka bersedia untuk memberikan sesuatu yang mengejutkan buat mereka. Mereka juga bersedia untuk bekerjasama, bahkan saat mereka menekankan inovasi dan kreativitasnya. Konsumen dengan cepat menjadi sadar - dan berterima kasih atas upaya yang – telah dilakukan perusahaan.
Tujuan utama dari penulisan  buku ini adalah untuk memperlihatkan kepada para praktisi pemasaran/komunikasi pemasaran  dan mahasiswa bahwa dalam beberapa waktu belakangan ini banyak sekali perubahan. Salah satu efek dari perubahan tersebut adalah munculnya pendekatan komunikasi pemasaran baru, yang dimulai pemasaran jalanan dan buzz lainnya yang berhubungan itu.
Setelah menuntaskan buku ini, pembaca diharapkan memperoleh pemahaman tentang berbagai macam pendekatan baru dalam pemasaran dan komunikasi pemasaran antara lain pendekatan pemasaran jalanan dan pembicaraan dari mulut ke mulut yang dihasilkannya. Dengan demikian, bila Anda seorang manajer pemasaran, Anda akan melihat pendekatan ini meruakan suatu peluang nyata untuk meningkatkan keakraban perusahaan dengan masyarakat. Ini menjadi semakin penting karena di era seperti sekarang ini mempromosikan produk atau jasa secara langsung kepada pelanggan yang kini semakin menuntut cukup sulit.
Bagian pertama buku ini menjelaskan berbagai teknik marketing konvensional seperti viral, stealth, ambush, dan sebagainya. Bagian kedua, berkonsentrasi pada munculnya budaya jalanan di mana sejumlah isyarat-isyarat atau kode tertentu bermunculan. Kode-kode itu secara tidak langsung dapat secara luas mereplikasi komunikasi mereka. Yang ketiga menunjukkan kepada pembaca organisasi kampanye pemasaran jalanan, yang selalu disebarkan melalui pendekatan pemasaran buzz. Bagian keempat dan terakhir menawarkan panorama dari daerah di mana teknik-teknik seperti itu  diterapkan

Tiga ide kunci yang dikembangkan dalam kaitannya dengan teknik pemasaran yang tidak konvensional tersebut, khususnya yang melibatkan jalanan dan buzz marketing, yakni mereka merupakan respon langsung terhadap perubahan social, secara jelas mereka berubah menjadi pemasaran masa depan, dan mereka memberikan kesempatan besar bagi sebagian besar perusahaan. Jadi Anda pilih yang mana? Atau ketiganya?


Kamis, 17 November 2016

Menjadi Influencer Sukses


Influencer kini menjadi kata yang banyak disebut di industri pemasaran. Mengapa? Dengan memanfaatkan pengaruh orang melalui cara yang benar, Anda dapat mengarahkan seseorang memiliki kesadaran merek, mendorong orang “melihat dan mencoba” dan penjualan merek Anda. Influencer kini seakan menjadi lokomotif perubahan yang signifikan dalam industry pemasaran. Intinya, jika Anda adalah seorang influencer, atau katakanlah menguasai ketrampilan sebagai influencer di bidang pemasaran influencer, dengan perjalanan yang begitu mudah Anda dapat mencapai tujuan Anda.
Pada saat yang sama, konsumen belajar makna dari temuan baru yang muncul di jaringan sosial dan mengeksplorasi kemungkinan terkait dengan seberapa besar pengaruh mereka, apa artinya, dan juga cara untuk meningkatkannya. Merek juga mencari cara untuk memahami angka-angka yang muncuk dalam model pengukuran penagruh untuk mengidentifikasi apakah orang itu tepat dan cara mereka untuk menghubungkannya. Apakah itu melalui kegiatan advokasi atau promosi, membangun hubungan, atau melalui peristiwa penting, segala sesuatunya dimulai dengan pemahaman tentang apakah mereka bisa mempengaruhi atau tidak. Sekali pengaruh dan cara kerjanya dipahami, merek akan terus mengembangkan strategi dan prosesnya untuk berkawan dengan konsumen terhubung agar menjadi orang “berpengaruh” di jaringan mereka.
Kenapa bisa begitu? Saat ini orang bisa menjadi influencer, meski mungkin hanya sebagai mikro-influencer, atau orang yang dapat mempengaruhi perubahan dalam kelompok yang kecil. Kalau orang itu memang mendedikasikannya sebagai influencer dan mengetahui langkah-langkah yang tepat menuju kearah itu, orang dapat mencapai tingkat berikutnya, yakni sebagai seorang influencer yang ahli untuk subjek tertentu. Tingkatan mikro tersebut, menurut John Lincoln, penulis buku Digital Influencer, A Guide to Achieving Influencer Status Online, biasanya bisa dicapai dalam dalam waktu 1 sampai 5 tahun, tergantung darimana dan dimana mereka mulai.
Yang sudah tinggi dikenal sebagai sebagai influencer makro. Mereka ini umumnya seseorang yang sudah  besar seperti Oprah, Michael Jordan atau Tony Robbins. Untuk mencapai tingkat ini, umumnya membutuhkan waktu yang jauh lebih banyak dan lama. Tingkatan ini yang tertinggi. Namun, untuk pebisnis tak perlu sampai ke tingkatan yang ahli seperti Oprah tadi. Anda tak perlu menjadi Oprah, tapi Anda mungkin bisa memanfaatkannya. Anda tak perlu memiliki yang penting adalah akses ke tingkatan itu. Itu saja mampu  mengantarkan Anda sebagai seorang yang ahli dan top di industri dan bisnis Anda seperti yang orang inginkan.
Menjadi influencer membtuhkan dedikasi sehingga terus tumbuh. Ini berarti mereka harus mendidik, berkontribusi untuk inovasi industri, membantu orang lain, membangun hubungan, memperbaiki diri dan mengambil semua ini serta tahu cara menggabungkannya secara efektif dalam pemasaran online. Lincoln mendefisikan digital influencer sebagai sebuah persona online dengan kekuatan untuk merangsang pola pikir dan mempengaruhi keputusan orang lain melalui hal-hal nyata atau dirasakan publik memiliki otoritas, pengetahuan, posisi, distribusi atau hubungan."
Jadi, pada dasarnya digital influencer itu adalah orang yang memiliki kekuasaan secara online untuk membuat sesuatu terjadi. Banyak orang berbicara tentang influencer. Tetapi, mereka gagal menyebutkan perbedaan antara influencer biasa dan digital influencer. Perbedaan utamanya adalah bahwa ada elemen online digital influencer. Persolannya, banyak influencer yang tidak mengetahui bahwa mereka dapat menggunakan status mereka untuk mengembangkan saluran pemasaran online yang signifikan untuk bisnis mereka.
Digital influencer mengetahui dan faham benar tentang saluran online serta menggunakannya untuk mendorong statusnya sebagai influencer ke tingkatan berikutnya. Misalnya, influencer digital tahu bahwa dia harus menghabiskan sebagian besar waktu mereka di Reddit. Mereka juga akan tahu bagaimana menggunakan LinkedIn untuk mendapatkan pelanggan.

Buku ini bisa membantu Anda memecahkan masalah terkait dengan digital influencer. Buku ini bisa dianggap sebagai suatu karya yang jenis dan model influencer klasik yang bisa memberikan pedoman di banyak hal terkait influencer dan memberikan kunci untuk menjadi influencer sukses. Mungkin karena itu, Forbes menganggapnya sebagai salah satu buku marketing terbaik untuk dibaca tahun ini

Minggu, 13 November 2016

Sekarang, Trump Butuh Rebranding atau Reposisitoning?


Pemilihan Presiden Amerika Serikat menjadi dramatis beberapa jam setelah pemilih menentukan pilihannya, 9 November lalu. Calon dari Republik, Donald Trump, memenangi pemilihan dengan suara mayoritas luar biasa, mengalahkan opini yang selama itu diciptakan oleh hasil jajak pendapat yang menempatkan pesaingnya favorit Demokrat, Hillary Clinton.
Trump memenangi pemilihan dengan perolehan 276 electoral treshold, sementara lawannya Hillary Clinton dari Partai Demokrat hanya mengantongi 218. Trump meraih 57.059.713 suara (48 persen), sedangkan Hillary hanya 56.060.334 suara (47 persen). Perolehan suara Trump 276 melebihi batas maksimal 270 untuk menang. Sementara Hillary masih jauh dari angka 270.
Inilah akhir dari kerja keras kampanye kedua kandidat selama kira-kira 18 bulan, setelah Clinton mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden pada April 2015 dan Trump Juni 2015. Tidak hanya menang Pilpres, Partai Republik juga memenangi pemilu dengan dengan merebut 51 kursi di senat dan Demokrat hanya 47 kursi. Sementara parlemen atau DPR AS, juga menang dengan 235 kursi, sementara Demokrat hanya 183 kursi.
Jajak pendapat paling akhir baik yang dikutip BBC, Bloomberg dan CBS News, menunjukkan rata-rata akhir 48% untuk Clinton dan 44% untuk Trump. Tapi semua itu berubah pada pagi hari tanggal 9 November di 05:00 GMT (00:00 EST), setelah Trump memenangkan negara bagian Ohio dan Florida. Ini menunjukkan bahwa jajak pendapat tidak selalu bisa dipercaya. Pada 07:34, Trump terpilih sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat, dan memunculkan riak global besar karena sebagian besar orang kaget.
Di akhir masa kampanye, dua-duanya diterpa cerita negative. Clinton mendapat pemberitaan negative sekitar penggunaan server email pribadi untuk email resmi, sementara Trump menimbulkan kontroversi sendiri melalui penolakannya untuk menjelaskan sekitar pajaknya - yang kemudian bocor – dan komentar menghinanya terhadap kaum imigran dan perempuan.
Ribuan pengunjukrasa yang anti Donald Trump turun ke jalan-jalan di berbagai kota di seantero Amerika Serikat pada Sabtu untuk memprotes presiden yang baru terpilih itu. Ribuan demonstran berbaris ke Trump Tower di kota New York Sabtu sore dengan berbagai poster dan seruan termasuk "Black Lives Matter (Hidup Orang Kulit Hitam Berarti" dan "Not My President" (Bukan Presiden Saya)."
Sebagai seorang pebisnis dan dipilih sebagai Presiden AS, Donald Trump tampaknya memahami kebutuhan untuk rebranding. Ini setidaknya telah ditunjukkan saat Agustus lalu ketika dua tertinggal dalamjajak pendapat, kehilangan pangsa pasar, mengkhawatirkan pendukung keuangannya, dan pencitraan yang dilakukan rival utamanya sebagai produk beracun yang menghasut kebencian dan kefanatikan, dari perspektif bisnis, tidak ada keraguan bahwa yang dibutuhkan Trump adalah rebranding.
Agustus lalu, dia mereshuffle tim kampanyenya. Tone kampanyenya juga berubah. Dia terus berorasi tapi dia juga mengatakan menyesali beberapa ucapan offensifnya. Dalam pertemuannya di New York, dia mengulurkan tangannya kepada pemimpin Hispanik. Dia juga mengisyaratkan bahwa dia juga menyatakan akan mengkaji ulang usulannya untuk mengumpulkan dan mendeportasi jutaan imigran gelap.
Proses rebranding itu mendapat hambatan. Beberapa pendukung yang paling vokal – diantaranya Ann Coulter dan Sarah Palin - menyatakan kemarahan atas saran bahwa Trump mungkin mengusulkan kemungkinan mengizinkan beberapa pendatang illegal untuk bisa tinggal di Amerika Serikat secara hukum. Trump tampaknya bimbang.
Berbicara dalam acara Fox News Bill O'Reilly beberapa waktu lalu, Trump tampaknya secara perlahan akan mengadopsi kebijakan deportasi tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Pemerintahan Obama. “Apa yang orang tidak tahu adalah bahwa Obama telah mengeluarkan sejumlah orang ke luar negeri,” katanya. “Banyak orang yang dibawa ke luar negeri berdasarkan hukum yang ada. Yah, aku akan melakukan hal yang sama.” Kemudian, berbicara dengan CNN beberapa hari kemudian, dia mundur dengan mengatakan bahwa di bawah pemerintahan Trump, semua imigran gelap harus meninggalkan negara itu sebelum mengajukan permohonan status hukum.
Persoalan yang dihadapi Trump, seperti yang ditulis John Cassidy di www.newyorker.com, Agustus lalu sebenarna – seperti yang dihadapi pebisnis yang bermasalah dan konsultan branding – adalah menu sehari-hari mereka. Dalam konteks ini, ketika muncul ketegangan antara kebutuhan yang mendesak untuk mengubah persepsi publik terhadap perusahaan mereka dan risiko “diasingkan” pelanggan dan stakeholdernya – dalam hal Trump adalah pendukungnya – pilihannya bukan melakukan demo tandingan. "Pembalasan" tentu akan menghasilkan pembalasan baru. Bila demikian persoalan akan berlarut shingga energi sosial menjadi tidak produktif. Karenanya, bagi Trump, pilihannya adalah melakukan rebranding.
Dalam konteks produk atau organisasi, rebranding adalah pilihan yang paling popular terutama ketika sebuah merek yang ingin membuang  citra sebelumnya yang negatif. Misalnya, Philip Morris mengubah namanya sendiri menjadi Altria. Atau ketika merek menghadapi tekanan persaingan seperti yang dilakukan McDonald. Rebranding hanya mengubah identitas merek. Ini biasanya dilakukan dengan mengubah sebagian besar atau semua elemen identitas merek seperti nama, ikon, warna, jenis huruf (font) dan tagline. Perubahan identitas juga dapat disertai dengan reposisi merek tapi bisa juga tidak.
Berbeda dengan rebranding, reposisi bisa dilakukan tanpa mengubah identitasnya. Reposisi berfokus pada mengubah asosisiasi merek yang menempel di benak pelanggannya atau kadang-kadang pesaingnya. Ini biasanya memerlukan perubahan janji dan kepribadian merek. Dalam reposisi, slogan sering diubah untuk mengkomunikasikan janji baru. Bahkan kadang-kadang identitas itu sendiri diperbarui atau disegarkan untuk memperkuat perubahan positioning merek. Namun, sebagian besar reposisi merek tidak menghasilkan identitas benar-benar berubah.
Sebuah kampanye rebranding yang sukses bisa dilihat dari dua hal. Pertama, mengejutkan sehingga menarik perhatian orang. Menarik perhatian orang tidak harus dilakukan dengan mengadakan demo tandingan. Kedua, membuat mereka berpikir lagi tentang perusahaan atau produk. Ini membutuhkan penyampai pesan -- dalam hal ini Trump atau orang terdekatnya -- pesannya sendiri dan medianya harus kredibel.

Sabtu, 12 November 2016

Membangun Komunitas Melalui Game Twitter


Judul Buku       : #tweetsmart: 25 Twitter Projects to Help You Build Your Community
Penulis              :  J. S. McDougall
Penerbit            : O’Reilly Media, February 2012
Tebal buku       : 106 halaman termasuk cover

Media sosial bisa menjadi sarana perusahaan untuk berkontak sosial dengan pelanggan mereka.dengan kata lain, media sosial menyediakan ruang pertemuan antara perusahaan dengan pelanggan maupun antarpelanggan sendiri. Di sisi lain, pertemuan adalah sesuatu yang paling berharga bagi manusia. Ini mempunyai makna bahwa media sosial tidak hanya dipandang sebagai saluran baru untuk mencapai dan berinteraksi dengan pelanggan, melainkan juga secara fundamental mengubah cara perusahaan dalam mengidentifikasi, mengembangkan, mengedukasi, dan mendukung pelanggan.

Sebagai media kampanye, media sosial memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan interaksi langsung gaya lama. Saat ini, di mana-mana orang memperbincangkannya, entah itu pelayan, sopir taksi, pemilik toko, penjual, maupun orang yang duduk di samping meja makan Anda. Bahkan media sosial kini menjadi trend setter sehingga ketika seseorang tidak memiliki satu akun merasa tertinggal. Karena itu, wajar setiap muncul satu bentuk media sosial baru orang, termasuk perusahaan,  berbondong-bondong mengaplikasinya. Salah satu alasannya adalah kita takut didahului oleh orang lain. 

Media sosial adalah sarana, bukan tujuan. Dalam konteks ini, media sosial seringkali disalahkan ketika tujuan yang diharapkan tidak tercapai. Orang atau perusahaan sering membuat akun di setiap situs media sosial yang baru muncul, menghabiskan sedikit waktu berharga yang mereka miliki, tetapi kemudian meninggalkannya sampai mati sendiri jika tidak ada hasil yang segera dinikmati.

Buku #tweetsmart  – seperti yang dikatakan penulisnya J.S. McDougall -- adalah jawaban penulis kepada siapa saja yang pernah bertanya, "OK. Aku punya akun Twitter ... sekarang apa yang harus saya lakukan?" # tweetsmart memberikan jawabannya dengan menampilkan 25 proyek kreatif untuk membantu bisnis, atau organisasi Anda agar terus tumbuh. Dengan kata lain, buku ini bukan sekadar buku pemasaran media sosial. Buku justru anti-pemasaran yang biasanya  menjelsskan tentang bagaimana meningkatkan keterlibatan public.

Buku ini ditulis dengan asumsi bahwa Twitter adalah sebuah komunitas. Orang-orang bergabung dengan Twitter untuk bertemu teman baru dan mendiskusikan kepentingan mereka dengan berbagai macam orang-yang sebagian besar dari mereka tidak pernah bertemu di dunia nyata. Tak seorang pun akan mengatakan bahwa mereka bergabung dengan Twitter untuk membuat diri mereka lebih tersedia bagi pengiklan. Iklan di Twitter-mengirimkan satu arah, tidak menarik, iklan yang sangat singkat untuk hal-hal-akan mengganggu Anda orang dan Anda akan diblokir, dilaporkan, dan tidak akan diikuti.

Rwitter bukanlah saluran pemasaran (dan tidak boleh digunakan seperti). Twitter adalah sebuah komunitas orang-orang yang memiliki kepentingan, engage, dan orang-orang berpengaruh. Bertemu dan mengenal orang-orang dapat membantu Anda membangun komunitas Anda sendiri. Dalam panduan yang berguna, Anda akan menemukan proyek-proyek untuk membantu Anda mendekati audiens melalui Twitter dengan cara yang strategis, terukur, dan menyenangkan.

Buku ini bukan manual media pemasaran sosial. Dalam buku ini terdapat 25 proyek yang bertujuan untuk membangun komunitas yang tertarik dan terlibat untuk bisnis Anda. Ini hasil yang berasal dari memiliki seperti komunitas di sekitar bisnis Anda meningkat penjualan, arahan, dan kesempatan untuk umpan balik dan perbaikan. Sangat penting untuk memahami perbedaan antara tujuan dan hasil yang Anda capai.

Ide proyek meliputi cara yang kreatif untuk menyelenggarakan kontes dengan mengandalkan tweet dan  retweet tentang hal-hal tertentu sebagai cara untuk ikut kontes. Dalam beberapa kasus, Anda dianjurkan untuk menggunakan Twitter untuk menawarkan kupon atau penjualan dan diskon khusus ketika orang mentweet dengan hashtags atau informasi tertentu kepada Anda.

Ini adalah proyek yang cukup sederhana dengan memberikan petunjuk langkah demi langkah, Link yang disertakan untuk memeriksa sumber daya lebih lanjut atau menemukan HTML jika tidak termasuk dalam instruksi proyek. Misalnya, Anda bisa menjalankan permainan hashtag pada sebuah konferensi sebagai ice-breaker dan  sebagai cara untuk melibatkan pelanggan Anda dalam melakukan sesuatu selain duduk di ruang rapat. Idenya adalah untuk bersenang-senang dengan berbagai macam ide. Proyek lainnya, seperti Tweet & Eat, yang terbukti berhasil dalam menggiring produk atau layanan. 

Setiap proyek mengandung bagian strategi lanjutan yang menawarkan hal-hal ekstra yang dapat Anda lakukan setelah Anda menguasai dasar-dasarnya. Ada juga beberapa strategi brainstorming yang besar yang akan membuat Anda berpikir tentang cara-cara yang berbeda untuk mempromosikan dan terlibat dengan komunitas Anda. Semoga Andapun berhasil

Selasa, 08 November 2016

Berdagang dan Beribadah


Sabtu, sekitar dua tiga bulan lalu, saya belanja di Pasar Bintaro 2 Tangerang Selatan. Seperti biasa yang pertama saya tuju adalah warung langganan saya, suami isteri Farid – sebut saja demikian. Sebelumnya, saya juga punya tempat langganan juga di Pasar Bintaro 2, di warung Fatimah. Namun karena pelanggan di Warung Fatimah banyak, cukup lama harus antri menunggu giliran dilayani.
Saya lalu pindah ke warung Farid. Yang melayani pembeli sebenarnya isterinya, sementara Farid menata barang dagangan, membetulkan kalau-kalau ada sayur atau buah yang letaknya berpindah atau jatuh. Cukup sabar dai menemani isterinya di warung. Dia tak pernah duduk. Selalu saja ada dagangannya yang dibetulkan posisinya.
Suatu Sabtu, sekitar pukul 07.00, saya datang ke warung Farid. Saya lihat Farid tak ada. “Kemana Mas Farid?,” tanyaku sambil memilih buah tomat.
“Lagi pulang dulu Pak,” jawab isteri Farid.
“Kok?”
“Mandi dan shalat dhuhah.”
Setiap sekitar pukul 00.00 dini hari, Farid pergi dari rumahnya di sekitar stasiun Pondok Ranji, untuk berbelanja (kulakan) di Pasar  Kebayoran Lama. Dia belanja sampai pukul 04.30 dan langsung dibawa ke Pasar Bintaro untuk dijual kembali. Habis menata dagangannya, Farid pulang dengan motor shalat shubuh lalu balik ke pasar. Itu laku Farid – yang kebetulan belum dikarunia anak -- setiap hari 
Suatu sekitar dua tiga bulan lalu itu, saya membeli nenas dua buah seharga Rp 4,5 ribu per buah. Seperti biasa, habis pesan saya meninggalkannya untuk berbelanja ke tempat lain. Farid yang memilihkan nenasnya. 
Tiga puluh menit kemudian saya balik ke tempat Farid untuk mengambil nenas yang saya pesan. “Sudah Mas?” tanya saya.
“Belum Pak….Maaf Pak yang tadi agak busuk,” katanya sambil menunjukkan dua buah yang hamper selesai dikupas. Saya lihat nenas itu memang busuk.
Mendengar pernyataan itu, saya agak kaget. “Lho kenapa bagian yang busuk nggak dipotong dan dibuang?”
Farid tersenyum. “Yang saya jual kan nenas utuh seperti yang Bapak lihat saat belum dikupas, bukan nenas yang sudah terpotong.”
Farid lalu mencoba menceritakan sesuatu ke saya……

Pada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman tabi'in bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga tokonya karena ia akan keluar shalat. Ketika itu datanglah seorang Badui yang hendak membeli perhiasan di toko itu.
Sang Badui berniat membeli satu perhiasan permata yang harganya tidak lebih dari empat ratus dirham. Saudara Yunus bin Ubaid itu lalu menunjukkan suatu barang yang sebenarnya seharga dua ratus dirham, tapi oleh saudara Yunus barang itu tetap ditawarkan dengan harga empat ratus dirham.
Sang Badui tadi tertarik dan membelinya. Barang tersebut dibeli oleh Badui tadi tanpa meminta pengurangan harga. Maka terjadilah jual beli di antara Badui itu dan penjaga toko yang dipercayakan Yunus bin Ubaid.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan Yunus bin Ubaid. Yunus bin Ubaid lalu bertanya kepada si Badui yang membawa perhiasan yang dibeli dari tokonya tadi. Memang dia mengenali barang tersebut adalah dari tokonya. Saudagar Yunus bertanya kepada Badui itu, "Berapakah harga barang ini kamu beli?"
Badui itu menjawab, "Empat ratus dirham."
"Tetapi harga sebenarnya cuma dua ratus dirham saja. Mari ke toko saya agar saya dapat kembalikan uang lebihnya kepada saudara," kata saudagar Yunus lagi.
"Biarlah, tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham."
Tetapi saudagar Yunus itu tidak mau melepaskan Badui itu pergi. Didesaknya juga agar Badui tersebut balik ke tokonya dan bila tiba dikembalikan uang baki kepada Badui itu. Setelah Yunus dan Sang Badui itu sampai di tokonya, berkatalah saudagar Yunus kepada saudaranya dengan marah, "Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali lipat?"
"Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus dirham," jawab saudaranya yang mencoba mempertahankan bahwa dia di pihak yang benar.
"Ya, tetapi di belakang kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri," kata Yunus.

“Nggak rugi,” tanya saya.
“Rugi untung itu memang risiko pedagang. Yang penting bagaimana caranya saya tidak membohongi pembeli.” katanya sambil tetap tersenyum. “Naggak apa-apa Pak saya rugi. Saya dagang kan juga untuk ibadah dan mencari ridlo Allah.”
Itu bukan sekali dua kali saya alami saat membeli di warung Farid. Suatu kali, saya membeli alpukat. Dari luar alpukat yang saya beli kelihatan mulus. Namun sesampai di rumah saat saya potong, ternyata alpukatnya busuk. Saya lalu menceritakan itu ke Farid keesokan hari. Farid langsung menggantinya dengan yang baru.
Seminggu setelah kejadian buah nenas itu, saya datang lagi ke warung Farid. Namun kali ini saya lihat warung Farid tutup. Minggu berikutya juga tutup dan selanjutnya sampai minggu ke lima. Minggu keenam, warung Farid buka kembali. Farid dan isterinya saya lihat tetap sibuk.
“Woo…. Buka? Saya kira sudah nggak jualan lagi. Pada kemana kok lama nggak jualan?” Tanya saya,
“Alhamdulillah….Minggu kemarin kami baru pulang dari haji,” kata Farid….
“Hah……subhanallah…Alhamdulillah “ kata saya.
“Iya Pak…..Keuntungan yang kami dapat dari Bapak dan pembeli lainnya kami tabung sedikit demi sedikit sehingga akhirnya kami bisa berhaji.”
“Kok nggak dipakai untuk buka warung baru atau dagang yang lain?”
“Alhamdulillah pak…. Ini saya sudah cukup. Yang penting dari hasil penjualan ini saya bisa makan, bisa beli baju, dan kontrak rumah. Dan yang lebih penting lagi, saya tetap bisa beribadah.”

Minggu, 06 November 2016

Pak Tantra, Pedagang Sayuran Pasar Bogor


Pak Tantra, 59 Tahun, sudah sekitar 20 tahun berdagang sayuran dan bumbu di kios lantai dasar Pasar Bogor. Dua hari sekali atau tiga sampai empat kali seminggu Pak Tantra berbelanja (kulakan) barang dagangannya seperti sayuran, cabe, bawang, tomat, kentang dan sebagainya di Pasar Induk Kemang Bogor. Volume belanjaannya yang besar membuat Pak Tantra menggunakan mobil pick-up bila kulakan.
Selain itu, Pak Tantra juga membeli barang untuk dijual lagi pada pedagang grosir yang biasa datang atau jualan di Pasar Bogor. Barang yang dibeli dari pedagang grosir ini biasanya cuma satu macam karena untuk memenuhi permintaan dari pembeli yang kebetulan saat itu Pak Tantra kehabisan barang. Misalnya bila ada pembeli yang membutuhkan sayur bayam, Pak Tantra membeli sayur bayam tadi ke pedagang grosir sebanyak 20-30 kg. Para pedagang grosir ini iasanya menggunakan mobil pick-up juga. “Jadi biasanya dia juga jualan disini dan pedagang lain beli dari dia. Jadi dianggap sebagai grosir nya gitu,” kata Pak Tantra.
Untuk kulakan tadi, rata-rata dalam seminggu Pak Tantra menghabiskan dana antara Rp 7,5-Rp 10 juta. Jumlahnya tergantung pada stok dan harga. Menurut Pak Tantra, karena harga sayuran itu tidak menentu, jumlah uang yang dibelanjakan juga beragam. Misalnya, lima hari lalu Pak Tantra bisa menjual tomat dengan harga Rp 5.000/Kg, sekarang (saat wawancara dilakukan, 5 November 2016) harga beli dari pedagang di Pasar Induk Rp 12.000/Kg. Jadi uang yang dibelanjakan juga berbeda dari minggu sebelumnya.
Demikian pula, bila pada tiga hari sebelumnya harga cabe daripedagang grosir Rp 28.000/kg, tiga hai berikutnya menjadi Rp 55.000/kg. Jadi modal kerja bervariasi antara Rp 7,5 juta hingga Rp 10 juta, tergantung harga barang. “Karena biasanya nyetok seperti bawang untuk 2 hari. Namun ya itu biasanya emang sengaja beli barang yang biar 2 hari habis, karena kan liat ketahanan barang juga ya, biasanya emang mau nya yang habis dalam jangka pendek, biar gausah mikir apa-apa lagi. Dan kalau harga nya lagi mahal gini, walaupun jualnya kuantitinya lebih sedikit, tapi omsetnya lebih besar karena harganya lebih mahal.”
Jadi apa yang ingin dicapai Pak Tantra? “Jangan sampai pelanggan saya kecewa karena barang yang mereka butuhkan tidak tersedia. Mereka datang ke tempat saya dari rumahnya dengan harapan barang yang mereka butuhkan ada di tempat saya. Alangkah kecewanya bila mereka mendapati barang yang mereka butuhkan itu tidak ada. Mereka kecewa dan berusaha lagi yang mungkin tidak bisa didapatkan saat mereka berjalan dua atau lima meter dari tempat saya. Kalau mereka kecewa saya berdosa. Karenanya saya berusaha mencarikan baran yang dibutuhkannya, meski keuntungan yang saya dapatkan tipis atau tidak ada sekali karna saya mendapatkannya dari orang lain yang juga ingin mengambil untung. Biarlah keuntungan didapat dari pembeli lainnya. Toh, rezeki sudah digariskan oleh yang diatas.”
(Tulisan ini ada atas jasa mahasiswa saya di STIKOM LSPR, Hilda Putri Anggraini) 

Senin, 31 Oktober 2016

Mengapa Public Ralations Harus Direposisi?


Tahun 2000, Kevin Moloney menulis buku berjudul Rethinking public relations: the spin and the substance. Salah satu isu public relations yang diangkat buku tadi adalah reputasi public relations yang rendah. Bagi Moloney, sebuah ironi bila PR harus menanggung nasib harus menangani suara negative tentang dirinya sendiri sementara mereka terbiasa dengan isu negative kliennya. Selesai atau PR sudah berubah? Mungkin.
             Kalaupun itu belum diaggap selesai, kini muncul tantangan baru. Apapun namanya, disruptif, efektif atau lainnya, praktisi public relations kini harus memikirkan ulang tugas dan tanggungjawab mereka. Seperti juga dirasakan banyak teman-teman di industri surat kabar, saluran berita media utama (cetak, siaran dan bahkan web-based) kini tak sesakti dulu. Wartawan kini seakan jadi bulan-bulan media sosial. Mereka dipaksa mengejar ketertinggalan karena informasi di media sosial sering – bahkan mungkin selalu -- menjadi breaking news ketimbang di media utama.
                Anggap saja itulah pergeseran seismik kekuasaan yang terjadi dalam dua tahun terakhir, tulis John Hayes di ww.cision.com, dua tahun lalu. Media konvensional seperti koran dan televisi kini tidak lagi memonopoli berita. Orang kini mem punyai banyak saluran informasi alternative. Karena kini setiap orang bisa membuat dan menyiarkan sekaligus menyaksikan berita. Setiap orang kini bisa menciptakan isu dan pembicaraan di media sosial. Setiap orang kini bisa membangun agenda. Susahnya kalau pembicaraan itu kontennya negative tentang kita atau lingkungan kita.
                Tidak percaya? Lihat saja, berapa banyak acara televisi atau media lainnya yang menayangkan atau menurunkan konten yang berasal dari cuitan Twitter (kini cuitan Twitter selebriti jadi berita), Facebook, rekaman video kamera smartphone, dan Youtube. Itu semua seringkali kali produksi orang-orang yang mungkin duu tidak Anda kenal. Ini sekaligus menunjukkan bahwa seseorang bisa menjadi public relations bagi dirinya sendiri. Mungkin Anda bisa menghitung berapa banyak selebriti lahir karena media sosial? Karenanya kini muncul kosa kata baru seperti selegram dan sebagainya. 
                Bagi industry seperti media dan public relations yang dibangun dari pondasi hubungan dengan media, perkembangan ini mungkin sangat mengganggu. Bagaimana tidak, media relations kini tidak lagi berkaitan lagi dengan media koran, TV dan radio tapi kini makin luas, termasuk dengan blogger dan sebagainya. Muncullah kosakata baru outreach, suatu strategi untuk menjangkau kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang karena faktor struktural memiliki hambatan untuk mengakses informasi dan layanan publik yang ada didalam masyarakat. Dari sini populer kata influencer yang pada era Paul Lazarsfeld (komunikasi dua langkah) dan Everet Rogers (difusi inovasi) dulu dikenal sebagai opinion leader. 
Pekerjaan public relations kini juga makin berat karena mereka harus menjaga “yang selalu harus mereka jaga” dari pemberitaan dan mengendalikan pembicaraan publik yang beredar di media sosial. Pekerjaan PR kini bukan lagi sekadar memenangkan kolom inci atau liputan TV. Praktisi PR kini juga dibebani tanggungjawab menenangkan pembicaraan tentang yang harus dijaganya tadi di media sosial. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mempersuasi beberapa editor dan media berita adalah satu hal, tetapi bisa meminimalisir kemungkinan munculnya breaking news versi media sosial tentang “yang harus dijaga”nya tadi adalah cerita yang lain.
PR modern sekarang tidak hanya memantau dan menjaga hubungan dengan media tradisional, mereka juga harus melototi hampir tanpa berkedip lanskap media sosial bisa jadi susah diatur dan siap mengatasi setiap percikan negatif sebelum mereka menjadi amuk api.
Memiliki teknologi yang tepat untuk memantau web sosial, terlibat dengan orang-orang yang selalu terhubung dalam pembicaraan di media sosial dan menganalisis dampak percakapan itu kini tidak lagi sebuah kemewahan. Ini adalah komponen penting dari setiap strategi PR dan bila kurang atau lengah sedikit saja bisa berisiko bagi reputasi klien mereka. Jadi sangat beralasan bila beberapa minggu lalu ada mahasiswa LSPR – melaui skripsinya – mengusulkan kompetensi cyber PR.

Kamis, 27 Oktober 2016

Facebook? Apa Masih Bermanfaat?


Mungkin masih ada ada yang bertanya-tanya tentang Facebook, apakah orang-orang masih menggunakannya? Apakah penggunanya menurun? Apakah facebook masih berharga untuk bisnis? Dengan lebih dari 1 miliar pengguna aktif, mungkin orang masih mengatakan Facebook masih hidup dan sehat.
Benar saat ini telah banyak jejaring sosial lain yang bermunculan. Tapi dengan jujur saya mengatakan bahwa Facebook saat ini masih menjadi pilihan. Sulit memang menebak masa depan Facebook karena bisa jadi – seperti banyak terjadi belakangan – yang dulu dipuji sekarang terjungkal. Ini termasuk Facebook, apakah Facebook masih menjadi tools utama dalam pemasaran media sosial saat ini, tergantung bagaimana Facebook nanti mengadaptasikan atau menempatkan dirinya terhadap perubahan.
Bagi sementara orang Facebook menarik bukan hanya karena memberikan informasi real-time tetapi dengan nuansa yang lebih dalam. Facebook mungkin tidak selalu menyampaikan kabar secepat Twitter. Akan tetapi, Facebook menyediakan platform yang memungkinkan orang untuk membahasnya secara lebih detail dan mendalam untuk diskusi.
Facebook juga memungkinkan orang masuk ke tingkat keterlibatan yang lebih dalam dibandingkan  jaringan, karena tidak membatasi jumlah karakter atau berbagi gambar. Orang bisa mengatakan apa yang ingin Anda katakan. Pembeda utama ini telah membuat Facebook sebagai platform sosial yang paling banyak digunakan, termasuk pada saat makin banyaknya jaringan baru diperkenalkan setiap hari.
Dalam enam bulan pertama 2016, pemain industri utama dunia saat ini seperti Discovery, Amazon, Mercedes-Benz, YouTube dan Coca-Cola menikmati pertumbuhan pengagumnya di Facebook yang signifikan. Rata-rata, halaman Facebook mereka menambah 450.000 penggemar baru dan tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Tak ada tanda-tanda bahwa platform media sosial ini bakal mencapai titik jenuh, baik untuk merek penggunanya maupun Facebook sendiri.
Rata-rata postingan update di halaman merek memang lebih sedikit. Akan tetapi, menurut Quintly seperti yang ditulis SocialTimes (26 Oktober) lalu, ini menyembunyikan sifat sejati postingan merek itu. Disney misalnya memposting rata-rata 4,32 kali per hari, sementara PlayStation posting 2,62 kali per hari. MTV rata-rata lebih dari 67 posting per hari. Kecenderungan tingkat keseringan posting ini lebh mencerminkan merek ingin menjaga kualitas postingannya yang berharap keterlibatan yang lebih dalam daripada interaksi yang lebih luas.
Video yang diposting di Facebook kini menjadi aspek inti dari kehadiran merek yang memungkinkan merek berinteraksi lebih panjang dengan fans, dibandingkan dengan posting gambar. Quintly menemukan 54,9 persen postingan Facebook dari lebih 30 merek yang disurvei adalah postingan video. Tak bisa dipungkiri bahwa video memang lebih memungkinkan merek untuk bercerita. Orang pun seakan tanpa henti menonton video sehingga memungkinkan audiencenya terlibat.
Keterlibatan ini mengarah ke percakapan yang lebih tinggi bagi pengguna di halaman perusahaan di Facebook. Quintly menemukan bahwa rata-rata halaman perusahaan di Facebook menerima 1,000-2,400 posting dan 224-426 pertanyaan dari pengguna setiap bulan. Interaksi yang meningkat ini  menempatkan ketegangan pada halaman dan waktu respon pengelola sehigga bisa berbalik menjadi  masalah. Inilah yang harus segera ditangani, bila halaman perusahaan di Facebook atau bahkan Facebooknya sendiri bila mereka masih ingin engage dengan pengguna atau penggemarnya.

Terlepas dari ukuran bisnis halaman Facebooknya adalah penting untuk memperlakukan waktu fans dengan penghormatan yang tinggi. Melayani mereka dengan konten video yang bergerak, memberikan sejumlah kecil posting lebih bermakna dan menanggapi keprihatinan dan pertanyaan mereka pada waktu yang tepat saat ini menjadi faktor penentu keberlangsungan keterlibatan yang sangat penting.

Rabu, 26 Oktober 2016

Sudah Tahu Tanda-tanda akan Adanya Krisis, Tapi Sering Diabaikan


Maret 2005 sebuah ledakan dan kebakaran di kilang BP di Texas City dekat Houston dan menewaskan 15 dan melukai 170 - kecelakaan industri terburuk di Amerika dalam satu dekade. Penyelidikan resmi menemukan enam penyebab, yang semuanya telah diketahui manajemen, dan penyelidikan berikutnya semua lima kilang BP America menghasilkan indikasi bahwa sebelumnya sudah ada peringatan namun  nyaris diabaikan.
Pengabaian itu ditunjukkan dengan adanya pemotongan biaya yang berlebihan, budaya keselamatan yang buruk dan kepemimpinan yang kurang memberikan kewenangan kepada mereka yang punya kompetensi dan hak menyuarakannya ke pimpinan puncak perusahaan. Akibatnya, Oktober 2009 BP didenda $ 87 juta karena kelalaian, termasuk $ 31.000.000 untuk  "pelanggaran yang disengaja" yang dilakukannya (Greenhouse, 2009)
Tak peduli seberapa besar skala usaha, reputasi dan didang industrinya, perusahaan bisa saja terkena krisis. Setiap kali berada dalam situasi krisis, apakah itu karena kesalahan manusia atau tidak, mau tidak mau perusahaan harus memiliki respon manajemen yang sukses dengan metode yang tepat waktu dan hati-hati ketika menyampaikan informasi kepada stakeholder kunci.
Keniscayaan dan ketidaktahuan orang tentang kapan persisnya suatu krisis terjadi memaksa perusahaan atau organisasi memiliki struktur dan proses yang sesuai untuk mengurangi risiko yang muncul akibat insiden tersebut. Disini termasuk membangun sebuah tim manajemen krisis, penyusunan rencana pemulihan, pemberian dan pembagian tanggung jawab, pelatihan kepada seluruh karyawan dan membangun protokol komunikasi yang efektif untuk menghadapi tantangan ekstrim. Jika sistem ini diberlakukan, mereka tidak akan hanya mengurangi potensi kerusakan krisis, tetapi juga akan membantu perusahaan dalam mencari jalan keluar dari krisis.
Namun demikian, tidak ada rencana darurat yang bekerja seperti yang diharapkan kecuali bila secara teratur dikaji dan adanya sistem yang bisa menunjukkan apakah rencana itu bisa bekerja atau tidak bekerja. Tidak ada rencana darurat  bekerja kecuali ada sistem peringatan dini yang efektif. Setelah semua, jika Anda tidak mengetahuinya, Anda akan kesulitan bila kelak berurusan dengan masalah tersebut. Perlu juga diingat, bahwa selama situasi krisis ada situasi dimana sistem komunikasi berada dalam kondisi kelebihan beban. Karena itu, Anda harus mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi dimana volume arus percakapan melalui telepon, e-mail, media sosial, pertemuan tatap muka, dan media komunikasi lainnya meningkat tajam.  
Susahnya, pemangku kepentingan, khususnya investor, akan membuat penilaian mereka berdasarkan pada informasi yang diperoleh melalui liputan media. Jika Anda tidak mempersiapkan diri dengan situasi itu dengan efektif, maka Anda akan gagal. Artinya, jika Anda selama ini jarang melakukan kontak dengan mereka, maka jangan harap infomasi yang Anda sampaikan akan dipercaya oleh investor.
Mereka juga akan mendasarkan tindakan masa depan mereka pada apakah mereka merasa bahwa Anda terbuka dan jujur. Seorang investor tidak mungkin menyimpan uang mereka di sebuah perusahaan yang secara kelembagaan tidak dapat percaya ketika menangani situasi yang tak terduga. Tanggapan Anda terhadap krisis akan dilihat sebagai refleksi langsung dari bagaimana Anda berkerja sehari-hari.
Komunikasi krisis adalah kegiatan public relations dengan perencanaan yang matang, meski jarang  dilaksanakan. Namun demikian, sangat penting bagi perusahaan memiliki rencana ketika keadaan buruk. Ketika sebuah produk gagal, terjadi kecelakaan, krisis keuangan muncul atau bencana alam terjadi, apa pun yang mungkin terjadi, rencana komunikasi krisis dapat menjaga perusahaan dari kekacauan lebih dalam dan bisa memberikan arahan untuk menghindari kekacauan.
Bagi praktisi public relations, mendengarkan keluhan orang adalah tindakan yang bijaksana. Ini penting karena mendengarkan itu berarti mencoba memahami hal-hal yang membuat orang marah. Kemarahan menghalangi komunikasi, dan orang yang Anda harapkan mendengarkan pesan Anda, mereka tidak akan mendengarkan pesan Anda sampai mereka telah mengatakan yang ingin mereka katakan.
Dengan demikian, ketika terjadi krisis, praktisi public relations dituntut untuk lebih mendengarkan atau menjadi pendengar yang baik ketimbang berbicara. Lampton (2003) dan Reid (1998) memberikan gambaran tentang ciri-ciri pendengar yang baik; mempertahankan kontak mata, memberikan perhatian penuh pada pembicara, menunjukkan bahasa tubuh yang perhatian, memberikan isyarat verbal, memberi klarifikasi, menunjukkan empati, sabar, tidak memotong pembicaraan, menunjukkan pikiran terbuka, membiarkan pembicara memberi jawaban, dan mendengar niat da nisi pembicaraan.  
Media sosial telah mengubah lanskap untuk mengembangkan mekanisme komunikasi krisis dan menawarkan saluran komunikasi penting untuk mengatasi dan mereda krisis. Sosial media dapat meledakkan situasi dalam hitungan menit. Ketika sebuah cerita jeda, orang secara aktif mencari jawaban, dan lebih banyak orang daripada sebelumnya yang beralih ke Twitter untuk menemukan jawaban-jawaban yang muncul di pikiran mereka.
Karena itulah penting bagi perusahaan untuk memantau dan mengalisis pembicaraan yang berlangsung  di media sosial? Ini karena saat ini, pertama, hampir semua orang, terutama orang Asia, semakin online. Kedua, sepertiga (34%) dari 2000 perusahaan terbesar di dunia berbasis di Asia - Forbes. Ketiga, merek, pemerintah, dan individu selalu berbicara – tentang apa saja, termasuk merek Anda  -- dan kritik melalui online atau media sosial. Karenaitu jangan heran bila kritik tentang perusahaan Anda petama kali muncul bukan melalui media konvensional melainkan melalui media sosial.
Menggunakan Twitter untuk komunikasi krisis secara cepat bisa menjadi komponen penting dalam strategi setiap perusahaan. Twitter adalah media yang dapat digunakan untuk mencegah keterisolasian perusahaan dari masyarakat. Twitter juga bisa digunakan sebagai media berkomunikasi dengan cepat dengan stakeholder kunci dan publik setelah krisis terjadi.
Seperti dalam semua komunikasi bisnis, Twitter perlu menjadi bagian dari strategi yang lebih luas, dan menjadi salah satu dari berbagai saluran yang Anda gunakan untuk mendengarkan dan berbagi dengan Anda karyawan, pelanggan, klien, dan industri. Hal ini berlaku baik untuk pencegahan dan bila sewaktu-waktu perusahaan perlu bereaksi.

Namun, tantangan mendasar bagi manajemen tidak hanya mengakui pentingnya sistem peringatan dini tetapi juga memiliki sistem yang bisa mengkonversi peringatan dini tadi menjadi tindakan pre-emptive. Literatur menunjukkan bahwa kebanyakan - jika tidak semua krisis – yang sebenarnya didahului oleh sinyal peringatan, sering diabaikan. Misalnya, James dan Wooten (2005) menyimpulkan: "membaranya krisis hampir selalu meninggalkan jejak bendera merah dan sinyal peringatan bahwa ada sesuatu yang salah, namun sinyal ini sering diabaikan oleh manajemen." (Hal 143).

Mengapa Strategi Komunikasi itu Penting?


Sebelum 2010, kebanyakan orang mengetahui komputer tablet hanya di fiksi ilmiah. Namun, Apple mengubah semua itu. Kisah tentang bagaimana Apple menciptakan dan menjual iPad bukanlah kisah  tentang bagaimana sebuah perusahaan merancang dan membuat produk yang hebat. Juga bukan tentang kampanye PR peluncuran sebuah produk. Ini adalah kisah tentang bagaimana Apple menjual lebih dari 200 juta unit sebuah produk revolusioner berkat strategi komunikasi yang radikal.
Hingga 2010, orang belum membayangkan bahwa teknologi tablet cognoscenti merupakan inovasi yang mengubah dunia. Pada Juli 2009, Financial Times (FT) menulis laporan tentang Apple pada halaman depan edisi Amerika-nya. Inti cerita dari tulisan itu adalah tentang album musik yang bisa didownload. Kemudian ada tulisan kedua tentang Apple di halaman 16. Di halaman ini, FT menulis tentang rencana Apple meluncurkan tablet dekat perayaan Natal tahun itu. Tablet baru itu, tulisnya, memiliki layar sentuh yang sensitif, seperti iPhone sangat sukses, tetapi berukuran diagonalnya hingga 10 inci dan  mampu menghubungkan ke internet dan toko perangkat lunak dan hiburan online dari Apple.
Artikel di halaman 16 mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya. Satu kalimat kuncinya adalah h perangkat portabel untuk menonton film. Harganya sekitar $ 600 dan $ 1.000. FT merakit informasi itu dari berbagai sumber menjadi tulisan yang dinikmati pembaca meskipun tidak memiliki konfirmasi dari Apple. Walau harus diakui bahwa kadang-kadang artikel tanpa atribut bisa jadi merupakan hasil  bocoran yang disengaja. Ketika itu mungkin tidak ada alasan bagi pembaca untuk percaya bahwa tulisan ini adalah informasi itu merupakan kebocoran sengaja yang dilakukan Apple. Yang pasti, ketika artikel itu muncul, Apple tidak mengatakan apa-apa. Tapi cerita tentang iPad telah dimulai.
Tablet adalah komputer portabel yang dikemas hanya dalam sepotong benda, tanpa keyboard terpisah dari laptop. Bill Gates dari Microsoft menunjukkan prototipe tablet di Comdex 2000 dan meramalkan bahwa tablet akan menjadi sejenis computer prtibadi (PC) yang paling popular. Beberapa tahun kemudian, keluar tablet dengan menggunakan sistem operasi milik Microsoft yang terkecil ... berat dan mahal ... Kebanyakan orang mengabaikannya. Rupanya pembuat komputer tidak bisa menemukan pasar konsumen untuk tablet. Orang mungkin melihat bahwa tablet memiliki masa depan yang cerah. Nah untuk bisa menghasilkan uang, seseorang hanya perlu mengetahui “apa” itu.
Siapa pun (lembaga, perusahaan dan orang) membutuhkan strategi komunikasi yang membantu mencapai tujuan mereka. Tanpa strategi komunikasi, Anda mempertaruhkan segalanya berputar di luar kendali. Tanpa strategi komunikasi, Anda tidak dapat memobilisasi orang yang Anda perlukan. Tanpa strategi komunikasi, Anda mungkin tidak memiliki posisi di tempat Anda bekerja sekarang, dan Anda pasti tidak tahu kapan, kepada siapa, atau bagaimana untuk menceritakan kisah Anda.
Buku ini adalah tentang strategi komunikasi. Bagian I melihat apa yang terjadi ketika ada sesuatu yang salah karena strategi komunikasi yang tidak pantas, tidak memadai atau bahkan tidak ada sama sekali. Semua presiden baru Amerika Serikat pernah mengatakan sesuatu yang salah. Jimmy Carter mengatakan kepada majalah Playboy bahwa dia telah "melakukan perzinahan dalam hati berkali-kali." Hasilnya, dia langsung kehilangan 15 poin dalam jajak pendapat menjelang pemilihan presiden tahun 1976. Bill Clinton menyatakan, "Saya tidak melakukan hubungan seksual dengan wanita itu.”Barack Obama berbicara tentang "kamp kematian Polandia," sementara yang dimaksud adalah kamp Nazi yan berada di Polandia.
Penulis buku ini, Steven Olivan, mendalami dan berpengalaman dalam komunikasi publik dengan bekerja di salah satu perusahaan terbesar di dunia (BP) di New York dan London. Dia telah bekerja untuk sejumlah perusahaan sebagai eksekutif atau konsultan di bidang komunikasi.  Sejak tahun 2000, dia menjabat sebagai direktur corporate affairs di perusahaan terkemuka (BAA), dan sebagai direktur direktur komunikasi dan hubungan investor di dua perusahaan wisata terbesar di dunia, MyTravel dan Thomas Cook.
Bila Anda ingin langsung mengetahui tentang bagaimana melakukan strategi komunikasi, Anda boleh membaca bagian II buku ini, khususnya di bab 7 dan 17 yang membahas tentang bagaimana menempatkan strategi komunikasi untuk dipraktekkan selama 100 hari.

Buku ini menarik dan cocok bagi Anda yang ingin mendalami tentang seni berkomunikasi. Bukan hanya kalangan praktisi public relations, praktisi lainnya juga perlu membaca buku ini karena bagaimanapun berkomunikasi adalah kegiatan orang sehari-hari dan mempunyai implikasi. Ini makin memperkuat kenapa berkomunikasi itu itu juga strategi.