Rabu, 27 Januari 2016

Belajar dari Joko Susilo Dalam Membangun Silaturahmi


Selasa (26 Januari 2016) pukul 13.00 saya membaca pesan What’sApp dari seorang teman bekas wartawan Jawa Pos yang mengabarkan bahwa Joko Susilo, bekas wartawan Jawa Pos, salah satu pendiri Partai Amanat Nasional yang kemudian menjadi anggota DPR dan terakhir Dubes Ri di Swiss meninggal dunia. Setelah mendapat konfirmasi, saya kemudian meneruskan pesan itu ke teman-teman terutama yang saya anggap mengenal Joko Susilo.
Saya sendiri sejak mengundurkan dari Jawa Pos sekitar tahun 1990, bahkan sejak Joko Susilo menempati posisi sebagai koresponden Jawa Pos di Washington sekitar tahun 1987an, tidak pernah berkomunikasi langsung dengan Joko Susilo. Namun sebelumnya, antara Joko Susilo punya ikatakn bahwa kami adalah karyawan rekrutmen terbuka yang dilakukan Jawa Pos. Dia angkatan pertama, sedangkan saya setahun kemudian.  Sekitar tahun 1999an, saat Joko sudah menjadi anggota DPR, saya bertiga – Pak Dahlan Iskan, Joko Susilo dan saya – sempat duduk satu meja. Cuma taka da yang istimewa dari pertemuan itu, Cuma sarapan bubur diu Hotel Mulia Senayan, Jakarta.
Namun demikian, ketika saya menjadi semacam Kepala Biro Jawa Pos di Jakarta, saya sempat mengantar dia ke Kedutaan Besar Iran yang saat itu di Jl. Rasuna Said dan kebtulan kantor Jawa Pos saat itu di Setiabudhi Building Jl. Rasuna Said Jakarta. Saat itu kami bertiga, Joko Susilo, saya dan Dr. Amien Rais yang saat itu belum menjadi politisi.
Jadi hubungan saya dan Joko Susilo tidak terlalu istimewa. Namun demikian, seperti yang saya utarakan tadi, kami punya sejarah yang sama dalam berkarir di Jawa Pos. Karena itu, begitu mendengar berita itu, saya langsung terhenyak. Apalagi beberapa hari sebelumnya di grup WA eks karyawan Jawa Pos beberapa teman mengabarkan pertemuannya dengan Joko Susilo.
Secara kebetulan, pas mendengar kabar itu saya ada di Bogor, dan ada yang mengabarkan bahwa jenasah Joko Susilo sebelum dimakamkan di Boyolali, disemayamkan terlebih dulu di rumah dua di Sentul City, Bogor. Bena, sekitar pukul 16.00, Hazairin, CEO Radar Bogor, mengabarkan ke saya bahwa jenazah Joko sudah di rumah duka.
Saat saya datang, jenazah sedang dishalatkan dan dilanjutkan dengan beberapa sambutan teman-teman Joko yang difasilitasi Happy Bone Zulkarnaen, bekas anggota DPR dari Golkar. Selama mengikuti prosesi kedatangan jenazah Joko Susilo di rumah duka di Sentul City, banyak yang  membuat saya terkesima. Saya menyaksikan bagaimana seorang Joko bisa memiliki banyak teman yang luar biasa.
Bayangkan sebelum jenazahnya diberangkatkan ke Boyolali, kota kelahiran sekaligus tempat peristirahatan terakhirnya, di rumahnya hadir teman-teman Joko lintas fraksi di DPR dan pemerintahan seperti Mensesneg Pratikno, Deputi Menpora Gatot Dewabroto, anggota Wantimpres Sudharto (politisi PDIP), Dubes RI di London Rizal Sukma, ketua DPP PAN Tjatur Edy, bekas Menteri BUMN yang sekaligus bekas bos Joko di Jawa Pos Dahlan Iskan dan banyak tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Mereka memberikan testimoni tentang Joko yang begitu luar biasa.
Dari sambutan teman-teman Joko tadi saya kemudian mencoba menelaah, jadi pelajaran apa yang bisa saya petik  dari seorang Joko. Tulisan ini bukan bermaksud memberi tahu Anda tentang pentingnya membangun relationship dan mengapa membangun koneksi itu penting. Tulisan ini sekadar menemukan pemahaman tentang pentingnya relationship dan mengapa orang perlu membangun silaturahmi. Saya sebelumnya minta maaf bila tulisan ini tidak melihat dari sudut agama, namun justru saya mencoba bagaimana ajaran agama tentang silaturahmi diterapkan oleh seorang Joko.
Saya yakin, Anda sudah memiliki beberapa pemahaman betapa pentingnya membangun relationship. Jadi saya tidak akan mengulangi terlalu banyak dari apa yang telah banyak dikatakan orang, tapi saya ingin mengeluarkan beberapa kunci yang menunjukkan dan memberitahu Anda tentang pengalaman atau pelajaran yang diberikan oleh Joko tentang relationship. Sudah tentu ini adalah interpretasi saya yang bisa jadi orang lain punya interpetasi yang berbeda dengan saya.
Dalam kehiduan sehari-hari, seseorang jauh lebih memilih membangun pertemanan dengan dengan seseorang yang mereka kenal, sukai dan percayai. Dari mana mereka memulainya, sudah tentu ada seseorang atau pihak yang memperkenalkan. Artinya, hubungan yang ada, atau rekomendasi dari seorang teman terpercaya, jauh lebih baik daripada sapaan dingin atau email. Adalah suatu hal yang mustahil seseorang seperti Joko bisa memasuki pergaulan yang sedemikian luas bila tidak ada silaturahmi atau perkenalan.
Biasanya itu dimulai dari adanya seseorang atau pihak yang memperkenalkannya dan orangtersebut tidak mau mengambil risiko memperkenalkan seseorang yang tidak mereka kenal, sukai atau percayai. Saya mengibaratkan seorang investor modal ventura akan sangat jarang melakukan bisnis dengan seorang pengusaha yang tidak diperkenalkan melalui seseorang yang mereka kenal. Ibaratnya, orang memperkenalkan itu saringan, dia tentu tidak sembarangan memperkenalkan seseorang kepada orang lain bila tidak mempercayainya.
Lalu bagaimana setelah orang tersebut membangun silaturahmi? Dalam pertemanan selalu terjadi pertukaran, apakah itu pertukaran informasi atau yang lainnya. Homans (1958) mendefinisikan pertukaran sosial sebagai aktivitas, baik berwujud atau tidak berwujud, antara dua orang atau lebih yang dipersepsikan oleh mereka yang berinteraksi tersebut memberikan keuntungan. Bila tidak memberikan keuntungan, kuat dugaan pertukaran tersevut tidak akan berulang kembali karena lawannya sudah tidak percaya lagi misalnya.
Seperti kita ketahui, Joko saat ini tidak menjabat posisi tertentu di baik di eksekutif maupun legislatif. Dia saat ini hanyalah warga negara biasa. Namun dia berhasil membangun pertemanan yang begitu luas saat dia sebagai wartawan, orang partai, akademisi, politikus, atau pejabat negara. Pertanyaannya adalah kenapa saat Joko meninggal begitu banyak orang yang memberikan testimoni posisitif yang luar biasa? Disinilah kehebatan Joko. Joko berhasil memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada lingkungannya, termasuk bangsa, teman, kerabat dan keluarganya. Ini yang membuat orang merasa bahwa berteman dengan Joko memberikan banyak manfaat. 
Bagaimana manfaat itu dibangun Joko. Seperti kita ketahui, Joko termasuk orang yang lulus sekolah dengan predikat cumlaude. Tak banyak orang bisa memperoleh predikat tersebut. Karena itu, saya merasakan bahwa berdiskusi dengan Joko, meski dia juga banyak mendengarkan, namun banyak masukan yang dirasakan oleh lawan bicaranya.
Dengan kata lain, Joko bisa menjadi sumber yang luar biasa bagi orang yang berinteraksi dengan dia dalam mendapatkan saran dan informasi. Ini adalah salah satu manfaat yang paling sering diabaikan ketika seseorang memiliki jaringan orang-orang pintar di sekitar Anda. Jika Anda sedang mengembangkan suatu strategi bisnis misalnya, Anda mungkin mencari nasihat dari seseorang di jaringan Anda yang memiliki pengalaman di bidang bisnis. Dengan pengalamannya yang luas, Joko mampu memposisikan dan memainkan perannya sebagai sumber inspirasi bagi teman-temannya. Ini setidaknya terungkap dari testimoni dari Gatot Dewabroto yang sama-sama duduk di Tim Transisis PSSI. Juga dari Tjatur Edy yang menyebut dirinya sebagai juniornya Joko, Rizal Sukma, bahkan termasuk Mensesneg Pratikno.
Jadi pelajaran yang saya dapat dari Joko dalam membangun pertemanan adalah penting mencari teman baru dan mendapatkan orang yang bisa merekeomendasikan orang lain untuk berteman dengan kita. Kedua, bagaimana mengisi pertemanan sehingga orang merasakan bahwa kita bisa menjadi orang yang bermakna bagi orang lain, dan ketiga, apa saja yang bisa kita berikan sehingga orang tetap ingin berteman dengan kita.