Selasa, 12 April 2016

Disruptive Business - Mengapa Kodak Bangkrut tapi Fujifilm Berjaya?


Awal April lalu, Sebuah petisi online tiba-tiba muncul di Italia. Dalam hitungan hari, petisi itu telah ditandatangani lebih dari 20.000 orang yang menginginkan agar Fujifilm membuat kembali film instan terpisah setelah Fujifilm memutuskan menghentikan produk tersebut.

FP-100C Film merupakan produk yang kompatibel dengan kamera instan yang menghasilkan foto berukuran 3,25 inci x 4,25 inci. Fujifilm menjelaskan bahwa film itu sebagai ideal untuk, "foto paspor, tes gambar komersial, presentasi, foto ID dan pencetakan langsung."

"Untuk penggemar film seperti saya, kita seakan bisa melihat ke masa depan, bahwa kita menuju ke kematian era fotografi film," kata Chris Hughes, pendiri A Nerd’s World yang bermarkas di Toronto, agen butik yang mengkhususkan diri dalam pemasaran digital dan fotografi headshot.

Fujifilm berencana menghentikan film instan terpisah yang kompatibel dengan kebanyakan kamera vintage instan. Pengehntian itu sekaligus akan menghapus gantungan para fotografer yang selama ini memanfaatkan film instan untuk tes gambar dan sebagainya. Setelah Polaroid, pembuat kamera vintage instan yang ada saat ini, menghentikan produksi film pada tahun 2008, FujiFilm film instan menjadi salah satu film terakhir kompatibel dengan kebanyakan kamera instan. Sejak itu, fotografer film telah mengandalkannya untuk digunakan dalam kamera instan mereka.

Keputusan untuk menghentikan film instan, menurut para fotografer, begitu mendadak tanpa peringatan. Menurut Hughes, the Impossible Project, yang membuat film instan untuk beberapa jenis kamera instan, telah bertemu dan berbicara dengan Fujifilm tentang penghentian itu. Akan tetapi tidak ada rincian hasil pertemuan. Kabarnya, Fujifilm akan terus membuat film instan untuk kamera Instax, yang masuk dalam daftar best seller Amazon selama liburan lalu.

Sampai tahun 2000, fotosensitif seperti film warna untuk fotografi menyumbang enam puluh persen dari penjualan dan dua-pertiga dari keuntungan Fujifilm. Namun, seakan mimpi di siang bolong, mulai saat itu pula pasar seakan hilang dalam sekejap mata menyusul makin dominannya fotografi digital. Itulah tanda-tanda awal hancurnya bisnis fotosensitif sehingga lima tahun kemudian, rapor Fujifilm berubah dari perusahaan biru ke merah.

Fujifilm Corporation, yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang, adalah anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Fujifilm Holdings Corporation. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1934 sebagai sebuah produsen film fotografi di bawah nama Fuji Photo Film Co., Ltd. Pada 2012, Kodak – rival abadi Fujifilm mengajukan permohonan untuk bangkrut. Namun Fujifilm, berhasil lolos dari gilasan transformasi zaman dan terus berkembang bahkan sampai hari ini.

Analisis tim dari Schumpeter Business and management seperti yang dimuat dalam the Economist tahun itu melihat ada sesuatu yang membuat menarik dari fenomena tersebut. "Kodak bertindak sebagaimana stereotipe perusahaan Jepang yang lama beradaptasi dengan perubahan, di sisi lain Fujifilm melakukan bertindak seperti sebuah perusahaan Amerika yang fleksibel."

Bagaimana Fujifilm bisa keluar dari gilasan perubahan itu? Shigetaka Komori, bos Fujifilm, mengungkapkan bahwa dia sempat mengagumi Kodak dengan menyebutnya sebagai "perusahaan terkuat yang pernah saya lihat." Komori bergabung dengan Fujifilm pada 1963, ketika perusahaan Amerika itu berada di puncak kejayaan yang dalam segala hal melebihi Fujifilm.

Sejatinya, seperti juga Kodak, pada 1980an, Fujifilm menyadari bahwa bisnis film akan masuk ke era digital. Seperti Kodak, Fujifilm terus menginvestasikan keuntungan dari penjualan film ke dalam teknologi digital, dan mencoba melakukan diversifikasi ke wilayah baru. Seperti Kodak, orang-orang di divisi film yang selama itu banyak menghasilkan keuntungan sekaliggus akan menjadi divisi pertama yang hilang karena suramnya bisnis film. Akhir tahun 2000, bisnis Fujifilm yang semula diperkirakan turun dan habis dalam waktu 15 atau 20 tahun, terjun bebas. Dalam satu dekade, kontribusi film yang semula mencapai 60% dari keuntungan Fujifilm, tiba-tiba lenyap.

Disinilah perbedaan Fujifilm dan Kodak. Menyadari musibah itu, Fujifilm memgambil keputusan cepat untuk mengembangkan dengan masuk ke bisnis baru. Namun sebelumnya mereka hatus mengembangkan dulu keahlian dan ketrampilannya di bidang industry baru itu. Ini bertentangan dengan yang dilakukan Kodak yang tampaknya percaya bahwa kekuatan inti mereka terletak pada merek dan pemasaran, dan bahwa hal itu hanya bisa dilakukan dengan kemitraan atau masuk industri-industri baru, seperti obat atau bahan kimia.

Persoalannya, Kodak tidak memiliki beberapa keterampilan kunci: seperti untuk mengintegrasikan perusahaan itu yang telah mereka beli dan dan bernegosiasi kemitraan yang menguntungkan. "Kodak begitu yakin tentang kemampuan pemasaran mereka dan merek mereka, karena itu mereka mencoba dengan mengambil jalan keluar yang mudah," kata Mr Komori.

Ketika penjualan dari pengembangan film dan pencetakan berkurang, misalnya, beberapa pendapatan masih bisa diperoleh dengan membangun kios-kios pencetakan foto digital. Namun bila Fujifilm memiliki sistem sendiri, Kodak bermitra dengan perusahaan lain sehingga Kodak harus berbagi pendapatan. Selain itu, sementara Fujifilm bisa menerapkan teknologi kios ke bisnis lain yakni digital-imaging, Kodak tidak bisa karena tidak memiliki teknologinya. Perusahaan Jepang itu juga bisa mengadakan  kesepakatan untuk menempatkan kios-kios mereka di Walmart. Sampai 2012, Fujifilm menguasai hampir 40% dari pasar photofinishing di Amerika, sedangkan Kodak hanya 15% (IBISWorld, sebuah perusahaan riset).

Keberhasilan Fujifilm bertahan dari gilasan perusahaan adalah kemampuan mereka dalam mengantisipasi serta mengekskusi rencananya pada tahun 2000 saat menghabiskan sekitar $ 1,6 miliar untuk tambahan 25% saham di FujiXerox, sebuah perusahaan patungan Fujifilm dengan Xerox, ketika perusahaan Amerika itu membutuhkan uang tunai. Hal ini memungkinkan Fujifilm untuk mengontrol strategi perusahaan patungan itu dan mengkonsolidasikan pendapatannya yang besar dan kuat. Ketika film mulai penurunan cepat, perusahaan itu menjadi bantalan penyelamat pendapatan Fujifilm.

Fujifilm juga berfokus pada penerapan teknologi di daerah baru. Keahlian Fujifilm di teknologi nano membuatnya mereka mampu memasukkan bahan kimia ke film, misalnya, sehingga mereka mampu menciptakan aplikasi film untuk untuk kosmetik kulit wajah. Pengalamannya di bahan fotosensitif membantu mereka menggabungkan bahan kimia dan bahan industri. Saat ini, bisnis peralatan medis-pencitraan Fujifilm tumbuh cepat, dan malah telah mengakuisisi banyak perusahaan di sektor ini, termasuk mengeluarkan dana $ 1 miliar pada Desember 2012 lalu untuk membeli SonoSite, sebuah perusahaan pembuat peralatan USG Amerika.

Fujifilm menjadi perusahaan yang jauh lebih beragam daripada Kodak. Visi jangka panjang membuat Fujifilm menginvestasikan dananya ke banyak industri. Konsekuensinya, dalam jangka pendek merusak keuntungan perusahaan. "Tapi dengan melakukan itu, kami memiliki lebih 'kantong' dan 'laci' di perusahaan kami," kata Komori.

Fujifilm melakukan banyak hal yang benar, kinerjanya pun belum bercacat. Setelah resesi melanda 2008 silam, perusahaan melakukan merestrukturisasi. Penjualan dan keuntungan keduanya jatuh pada paruh pertama tahun fiskal saat itu, dan sahamnya melorot sepertiga dari nilai mereka pada tahun 2011. Namun, perusahaan berada dalam posisi yang kuat untuk melakukannya dengan baik di sebagian besar bisnisnya.