Minggu, 22 Mei 2016

Mengapa Kabinet Jokowi Harus Bekerja Lebih Keras?


Dalam buku Asian Megatrends (Rajiv Biswas, 2016) menulis bahwa peluang negara-negara Asia, termasuk Indonesia untuk menjadi negara besar terbuka lebar. Ekonomi Indonesia diramal mencapai pertumbuhan yang tinggi hingga 2030. Negara-negara ASEAN lainnya juga demikian. Karenanya, negara-negara Asean akan bersaing dan berjuang keras merebut peluang itu. Indonesia harus ikut bersaing dan itu membutuhkan kerja keras. Bila tidak, Indonesia akan menjadi penonton dan pasar bagi negara-negara lainnya.  

Tahun 1996, John Naisbitt meluncurkan buku Megatrends Asia. Dalam bukunya itu, Naisbitt  memprediksi bahwa Barat dan bahkan Jepang akan menjadi negara yang tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, terutama China dan jaringan pengusaha luar negeri Cina seperti di Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Hong Kong, Taiwan dan Singapura yang ekonominya semakin kuat. Dalam Megatrends Asia, Naisbitt menyebutkan Acer Group sebagai kelompok bisnis yang makin kuat.
Sumbu kekuatan dan pengaruh global bergeser dari Barat ke Timur. Tren utama yang mendasari modernisasi cepat di Asia dinataranya adalah pergeseran dari kontrol pemerintah pusat ke ekonomi pasar bebas, munculnya pengusaha perempuan, migrasi massal ke kota dan bangkitnya semangat individualistik yang menolak welfarisme.
Pada Perang Dunia II, Kobe dan kota-kota besar lainnya di Jepang nyaris diratakan oleh bom Angkatan Udara AS. Sebagian besar kota-kota besar industri dan pelabuhan di Jepang juga hancur oleh bom Angkatan Udara AS, dengan kehancuran yang paling ekstrim di Hiroshima dan Nagasaki setelah bom nuklir.
Ketika diserang mendadak oleh Korea Utara, pada Juni 1950, dan direbut kembali pada Maret 1951 oleh pasukan AS dan Korea Selatan hingga tercapai gencatan senjata pada 1953, Korea Selatan adalah salah satu negara termiskin di dunia. Korea Selatan hancur dan perang mengakibatkan lebih dari satu juta warga sipil terbunuh. Seoul menjadi puing dengan sebagian besar penduduknya melarikan diri.
Ekonomi Korea Selatan tampak begitu tiada harapan sampai Jenderal MacArthur yang memimpin perebutan kembali Korea Selatan mengatakan bahwa kecuali ada keajaiban, untuk memulihkan kembali ekonominya, Korea Selatan butuh 100 tahun. Namun dalam dua dekade, Jepang dan Korea Selatan menjelma menjad negara industri yang berkembang pesat. Pada tahun 1964, Jepang secara resmi bergabung dengan jajaran ekonomi industri maju ketika menjadi anggota OECD. Korea Selatan menjadi anggota OECD pada tahun 1996.
Namun, memasuki 1997 ekonomi Korea Selatan runtuh sementara Jepang masih bertahan. Selama 1998 akibat runtuhnya keuangan, Korea Selatan merupakan salah satu negara yang menghadapi krisis yang mengerikan. Korea Selatan berhasil mengubah krisis menjadi kesempatan melalui kampanye "Hallyu” yang artinya Gelombang Budaya Korea (Kim, 2008). Hallyu sebagai alat soft power berhasil mengantar Korea Selatan melewati krisis dan bahkan meningkatkan status ekonomi mereka (The Economist, 2010).


                                                       Judul Buku: Asian Megatrends
                                                       Penulis: Rajiv Biswas
                                                       Penerbit: Palgrave Macmillan, 2016
                                                      Tebal Buku: 256 termasuk cover

Dalam buku Asian Megatrends ini, Rajiv Biswas menyatakan bahwa lansekap persaingan di Asia kini berubah. Bisnis seakan tak dibatasi secara geografis. Meskipun ukuran pasar konsumen di negara berkembang di Asia berkembang pesat, perusahaan multinasional Barat menghadapi persaingan yang berubah dengan begitu cepat begitu perusahaan multinasional Asia tumbuh menjejakkan dominasi regional mereka dan saling bersaing untuk merebut pangsa pasar. Meski harus diakui bahwa ada negara-negara yang dianggap Biswas sebagai pasar ketimbang pemain.
Selama beberapa lama, perusahaan multinasional Jepang merupakan pesaing global di banyak sektor manufaktur dan jasa. Namun kini makin banyak perusahaan multinasional dari negara-negara emerging market Asia yang juga menjadi pesaing penting di berbagai sector bisnis.
Di bisnis elektronik untuk konsumen dan peralatan komunikasi misalnya, raksasa Korea Samsung dan LG telah menanamkan modalnya untuk membangun pabrik di kawasan Asia, terutama di negara-negara seperti India dan Vietnam. Perusahaan multinasional Cina juga bersaing untuk merebut pangsa pasar di segmen ini. Huawei misalnya, kini menjadi pemain pasar global smartphone terkemuka. Penjualan Huawei di pasar Asia di luar China mencapai 14,7 persen dari pendapatan kelompok pada tahun 2014, dan naik 9,6 persen pada tahun 2015.
Huawei telah menjadi perusahaan pemimpin teknologi global untuk peralatan komunikasi, dengan pendapatan global mencapai USD 46,500 miliar pada 2014 atau naik 20,6 persen dari tahun sebelumnya. Perkembangan pesat terutama terjadi di kelompok usaha konsumen Huawei yang menunjukkan peningkatan persen 32,6 per pendapatan pada 2014, atau tumbuh menjadi USD 12 miliar. Ini menunjukkan bahwa Made in China 2025, strategi baru pemerintah China untuk membangunan masa depan sektor manufaktur China berhasil mengembangkan merek Cina di pasar global. 
Mobil Asia juga memperluas jejak regional mereka. Hyundai menjadi salah satu merek mobil terkemuka di pasar otomotif domestik India dan ini membuat India sebagai sebuah hub penting untuk produksi mobil Hyundai untuk pasar ekspor. Sebaliknya Tata Group India berhasil memasuki pasar mobil China dengan mendirikan pabrik baru di Provinsi Jiangsu untuk produksi Land Rover Evoque serta model Jaguar.
Di sektor perbankan, bank-bank besar Asia semakin memperluas jejak regional mereka. Bank Jepang yang memiliki sejarah panjang dalam pembiayaan perdagangan dan perbankan korporasi di Asia kini digerogoti pasarnya oleh bank-bank asal China, termasuk ICBC dan Bank of China. Mereka telah memperluas jaringan cabang mereka di Asia sebagai bagian dari dorongan global yang lebih luas. Sementara Singapura OCBC, DBS dan UOB kini membangun kehadiran mereka di negara-negara ASEAN lainnya.
UOB memiliki operasi ritel di Thailand, Malaysia dan Indonesia. DBS juga memiliki jejak regional yang besar, termasuk operasi di daratan China, Hong Kong dan Taiwan. OCBC mengakuisisi Wing Hang Bank di Hong Kong pada 2014, dan merupakan salah satu bank Singapura yang telah mendapatkan lisensi untuk membuka cabang bank di Myanmar, dengan cabang baru di operasi dimulai Yangon pada bulan April 2015. OCBC juga berkembang pesat di Malaysia dan Indonesia.
Di sisi lain, raksasa perbankan Malaysia -- Maybank dan CIMB -- juga telah membangun kehadiran regional mereka dengan operasi di seluruh Asia Tenggara, termasuk perbankan ritel serta operasi perbankan syariah di Indonesia. Maybank memiliki persen saham 80 per di PT Bank Internasional Indonesia, bank komersial terbesar ke sembilan di Indonesia.
Perusahaan Thailand juga memperluas strategi mereka dengan membangun kehadiran mereka di pasar Asia Tenggara lainnya. Siam City Cement dan Siam Cement memiliki operasi di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Thai Beverage PLC, produsen minuman terbesar di Thailand telah memperluas kehadirannya di pasar ASEAN lainnya melalui saham mayoritas di Fraser and Neave Limited, yang memperluas pasarnya ke negara Asia Tenggara lainnya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Saya membaca buku ini sedikit terhibur ketika Biswas menyoroti Indonesia dengan judul Indonesia: Southeast Asia’s Emerging Regional Power mulai halaman 138. Meski dua negara BRICS ekonomi Asia -- China dan India -- menjadi driver terbesar pertumbuhan belanja konsumen Asia, sampai 30 tahun ke depan kawasan ASEAN merupakan sumber dari permintaan konsumen baru.
Populasi ASEAN yang mencapai sekitar 600 juta orang dikombinasikan dengan pertumbuhan PDB yang cepat dan berkelanjutan membuat kawasan ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan yang paling signifikan bagi ekonomi global. Apalagi momentum pembangunan industri di beberapa negara ASEAN itu didorong oleh arus masuk investasi asing baru yang besar. Mereka seakan berlomba mendirikan fasilitas manufaktur murah di wilayah itu karena meningkatnya biaya tenaga kerja di China pesisir.
Yang paling penting adalah terbentuknya pasar konsumen tunggal di ASEAN. Disini, menurut  Biswas, peran Indonesia sangat penting karena PDB Indonesia merupakan  40 persen dari total PDB ASEAN. Penduduk Indonesia 250 juta dikombinasikan dengan pendapatan rumah tangga yang berkembang pesat di kota-kota besar membuat pertumbuhan yang cepat dalam pengeluaran konsumen di Indonesia.  
Selama decade terakhir, pasar konsumen Indonesia naik dua kali lipat sejak tahun 2004, ketika SBY menjabat Presiden. Kerena ituah momentum masa depan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan tergantung pada apakah pemerintahan Presiden Jokowi dapat terus melaksanakan reformasi ekonomi secara signifikan. Bila itu terjadi, perekonomian Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh pada level 5 sampai 6 persen per tahun dan akan mendukung kecepatan ekspansi perusahaan dalam memenuhi permintaan konsumen.
Pasar konsumen Indonesia merupakan salah satu peluang pertumbuhan jangka panjang yang paling menarik di dunia setelah China dan India. Mobil-mobil Jepang telah memiliki posisi dominan di pasar otomotif domestik Indonesia. Pertumbuhan yang kuat dalam permintaan konsumen Indonesia untuk mobil mengakibatkan ekspansi yang signifikan dari fasilitas produksi mobil di Indonesia, dengan total produksi mobil mencapai 1,3 juta unit pada tahun 2014, sedangkan penjualan sepeda motor mencapai  7,9 juta unit.
Salah satu daya tarik pasar konsumen Indonesia adalah PDB per kapita tingkat yang berada di ambang kepindahan ke kategori berpenghasilan menengah atas. Ini akan mendukung pertumbuhan permintaan barang konsumen tahan lama dan secara bertahap meningkatkan permintaan Indonesia untuk jasa, termasuk perbankan, asuransi, kesehatan dan pariwisata.
Persoalannya adalah, dari paparan Biswas tadi apakah Indoenesia masih dianggap sebagai pasar dan bukan pemain atau produsen? ASEAN memang memiliki pasar lain yang menawarkan potensi jangka panjang yang sangat menjanjikan. Vietnam misalnya, yang memiliki tingkat potensi pertumbuhan sekitar 6 sampai 7 persen per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 90 juta, dan Filipina, yang telah tubuh pada level 6-7 persen per tahun sejak 2011 dan memiliki populasi sekitar 100 juta.
Di buku ini Biswas masih melihat Indonesia sebagai pasar, termasuk bagi perusahaan-perusahaan ASEAN. Ukuran gabungan dari pasar konsumen ASEAN sudah mencapai USD 1 triliun, dibandingkan dengan ukuran pasar konsumen India. Akibatnya pasar konsumen Asia Tenggara akan tetap menjadi salah satu peluang pasar konsumen yang paling menarik di dunia selama dekade berikutnya dan seterusnya. Perusahaan multinasional semakin memperkuat strategi bisnis global mereka untuk fokus pada pasar Asia Pasifik yang berkembang pesat. Baik Boeing maupun Airbus bersaing berebut pasar Aspac. Di industri otomotif, pentingnya pasar Asia juga diseriusi BMW Group.  Pemain nndustri produk lifestyle kelas atas juga melihat pentingnya kawasan Asia-Pasifik. Kawasan Asia-Pasifik menyumbang 36 persen dari pendapatan LVMH Group pada 2014. Jepang tetap menjadi pasar utama, dengan 7 persen dari pendapatan LVMH Group pada 2014.
Sementara prospek keseluruhan untuk pertumbuhan belanja konsumen di kawasan Asia masih sangat positif, ada pergeseran penting lainnya. Salah satu faktor penting yang akan semakin menciptakan diferensiasi dalam laju pertumbuhan belanja konsumen adalah dampak dari demografi penuaan. Pentingnya faktor ini ditunjukkan oleh menurunnya populasi Jepang, yang dalam jangka panjang menghambat pertumbuhan pengeluaran rumah tangga. Fenomena itu juga akan diikuti oleh negara-negara lainnya. Selama dua dekade berikutnya, penuaan demografi akan menjadi faktor yang semakin penting dalam ekonomi China, Korea Selatan dan Thailand. Hal ini akan berdampak tidak hanya pada tingkat pertumbuhan keseluruhan belanja konsumen, tetapi juga distribusi pengeluaran, seperti perawatan kesehatan dan pelayanan sosial yang akan menjadi lebih penting karena naiknya pangsa  orang tua dalam keseluruhan populasi.
Di sisi lain, demografi yang relatif muda dari sebagian besar Asia Tenggara dan Asia Selatan menciptakan pertumbuhan konsumen yang berbeda dan dinamis. Begitu pekerja muda memasuki dunia kerja selama dua dekade berikutnya, pasar barang-barang konsumsi dan sektor seperti pariwisata dan komunikasi diperkirakan naik pesat. Naiknya pendapatan rumah tangga di seluruh Asia juga akan mendukung pertumbuhan permintaan untuk jasa keuangan, termasuk perbankan, asuransi dan manajemen aset, karena meningkatnya pendapatan per kapita rumah tangga memungkinkan penghematan diskresioner yang lebih tinggi di antara jajaran kelas menengah Asia yang tumbuh.
Sektor utama lain yang tumbuh adalah layanan pendidikan. Asia sudah merupakan sumber utama permintaan global untuk layanan pendidikan internasional, dengan makin banyaknya keluarga Asia berpendapatan yang lebih tinggi yang mengirimkan anak-anak mereka belajar di sekolah-sekolah dan universitas-universitas di AS, Inggris dan Australia. Peningkatan yang signifikan dalam kekayaan di negara berkembang Asia memicu pertumbuhan yang cepat permintaan untuk layanan pendidikan internasional. Ini sekaligus menciptakan kesempatan bagi pelaku pasar baru untuk bersaing di segmen ini.
Singapura telah bertekad menjadikan negaranya sebagai pusat pendidikan internasional, melalui pengembangan ekspor pendidikan dari universitas besar seperti National University of Singapore, Singapore Management University dan Nanyang Technological University. Singapura juga telah menarik universitas internasional terkemuka untuk membangun kampus di Singapura, seperti Duke-NUS Medical School dan INSEAD Asia Campus. Malaysia tak mau ketinggalan dan mulai mengembangkan ekspor pendidikan internasional. Sunway University misalnya memantapkan dirinya sebagai universitas terkemuka di Malaysia dengan sekitar 30 persen dari populasi mahasiswanya datang dari luar negeri.
Bidang lain pertumbuhan di masa depan yang cepat dalam permintaan konsumen adalah pelayanan kesehatan swasta. Meningkatnya jumlah rumah tangga kaya di negara berkembang di Asia membuat mereka mencari layanan medis yang berkualitas tinggi karena infrastruktur kesehatan masyarakat yang tersedia di negara mereka masih lemah. Karena tingkat utang pemerintah yang tinggi dan defisit fiskal yang besar di banyak negara berkembang di Asia, pemerintah tidak mampu mengalokasikan sumber daya keuangan yang cukup untuk membangun infrastruktur kesehatan, dan sistem kesehatan masyarakat sangat lemah di banyak negara Asia termasuk sebagian besar Asia Tenggara dan Asia Selatan. Hal ini menciptakan pertumbuhan yang cepat dalam permintaan untuk layanan kesehatan swasta di negara berkembang Asia yang memiliki sistem kesehatan swasta yang kuat seperti di  Malaysia, Thailand dan India. Begitu jumlah rumah tangga yang memasuki kelas menengah di Asia Selatan dan Asia Tenggara meningkat, permintaan untuk layanan kesehatan swasta akan meningkat pesat.
Selain permintaan domestik untuk layanan kesehatan swasta seperti, pariwisata medis juga berkembang pesat, sebagai pasien perjalanan ke negara-negara lain untuk mendapatkan layanan kesehatan. segmen pariwisata medis di sektor kesehatan swasta dari Thailand, Malaysia, Singapura dan India telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir karena pertumbuhan yang cepat dalam permintaan untuk layanan ini.

Pertayaannya sekali lagi, apakah Indonesia akan menjad penonton atau objek dari megatrend tersebut? Biswas memang tidak secara spesifik menunjukkan strategi bagi negara-negara Asia yang sedang berkembang untuk merebut peluang itu. Namun, melalui buku ini Biswas membuka mata pembaca, khususnya Indonesia, bahwa dalam tahun-tahun mendatang, Asia merupakan kawasan dengan ekonomi yang kuat dan memberikan peluang yang besar bagi perusahaan-perusahaan Indonesia.