Jumat, 17 Juni 2016

Bagaimana Aplikasi ZMOT pada Perguruan Tinggi?


Secara kuantitas jumlah perguruan tinggi naik. Pada tahun 2005 jumlah perguruan tinggi di Indonesia masih 2.428 buah. Namun data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi 7 Juni 2015 lalu menunjukkan jumlah PT di Indonesia sudah mencapai 4.273 buah. Pertumbuhan ini sangat fantastis, yang berarti dalam sepuluh tahun terakhir setiap dua hari bertambah satu perguruan tinggi.
Pertanyaannya adalah soal pemerataan dan kualitas. Dari sisi kualitas, berdasarkan data dari Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP PTSI), dalam satu kopertis dengan sekitar 340 PTS, ternyata hanya 20,83 persen sehat murni, 2,38 sehat, dan 4,17 persen hampir sehat, dan 64,88 persen belum sehat alias sakit.

Menurut Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2014, jumlah pemuda di Indonesia sebanyak 61,83 juta jiwa atau sekitar 24,53 persen dari 252,04 juta jiwa penduduk Indonesia. Menurut Undang-Undang RI No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, yang dimaksud dengan pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia 16-30 tahun. Pemuda mempunyai jumlah yang paling kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berusia di bawah 16 tahun (76,68 juta) dan penduduk di atas 30 tahun (113,52 juta).

Pemuda Indonesia yang tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf sebesar 0,64 persen. Angka buta huruf pemuda di perdesaan sebesar 1,26 persen lebih tinggi dibanding di perkotaan yang sebesar 0,10 persen. Rata-rata lama sekolah yang berhasil dicapai para pemuda secara keseluruhan adalah 10,01 tahun atau secara umum pemuda telah dapat menyelesaikan pendidikan hingga kelas 1 Sekolah Menengah (SM).

Sebesar 43,78 persen pemuda di Indonesia berpendidikan SM ke atas, 31,99 persen tamat SMP/sederajat, 18,51 persen tamat SD/sederajat dan 4,67 persen tidak/belum tamat SD. Gambaran ini menunjukkan masih besarnya potensi calon mahasiswa di pedesaan, apalagi ada kecenderungan terjadi peningkatan ekonomi di daerah-daerah. 

Survei yang dilakukan Majalah Mix 2015 lalu menunjukkan bahwa saat ini makin banyak pendidikan tinggi yang menerapkan strategi branding untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap merek perguruan tinggi bersangkutan. Ada beberapa perguruan tinggi yang meng-hire profesional pemasaran eksternal atau perusahaan dan menginvestasikan waktu dan dananya untuk membangun merek yang kuat.

Beberapa lembaga pendidikan tinggi mengembangkan desain mobile untuk website mereka. Ini sangat menarik sebab pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta pengguna. 79 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial aktif. WeAreSocial dalam laporannya bertajuk Digital, Social, and Mobile Report in 2016, memaparkan jika 90 persen netizen Tanah Air aktif di jejaring sosial. Dengan penetrasi mencapai 30 persen dari total populasi, pengguna media sosial di Indonesia pun kini sudah sebanyak 79 juta orang.

Dari segi pertumbuhan, bertambahnya pengguna internet selaras dengan active user di medsos. Dibanding tahun lalu, masyarakat yang memainkan Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan lain-lain sudah bertambah 10 persen. Menariknya, masyarakat Indonesia malah tidak semakin kecanduan dalam menggunakan media sosial. Masih menurut data dari WeAreSocial, rata-rata orang Indonesia 'cuma' menghabiskan 2 jam 51 menit untuk mengakses medsos per harinya lewat pelbagai perangkat. Rerata itu malah menurun dari durasi penggunaan medsos tahun lalu di Indonesia yang selama 2 jam 52 menit.

Beberapa perguruan tinggi dan universitas juga mengandalkan analisis data untuk menentukan siapa, bagaimana, dan di mana mereka mencapai khalayak mereka. Penggunaan perangkat lunak analisis meningkat sebagai pendidikan tinggi ekosistem online menjadi semakin kompleks. Mendapatkan lebih baik menangani data ini merupakan daerah baru konsentrasi untuk perguruan tinggi dan universitas.

Yang paling menarik adalah beberapa lembaga pendidikan tinggi kini mulai lebih mengandalkan otomatisasi pemasaran untuk membangun dan memelihara hubungan yang berarti dengan siswa. Melalui otomatisasi pemasaran, lembaga yang mampu menangkap dan memanfaatkan berbagai data siswa dalam rangka untuk mengembangkan lebih personal, pesan multichannel dan komunikasi pemasaran.

Disinilah pentingnya lembaga tinggi mulai menerapkan model pemasaran baru. Dulu misalnya untuk membeli gadget terbaru, orang mencari informasi dengan bertanya ke teman, atau harus beli majalah, untuk melihat harga dan membandingkan review-nya.  Lalu dilanjutkan dengan ke pusat elektronik, membandingkan harga dari beberapa toko. Begitu juga ketika akan membeli produk lainnya misalnya asuransi,mobil dan lain lain.

Tapi saat ini informasi tentang produk, harga bahkan review dengan mudah didapatkan di internet. Ketika saya akan beli produk baik itu di toko atau berbelanja via online. “Saya punya informasi yang sangat lengkap.” Proses pencarian informasi melalui internet, sebelum akhirnya akan melakukan pembelian, disebut sebagai Zero Moment of Truth (ZMOT).

Konsep ini diperkenalkan pada bulan November 2011, oleh Jim Lecinski dari Google dengan menerbitkan tulisannyayang berjudul ZMOT: Winning Moment of Truth Nol. Tulisan tersebut merupakan hasil studi yang memperkenalkan pemasar pada paradigma mental yang baru yang diadopsi pembeli karena evolusi dari aksesibilitas informasi. Pada 2011 Google melakukan riset kepada lebih dari 5.000 responden untuk mengukur seberapa besar pengaruh ZMOT terhadap konsumen. Dan hasilnya, secara keseluruhan ternyata ZMOT menjadi proses paling berpengaruh dalam (sebelum) proses pembelian produk. Sekitar 84% responden mengatakan melakukan ZMOT sebelum membeli produk.

Dalam konteks ini, Universitas Paramadina membangun ZMOT positif, menurut Hendriana Werdhaningsih, Mds, Direktur Humas dan Pemasaran Universitas Paramadina, strateginya terutama pada konten. Konten yang di-publish diusahakan sedinamis dan sedapat mungkin engage dengan user. “User dari media online kami tidak hanya calon mahasiswa baru, melainkan orang lain dari berbagai kalangan luas—seluas-luasnya sehingga nuansanya seperti komunitas. Komunitas selalu memberikan kenyamanan bagi orang-orang yang ada di dalamnya, karena kesamaan pandangan. Hal itu memperkaya semua yang terlibat. Para mahasiswa dan alumni selalu menyebut Universitas Paramadina adalah rumah, kemana mereka selalu merasa ingin kembali.”

Itu sebabnya, imbuh Hendriana, kekuatan ikatan emosional yang terbangun di dalam komunitas Universitas Paramadina, yang dirasakan mahasiswa dan alumni selama berada di kampus, menjadi dasar dari semangat mereka untuk turut membangun ZMOT positif, terutama lewat media digital. Ia menekankan bahwa terkait membangun ZMOT positif, tidak ada upaya pemberdayaan dari pihak kampus, tetapi terjadi secara alami dari perjalanan panjang menghidupkan nilai-nilai positif di kampus. 

“Intinya, dalam komunikasi pemasaran untuk membidik Generasi Millenials, kami lebih kepada menyebarkan nilai-nilai yang dihidupkan oleh Universitas ini sejak lama. Nilai-nilainya bisa sangat sederhana dan umum, seperti pentingnya toleransi, pentingnya semangat memperlajari banyak hal dan menjadi pembelajar seumur hidup, integritas, 'be your-self'--yang menjadi kampanye kami sejak 2008, dan lain-lain. Dan sampai saat ini, nilai-nilai tersebut sejalan dengan kecenderungan Generasi Millenials,” pungkas Hendriana yang mengklaim bahwa program dan kampanye Universitas Paramida di dunia maya, sejauh ini berhasil, indikatornya, follower Twitter dan Likers Facebook Universitas Paramadina bertambah pesat beberapa waktu terakhir ini.