Senin, 12 September 2016

City Branding atau Jadi Kota Mati



Banyak kota menjadi mati karena ketidakmampuannya membuat masyarakatnya sejahtera dan menarik investasi serta ditinggalkan warganya. Bagaimana agar itu tidak terjadi?

Dalam paradigma ekonomi saat ini -- yang digambarkan sebagai masa transisi dari industri ke ekonomi pengetahuan -- faktor-faktor seperti kedekatan dengan pasar dan pasokan tenaga kerja tidak lagi memainkan peran penting. Kini kota-kota yang dulunya dikenal sebagai kota industri mencoba  mengurangi ketergantungan mereka pada manufaktur dan mengembangkan sumber-sumber pendapatan alternatif, seperti industri teknologi tinggi atau rekreasi. Persoalannya, citra yang melekat sebelumnya, yakni sebagai kota industri bisa jadi kendala utama dalam melaksanakan diversifikasi ekonomi.
Selain itu, pergeseran ke arah ekonomi pengetahuan telah membuat perusahaan dan pasar tenaga kerja makin fleksibel dan cair. Industri dan para pekerja kini bisa dengan mudah berpindah ke kota-kota yang menyediakan bisnis dan kesempatan hidup yang lebih.
Makin tingginya mobilitas sumber daya keuangan dan manusia memperburuk kompetisi antara satu kota dengan kota lainnya. Saat ini, kota semakin harus bisa bersaing menarik investasi, wisatawan dan penduduk baru.
Citra kota memainkan peran penting dalam kepitusan memilih lokasi yang diambil oleh investor, perusahaan dan individu. Namun, membangun citra yang menarik kini sudah tidak lagi memadai. Saat ini semakin penting untuk membuat kota menjadi terkenal baik secara lokal dan internasional. Dalam keadaan ini, branding kota menjadi alat yang sangat penting untuk membangun citra dan melakukan  komunikasi.
Globalisasi membuat kota harus bersaing dengan kota-kota lain dari seluruh dunia untuk menarik sumber daya: manusia, keuangan, dan infrastruktur. Untuk menarik sumber daya itu, image dan reputasi kota merupakan dua hal yang sangat penting. Karena itu dalam kemitraannya dengan para pemangku kepentingan sebagian besar pengelola kota mengadopsi strategi pemasaran. Branding strategi, awalnya dikembangkan untuk usaha. Namun kini branding juga digunakan untuk menciptakan merek yang kuat dari kota.
Sebuah kota harusnya terus tumbuh dan membuat sejahtera warganya. Bagaimana tidak dengan tumbuh beratti kota memberikan peluang bagi warganya agar tidak akan kesulitan mendapatkan pekerjaan atau mendapatkan rejeki lainnya melalui usaha mereka. Dengan demikian warganya diharapkan bisa sejahtera. Karena itu, sebuah kota perlu mengembangkan tidak hanya kehidupan sosial yang menarik tetapi juga kehidupan ekonomi yang kuat dan memberikan masa depan yang menjanjikan. Bila tidak, kota itu akan ditinggalkan warga dan industry dan menjadi kota mati.
Agar tidak mati, sebuah kota harus memenuhi kebutuhan warganya. Beberapa penelitian menunjukkan terdapatnya hubungan antara fungsi kota dan kemampuannya memenuhi tanggung jawabnya untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Dalam kota yang sejahtera, masyarakat berdiri tangguh menghadapi bencana dan benturan nilai antar warga dan kebutuhan mereka. Kota menjadi tempat yang baik untuk hidup dan bekerja dan orangpun ingin pindah ke sana.
Akan tetapi, kesejahteraan tidak akan bisa ada bila perusahaan-perusahaan di dalamnya tidak tubuh juga. Perusahaan juga perlu untuk tumbuh dan sejahtera. Dengan demikian diantara keduanya harys ada saling ketergantungan dan satu sama lain berhubungan dengan erat. Karena itu, hidup matinya sebuah kota sangat tergantung pada kemampuannya untuk menarik dan menghidupkan usaha kecil, menegngah, domestik dan asing seperti perusahaan multinasional dan sebagainya.
Di sisi lainnya, sebuah kota tidak akan bisa menarik dan menumbuhkan perusahaan bila kondisi warganya tidak mendukung. Disini berarti semua stakeholder dalam kota tersebut harus terjadi saling interaksi.  Jika pertumbuhan PDB kuat, kota menyediakan lapangan pekerjaan baru dan warganya sejahtera. Jika pertumbuhan PDB rendah, nol, atau bahkan negatif, sebuah kota tidak akan hidup. Dalam buku Winning Global Markets, Philip dan Milton Kotler mencontohkan beberapa kota yang gagal tumbuh seperti  Detroit dan Flint di Michigan; Cleveland, Dayton, dan Youngstown di Ohio; dan Stockton dan Riverside di California karena kota-kota itu tidak lagi mampu menjadikan dirinya menarik bagi para pengusaha untuk  berbisnis.
Sebuah kota menjadi “mati” tidak hanya karena penduduknya bergerak menjauhi kota tersebut.  Kematian sebuah kota bisa terjadi karena kota kehilangan industri dan populasi penting yang dulunya membuat mereka menjadi kota-kota penting. Perkembangan ekonomi yang terjadi sejak pertengahan abad ke-20 banyak membuat kota di Amerika Serikat yang dulunya besar dan menggairahkan bersemangat runtuh. Beberapa diantaranya kehilangan lebih dari setengah dari penduduk mereka. Lainnya “mati” karena  kehilangan bisnis yang sebelumnya membuat mereka menjadikannya sebagai kota penting pusat keuangan, manufaktur, dan perdagangan di suatu kawasan.
Pada tahun 1900an, Buffalo merupakan kota terbesar ke delapan di AS. Kota yang terletak di salah satu bagian tersibuk dari Erie Canal, ujung dari kanal di Great Lakes menjadikan kota tersebut menjadi pusat kegiatan penggilingan gandum besar dan salah satu pabrik baja terbesar di negara AS. Seperti kebanyakan kota-kota lain di kawasan utara, Buffalo merupakan kota yang makmur selama Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia II, industri manufaktur bergairah memproduksi mobil dan barang-barang industri. Populasinya meningkat menjadi lebih dari 500.000 jiwa pada pertengahan 1950-an. Sekarang populasi Buffalo tinggal setengahnya. Buffalo menjadi kota merana yang sulit untuk diperbaiki karena de-industrialisasi yang terjadi di kawasan itu.
Flint juga senasib. Kota ini pernah menjadi kota industri utama dan tempat kelahiran General Motors. Pada 1960 penduduknya mencapai 200 ribu jiwa. Namun saat GM masuk ke kurator menuju  kebangkrutan pada tahun 2002, kota itu hanya dihuni oleh 100 ribu orang. Pada tahun 1960, GM mempekerjakan 80.000 orang di Flint. Namun saat ini GM hanya mempekerjakan kurang dari 8.000.  Flint adalah markas divisi Buick GM selama bertahun-tahun, namun sejak 1998, operasinya dipindahkan ke Detroit.
Dalam tingkatan yang lebih kecil, banyak kawasan yang tiba-tiba kehilangan warganya karena berpindah ke tempat lain. Misalnya, ketika IPB memindahkan kampusnya dari Baranangsiang Bogor ke Dramaga. Daerah sekitar kampus Baranangsiang seperti Babakan Fakultas dulu ramai karena banyaknya mahasiswa yang kos di daerah itu. Masyarakat sekitarnya juga menikmati rezekinya. Namun, ketika IPB memindahkan kampusnya ke Dramaga, penduduk di daerah itu menyusut karena mahasiswanya juga berpindah. 
Dalam perjalanan usaha dan kegiatannya, perusahaan atau organisasi selalu membuat keputusan untuk menentukan dimana mereka berinvestasi, di mana tempat untuk menghasilkan barang dan jasa mereka, dan di mana tempat untuk menjualnya. Perusahaan yang tumbuh harus menemukan lokasi baru dan memilih dengan hati-hati. Perusahaan juga harus secara berkala meninjau kembali lokasi kegiatan ekonomi mereka karena lokasi bisa mengubah keinginan mereka.
Banyak perusahaan domestik menghadapi pesaing baru yang datang dengan harga yang lebih rendah, kualitas yang lebih baik, atau keduanya. Itu semua karena makin terbukanya  perdagangan di seluruh dunia dan makin banyak dan berkualitasnya fasilitasi perdagangan karena  kemajuan teknologi sehingga perusahaan di dalam negeri tidak bisa diam. Mereka harus mempertahankan diri, dan mereka harus pindah ke yang baru yang lebih menjanjikan dan menawarkan  peluang untuk tumbuh.
Banyak perusahaan yang memindahkan manufaktur mereka dari negara maju ke negara berkembang guna mendapatkan biaya yang lebih rendah. Pada era 1980an misalnya, banyak perusahaan Jepang yang merelokasi industrinya ke Korea dan sebagainya. Dalam melakukan hal ini, perusahaan-perusahaan ini harus mengevaluasi kota dan lokasi yang terbaik. Jika produsen mobil Prancis Peugeot misalnya, ingin memperluas di pasar Asia, pertanyaan yang muncul pertama adalah tentang lokasi tempat baru untuk memproduksi dan membangun manajemen.
Semisal sebuah perusahaan yang berpusat di Washington  memiliki usaha produksi bersama dengan perusahaan lain yang berbasis di Jakarta. Untuk memperkuat  kehadirannya di Asia, apakah mereka perlu mendirikan usaha lainnya di China seperti Shanghai, Hangzhou, atau Guangzhou? Peugeot merakit mobilnya di Bangkok, agar mereka bisa menjual produknya dengan efisien, mereka memproduksinya di kota Asia lain seperti di Indonesia?
Penentuan lokasi yang optimal merupakan persoalan penting yang dihadapi oleh manajer. Keputusan ini memiliki dampak yang mendalam pada daya saing perusahaan. Dalam membuat keputusan ini, faktor-faktor eksternal -- globalisasi dan persaingan berdasarkan waktu - sering memaksakan manajer menentang pengaruh perusahaan, dan pengaruh ini tidak nampak saat keputusan lokasi pabrik awal dilakukan. Misalnya, sebuah perusahaan yang mendirikan pabrik di negara dunia ketiga untuk mengambil keuntungan dari biaya tenaga kerja lebih rendah mungkin menemukan kinerja berbasis waktu yang terkikis karena infrastruktur yang buruk atau ketakketersediaan tenaga terampil.
Tingkat keberhasilan ekonomi yang beragam di berbagai kota dan wilayah merupakan perhatian utama para pemimpin bisnis dan manajer. Mereka harus mengetahui banyaknya produk yang dapat mereka jual kep pasar lokal dan asing, besar dana yang mereka harus investasikan, dan di mana mereka harus berinvestasi untuk mencapai target pertumbuhan perusahaan mereka. Pencapaian ekonomi juga menjadi perhatian utama para politisi. Mereka membutuhkan pertumbuhan bisnis untuk menghasilkan pendapatan kota untuk membayar tagihan yang mereka kenakan dan pekerjaan yang mereka berikan kepada warga mereka.

Pemilik bisnis dan manajer yang sukses harus mengetahui semua dimensi kehidupan kota ini, mulai dari  keberadaan lahan dan biaya perumahan, fasilitas dan fitur kota, arah perkembangan kota dalam 10 atau 20 tahun ke depan. Perusahaan juga perlu mengetahui siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana pembeli membeli barang dan jasa. Mereka harus mengetahui hukum dan kemudahan mendirikan usaha dan perdagangan dan mengekspor barang.