Jumat, 07 Oktober 2016

Ini Iklan atau Berita?

Anda mungkin sering mengalami. Anda megklik suau berita dalam portal berita, membacanya namun tiba-tiba Anda menyadari ada sesuat dalam berita itu. Kok banyak menonjolkan dan memuji merek?
Ketika iklan banner di web pertama kali diperkenalkan pada Oktober 1994, dalam majalah Wire versi digital, respon public terutama perusahaan dan pengelola merek luar biasa. Kini, iklan semacam ini secara perlahan menjadi usang, karena kehadiran native advertising atau pesan berbayar yang tampilannya disesuaikan dengan tampilan dan nuansa dari media merek pesan merek itu ditempatkan.
Melalui native advertising, pengiklan mencoba membuat konsumen terlibat dengan menyediakan konten yang sesuai dengan yang mereka alami saat itu. Istilah native disini lebih merujuk pada medianya ketimbang audiensenya. Menurut Interactive Advertising Bureau (I.A.B. 2013), native advertising  adalah jenis iklan yang dirancang sedemikian rupa sehingga kontennya berbaur dengan konten halaman, konsisten dengan tema umum halaman saat itu dan dengan platform media masing-masing, serta dibuat sedemikian rupa sehingga seakan menjadi sudut pandang editorial.


Contoh In-Feed Units yang banyak ditemukan dalam feeding platform normal; bisa endemik, terkait, atau tertanam dalam unit di-feed. Contohnya postingan dengan tanda sponsor di Facebook, atau Paid Search Units, iklan teks yang kontennya disesuai dengan kata atau istilah yang Anda cari yang ditempatkan sebelum hasil pencarian, contohnya AdWords punya Google.


US Publishers that Offer Native Advertising on Their Site, June 2013 (% of respondents)

Saat ini, native advertising menarik banyak perhatian orang karena saat ini menurut sebuah riset hampir 73% penerbit yang disurvei menawarkan native advertising, dan 17% sedang mempertimbangkan untuk  menawarkan beberapa jenis native advertising. Impak yang didapat dari native advertising juga bagus. Ini dapat dilihat dari konsumen yang melihatnya. Konsumen yang melihat native advertising 25% lebih banyak dari konsumen yang melihat iklan tradisional. Bahkan, 53% diantara mereka lebih sering melihat iklan native advertising. Karena itu, belanja perusahaan atau merek untuk native advertising ini bila pada tahun 2013 cuma $ 1,9 miliar, atau meningkat 2% dibandingkan tahun sebelumnya, tahun depan melonjak menjadi $ 3,1 miliar. Perusahaan riset pasar BIA / Kelsey memperkirakan, pangsa belanja native advertising ini di media sosial bakal mencapai 41,7% dari total belanja iklan di media sosial. Namun, dengan makin banyaknya saluran atau media, total belanja native advertising lebih tinggi dari angka itu.
Susahnya, garis yang membedakan antara konten editorial dan dibayar itu kini makin kabur (eMarketer - US Native Advertising Update). Pada Desember 2015, setelah mempelajari masalah ini selama lebih dari satu tahun, Federal Trade Commission (FTC) AS mengeluarkan serangkaian rekomendasi panjang terkait kehadiran iklan bawaan ini. Dokumen tersebut termasuk panduan prinsip-prinsip, contoh ketika bisnis harus mengungkapkan konten native advertising dan petunjuk tentang pencantuman label native advertising.


Sejak pedoman tersebut diterbitkan, sebuah laporan MediaRadar, April 2016, menemukan keseragaman relatif dalam terminologi sekitar native advertising. Istilah yang paling umum digunakan (54 %) adalah "sponsor" atau "yang disponsori," berikutnya "dipromosikan." Ini masih lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya dimana hampir setengah pengguna internet di AS yang disurvei di beberapa titik merasa ditipu setelah menyadari bahwa artikel atau video yang mereka tonton itu kontennya disponsori.