Senin, 31 Oktober 2016

Mengapa Public Ralations Harus Direposisi?


Tahun 2000, Kevin Moloney menulis buku berjudul Rethinking public relations: the spin and the substance. Salah satu isu public relations yang diangkat buku tadi adalah reputasi public relations yang rendah. Bagi Moloney, sebuah ironi bila PR harus menanggung nasib harus menangani suara negative tentang dirinya sendiri sementara mereka terbiasa dengan isu negative kliennya. Selesai atau PR sudah berubah? Mungkin.
             Kalaupun itu belum diaggap selesai, kini muncul tantangan baru. Apapun namanya, disruptif, efektif atau lainnya, praktisi public relations kini harus memikirkan ulang tugas dan tanggungjawab mereka. Seperti juga dirasakan banyak teman-teman di industri surat kabar, saluran berita media utama (cetak, siaran dan bahkan web-based) kini tak sesakti dulu. Wartawan kini seakan jadi bulan-bulan media sosial. Mereka dipaksa mengejar ketertinggalan karena informasi di media sosial sering – bahkan mungkin selalu -- menjadi breaking news ketimbang di media utama.
                Anggap saja itulah pergeseran seismik kekuasaan yang terjadi dalam dua tahun terakhir, tulis John Hayes di ww.cision.com, dua tahun lalu. Media konvensional seperti koran dan televisi kini tidak lagi memonopoli berita. Orang kini mem punyai banyak saluran informasi alternative. Karena kini setiap orang bisa membuat dan menyiarkan sekaligus menyaksikan berita. Setiap orang kini bisa menciptakan isu dan pembicaraan di media sosial. Setiap orang kini bisa membangun agenda. Susahnya kalau pembicaraan itu kontennya negative tentang kita atau lingkungan kita.
                Tidak percaya? Lihat saja, berapa banyak acara televisi atau media lainnya yang menayangkan atau menurunkan konten yang berasal dari cuitan Twitter (kini cuitan Twitter selebriti jadi berita), Facebook, rekaman video kamera smartphone, dan Youtube. Itu semua seringkali kali produksi orang-orang yang mungkin duu tidak Anda kenal. Ini sekaligus menunjukkan bahwa seseorang bisa menjadi public relations bagi dirinya sendiri. Mungkin Anda bisa menghitung berapa banyak selebriti lahir karena media sosial? Karenanya kini muncul kosa kata baru seperti selegram dan sebagainya. 
                Bagi industry seperti media dan public relations yang dibangun dari pondasi hubungan dengan media, perkembangan ini mungkin sangat mengganggu. Bagaimana tidak, media relations kini tidak lagi berkaitan lagi dengan media koran, TV dan radio tapi kini makin luas, termasuk dengan blogger dan sebagainya. Muncullah kosakata baru outreach, suatu strategi untuk menjangkau kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang karena faktor struktural memiliki hambatan untuk mengakses informasi dan layanan publik yang ada didalam masyarakat. Dari sini populer kata influencer yang pada era Paul Lazarsfeld (komunikasi dua langkah) dan Everet Rogers (difusi inovasi) dulu dikenal sebagai opinion leader. 
Pekerjaan public relations kini juga makin berat karena mereka harus menjaga “yang selalu harus mereka jaga” dari pemberitaan dan mengendalikan pembicaraan publik yang beredar di media sosial. Pekerjaan PR kini bukan lagi sekadar memenangkan kolom inci atau liputan TV. Praktisi PR kini juga dibebani tanggungjawab menenangkan pembicaraan tentang yang harus dijaganya tadi di media sosial. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mempersuasi beberapa editor dan media berita adalah satu hal, tetapi bisa meminimalisir kemungkinan munculnya breaking news versi media sosial tentang “yang harus dijaga”nya tadi adalah cerita yang lain.
PR modern sekarang tidak hanya memantau dan menjaga hubungan dengan media tradisional, mereka juga harus melototi hampir tanpa berkedip lanskap media sosial bisa jadi susah diatur dan siap mengatasi setiap percikan negatif sebelum mereka menjadi amuk api.
Memiliki teknologi yang tepat untuk memantau web sosial, terlibat dengan orang-orang yang selalu terhubung dalam pembicaraan di media sosial dan menganalisis dampak percakapan itu kini tidak lagi sebuah kemewahan. Ini adalah komponen penting dari setiap strategi PR dan bila kurang atau lengah sedikit saja bisa berisiko bagi reputasi klien mereka. Jadi sangat beralasan bila beberapa minggu lalu ada mahasiswa LSPR – melaui skripsinya – mengusulkan kompetensi cyber PR.