Selasa, 08 November 2016

Berdagang dan Beribadah


Sabtu, sekitar dua tiga bulan lalu, saya belanja di Pasar Bintaro 2 Tangerang Selatan. Seperti biasa yang pertama saya tuju adalah warung langganan saya, suami isteri Farid – sebut saja demikian. Sebelumnya, saya juga punya tempat langganan juga di Pasar Bintaro 2, di warung Fatimah. Namun karena pelanggan di Warung Fatimah banyak, cukup lama harus antri menunggu giliran dilayani.
Saya lalu pindah ke warung Farid. Yang melayani pembeli sebenarnya isterinya, sementara Farid menata barang dagangan, membetulkan kalau-kalau ada sayur atau buah yang letaknya berpindah atau jatuh. Cukup sabar dai menemani isterinya di warung. Dia tak pernah duduk. Selalu saja ada dagangannya yang dibetulkan posisinya.
Suatu Sabtu, sekitar pukul 07.00, saya datang ke warung Farid. Saya lihat Farid tak ada. “Kemana Mas Farid?,” tanyaku sambil memilih buah tomat.
“Lagi pulang dulu Pak,” jawab isteri Farid.
“Kok?”
“Mandi dan shalat dhuhah.”
Setiap sekitar pukul 00.00 dini hari, Farid pergi dari rumahnya di sekitar stasiun Pondok Ranji, untuk berbelanja (kulakan) di Pasar  Kebayoran Lama. Dia belanja sampai pukul 04.30 dan langsung dibawa ke Pasar Bintaro untuk dijual kembali. Habis menata dagangannya, Farid pulang dengan motor shalat shubuh lalu balik ke pasar. Itu laku Farid – yang kebetulan belum dikarunia anak -- setiap hari 
Suatu sekitar dua tiga bulan lalu itu, saya membeli nenas dua buah seharga Rp 4,5 ribu per buah. Seperti biasa, habis pesan saya meninggalkannya untuk berbelanja ke tempat lain. Farid yang memilihkan nenasnya. 
Tiga puluh menit kemudian saya balik ke tempat Farid untuk mengambil nenas yang saya pesan. “Sudah Mas?” tanya saya.
“Belum Pak….Maaf Pak yang tadi agak busuk,” katanya sambil menunjukkan dua buah yang hamper selesai dikupas. Saya lihat nenas itu memang busuk.
Mendengar pernyataan itu, saya agak kaget. “Lho kenapa bagian yang busuk nggak dipotong dan dibuang?”
Farid tersenyum. “Yang saya jual kan nenas utuh seperti yang Bapak lihat saat belum dikupas, bukan nenas yang sudah terpotong.”
Farid lalu mencoba menceritakan sesuatu ke saya……

Pada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman tabi'in bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga tokonya karena ia akan keluar shalat. Ketika itu datanglah seorang Badui yang hendak membeli perhiasan di toko itu.
Sang Badui berniat membeli satu perhiasan permata yang harganya tidak lebih dari empat ratus dirham. Saudara Yunus bin Ubaid itu lalu menunjukkan suatu barang yang sebenarnya seharga dua ratus dirham, tapi oleh saudara Yunus barang itu tetap ditawarkan dengan harga empat ratus dirham.
Sang Badui tadi tertarik dan membelinya. Barang tersebut dibeli oleh Badui tadi tanpa meminta pengurangan harga. Maka terjadilah jual beli di antara Badui itu dan penjaga toko yang dipercayakan Yunus bin Ubaid.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan Yunus bin Ubaid. Yunus bin Ubaid lalu bertanya kepada si Badui yang membawa perhiasan yang dibeli dari tokonya tadi. Memang dia mengenali barang tersebut adalah dari tokonya. Saudagar Yunus bertanya kepada Badui itu, "Berapakah harga barang ini kamu beli?"
Badui itu menjawab, "Empat ratus dirham."
"Tetapi harga sebenarnya cuma dua ratus dirham saja. Mari ke toko saya agar saya dapat kembalikan uang lebihnya kepada saudara," kata saudagar Yunus lagi.
"Biarlah, tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham."
Tetapi saudagar Yunus itu tidak mau melepaskan Badui itu pergi. Didesaknya juga agar Badui tersebut balik ke tokonya dan bila tiba dikembalikan uang baki kepada Badui itu. Setelah Yunus dan Sang Badui itu sampai di tokonya, berkatalah saudagar Yunus kepada saudaranya dengan marah, "Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali lipat?"
"Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus dirham," jawab saudaranya yang mencoba mempertahankan bahwa dia di pihak yang benar.
"Ya, tetapi di belakang kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri," kata Yunus.

“Nggak rugi,” tanya saya.
“Rugi untung itu memang risiko pedagang. Yang penting bagaimana caranya saya tidak membohongi pembeli.” katanya sambil tetap tersenyum. “Naggak apa-apa Pak saya rugi. Saya dagang kan juga untuk ibadah dan mencari ridlo Allah.”
Itu bukan sekali dua kali saya alami saat membeli di warung Farid. Suatu kali, saya membeli alpukat. Dari luar alpukat yang saya beli kelihatan mulus. Namun sesampai di rumah saat saya potong, ternyata alpukatnya busuk. Saya lalu menceritakan itu ke Farid keesokan hari. Farid langsung menggantinya dengan yang baru.
Seminggu setelah kejadian buah nenas itu, saya datang lagi ke warung Farid. Namun kali ini saya lihat warung Farid tutup. Minggu berikutya juga tutup dan selanjutnya sampai minggu ke lima. Minggu keenam, warung Farid buka kembali. Farid dan isterinya saya lihat tetap sibuk.
“Woo…. Buka? Saya kira sudah nggak jualan lagi. Pada kemana kok lama nggak jualan?” Tanya saya,
“Alhamdulillah….Minggu kemarin kami baru pulang dari haji,” kata Farid….
“Hah……subhanallah…Alhamdulillah “ kata saya.
“Iya Pak…..Keuntungan yang kami dapat dari Bapak dan pembeli lainnya kami tabung sedikit demi sedikit sehingga akhirnya kami bisa berhaji.”
“Kok nggak dipakai untuk buka warung baru atau dagang yang lain?”
“Alhamdulillah pak…. Ini saya sudah cukup. Yang penting dari hasil penjualan ini saya bisa makan, bisa beli baju, dan kontrak rumah. Dan yang lebih penting lagi, saya tetap bisa beribadah.”