Senin, 28 November 2016

UNFRIENDING



Musim panas 2008, Anna Mayer bersiap-siap untuk memulai kuliah semester pertamanya di sebuah sekolah pascasarjana di kotanya. Saat luang, dia menulis blog pseudonim tentang perjuangannya agar bisa masuk ke perguruan tempat dia akan mengikuti pendidikan S2-nya yang berat, dan masalah pribadi lainnya. Dia sangat menikmati interaksinya dengan pembaca dan komentar pada blognya. Dia juga makin menikmatinya manakala mendapati dukungan atas ide-idenya dari para pembaca yang muncul di papan dukungan blognya.
Tiba-tiba suatu hari, sebelum sekolah dimulai, saat dia mencari namanya, dia menemukan postingan yang menggambarkan dirinya sebagai "bodoh, pelacur gemuk dan jelek" yang "tidak bisa memanfaatkan arahan dari seorang laki-laki." Pengirim pesan tak bernama (anonymous) itu mencantumkan alamat e-mail, nomor telepon, dan profil situs kencannya. Dia juga menerima e-mail peringatan yang mengatakan bahwa penulis mengetahui dimana dia tinggal. Pengirim pesan itu juga mengejek Mayer sebagai penulis blog pseudonym yang dalam tulisannya cenderung melebih-lebihkan diri.  
Hari-hari berikutnya, komentar blognya makin seru. Di blognya muncul berbagai nama seperti "Anna Mayer Fat Ass Chronicles" dan "Anna Mayer Keeps Ho'Ing It Up." Pesan-pesan dalam tulisan itu  mengingatkan orang lain dengan mengatakan bahwa Mayer mengidap herpes yang harus segera diobati. Pengirim pesan lainnya mengklaim bahwa dia memiliki gangguan bipolar dan catatan kriminal sehingga tak layak mengekspos diri di depan umum.
Komentar rasis yang selama ini tidak pernah menimpanya itu kini seakan tak mau lepas darinya. Bahkan sebuah tulisan yang mencantumkan alamat e-mail profesornya, jelas-jelas meminta pembaca untuk memberitahu mereka tentang Mayer sebagai seorang rasis yang memuakkan. Seseorang menyetel  account Twitter di nama Mayer, mengklaim Mayer sedang mengkhayalkan sebuah pemerkosaan dan seks yang kasar.
Ratusan posting seakan khusus ditujukan untuk menyerangnya. Mayer tidak bisa menebak identitas orang yang mempost pesan tersebut. Dia bertanya-tanya apakah pelecehan itu sebagai pembalasan karena membela teman sekelas yang membuat blog tentang fantasi seksualnya. Dalam sebuah komentar anonim, Mayer memang telah menunjukkan dukungan untuk teman sekelasnya. Lalu apakah ada yang salah atau tidak biasa bila ada seseorang yang memiliki fantasi. Mungkinkah orang yang tersendiri Mayer yang marah? (Citron, Danielle Keats. 2014. Hate Crimes in Cyberspace. President and Fellows of Harvard College).
Itu fenomena di blog dimana setiap orang bisa mengakses dan membacanya. Di edia sosial, seperti Facebook dimana tidak semua orang bisa mengaksesnya, fenomenanya mirip-mirip dengan fenomena diatas.  Selama beberapa bulan persiapan pemilihan presiden AS, Facebook seakan menjadi tong “kemarahan” dan amukan pendukung baik Hillary maupun Trump. Kedua kubu pendukung dan penentang salah satu calon saling unfriending.
Jaringan sosial terbesar di planet itu mengatakan bahwa pemilihan presiden 2016 menghasilkan lebih dari 5,3 miliar postingan, suka, komentar dan _share_. Selama Januari-Oktober 2016, lebih dari 110 juta orang Amerika terlibat dalam perdebatan online tentang kedua calon. Tak ada data resmi dari Facebook tentang jumlah orang yang diunfriend. Namun diperkirakan sekitar 0,02% pengguna Facebook diunfriend temannya. Unfriending merupakan tindakan pencoretan atau penghapusan nama seseorang dari daftar nama teman yang mencoret atau menghapusnya.

Postingan soal politik, agama dan ras cenderung membuat dunia seakan terpolarisasi, bahkan terbelah. Ketika pandangan dan dunia terpolarisasi, maka pernyataan atau komentar apapun dalam media sosial baik itu menentang, menduku, bahkan yang netrakl sekalipun, cenderung “diprotes.” Ketika seseorang mendukung suatu kelompok, kelompok lainnya memprotes dan sebaliknya. Ketika seseorang yang mungkin berusaha netral pun cenderung dicari narasi yang menegasikan kenetralan itu.
Christopher Sibona, A PhD dari University of Colorado Denver Business School pernah melakukan penelitian dengan mensurvei lebih dari 1.500 pengguna Facebook dan pengikut twitter tentang alasan mengapa orang melakukan _unfriend_. Dari survey itu dia menyimpulkan ada 3 alasan orang untuk unfriending.
Pertama, seseorang akan diunfriend karena sering memposting hal-hal yang tidak penting, memposting hal-hal yang tidak pantas, dan ketiga, memposting topic yang cenderung membuat terpolarisasi seperti agama dan politik. Topik ini cenderung membuat orang merasa tidak nyaman, jengkel, dan terprovokasi terutama jika postingan itu dilakukan terus-menerus.
Sedikit tanda-tanda bahwa sikap ekstrim terhadap orang memiliki sikap politik dan ideology yang berbeda menurun. Para peneliti malah memprediksi bahwa fenomena tersebut cenderung memburuk (Baldassarri & Gelman, 2008; Smerconish, 2011).
Para peneliti kini banyak yang tertarik melakukan penyidikan tentang fenomena polarisasi sikap ini, termasuk dalam hal bagaimana pola komunikasi yang terjadi selama perdebatan misalnya, dan bagaimana ideologi, ketakutan, geografi, dan media mempengaruhi cara orang membangun konsep dan memposisikan isu-isu saat mereka melakukan perdebatan di media sosial atau media pesan instan.  Temuan menunjukkan bahwa semakin sering seorang individu dan kelompok berbicara tentang suatu isu, politik misalnya, pandangan mereka menjadi semakin ekstrim (Mackie, 1986; Sia, Tan, & Wei, 2002; Sunstein, 2009).
Selain itu, pada saat dihinggapi rasa ketakutan, seperti setelah peristiwa 11 September 2001, individu cenderung untuk membagi dunia menjadi dua kubu -- yakni mereka dan lainnya – sebagai upayanya untuk memulihkan rasa kepastian, keamanan, dan kesopanan. Ketika perasaan itu muncul, prang cenderung membuat stereotip _kami_ dan _mereka_ dan makin membekukan keyakinan sehingga muncul sikap dogmatism. Konsekuensinya, karena stereotip itu maka orang makin susah mengadopsi atau menerima gagasan yang berbeda dengan gagasannya.
Polarisasi geografi kini juga makin marak. Warga Amerika yang selama ini merasa bahwa budaya masyarakat homogen (Bishop, 2004), isolasi geografis yang cenderung menurunkan akses ke pandangan yang berbeda, bisa jadi dapat meningkatkan pandangan yang sudah ekstrim. Dalam konteks pemerataan pembangunan misalnya, ketika akses informasi tentang pebagunan wilayah makin susah, orang cenderung memiliki pandangan yang ekstrim tentang ketimpangan karena ketidaktahuan atau ketiadaan data tentang pemerataan pembangunan

Selain itu, media juga ikut  berkontribusi mengintensifkan polarisasi. Bukan hanya karena semakin banyaknya media, perkembangan teknologi juga semain memudahkan seseorang atau kelompok  mengekspresikan pandangannya. Di sisi lainnya, individu cenderung mencari dan mengkonsumsi media yang memperkuat, menonjolkan, dan selanjutnya mempolarisasi keyakinan mereka (Abramowitz, 2011). Akibatnya, saling balas cacian bukan lagi sesuai yang tabu, bahkan semakin sering muncul ketika orang-orang yang berada di salah satu posisi yang terpolarisasi itu menjelek-jelekkan lawannya dengan menyebut mereka salah informasi, bodoh, dan jahat (Pearce & Littlejohn, 1997). Jadi, bagaimana sebaiknya menurut Anda?