Jumat, 30 Desember 2016

Berita Bohong


Suatu ketika seorang wartawan yang datang ke Kuba, pulang tanpa membawa berita. Dia mendatangi dan minta saran William Randolph Hearst, orang dianggap sebagai pelopor jurnalisme kuning atau jurnalisme got (comberan). Hearst cuma memberi saran singkat, “Kamu poles citranya, saya poles tentang perangnya.” Itu euphoria ketika AS berseteru dengan Kuba. Pemerintah butuh citra Kuba yang “jahat” sebaga alasan untuk “mengintervensi” Kuba.

Sekarang seperti yang dilaporkan The Washington Post, beberapa orang menciptakan situs berita palsu untuk mengeruk penghasilan lebih  $ 10.000 per bulan melalui Google AdSense, sebuah program yang dijadikan tolok ukur keberhasilan media online karena mengkonversi pengunjung menjadi dolar berdasarkan perolehan iklan. Washington Post menurunkan tuliisan itu berdasarkan wawancaranya dengan beberapa remaja di Macedonia yang menjalankan situs-situs berita palsu. Sebagian besar diantara mereka mengatakan bahwa cara yang mereka lakukan itu sebagai cara termudah dan  menguntungkan untuk mendapatkan uang ditengah ekonomi yang berat. https://www.washingtonpost.com/world/europe/in-macedonias-fake-news-hub-teen-shows-ap-how-its-done/2016/12/02/98bce38e-b88d-11e6-939c-91749443c5e5_story.html?utm_term=.4884c4954ff5

Penyajian berita palsu itu tidak selalu sama. George Orwell, seorang novelis, esais, wartawan dan kritikus asal Inggris pernah mengatakan bahwa “beberapa berita lebih palsu daripada yang lain”. Jadi bagaimana Anda tahu bedanya? Menurut Dr. John Johnson, penulis buku EVERYDATA: The Misinformation Hidden in the Little Data You Consume Every Day, ada lima jenis berita palsu yang mungkin kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama, ada berita yang 100% palsu. Beberapa waktu lalu, sempat beredar kabar bahwa Sri Edi-Swasono meninggal, atau Paul McCartney meninggal. Sri Edi dan Paul hanyalah contoh dari banyak selebriti yang menjadi korban laporan kematian secara online. "RIP Paul McCartney" menjadi trending di Twitter. Padahal, siapapun yang berada di sampingnya tahu bahwa Paul jelas-jelas masih hidup.

Kedua, berita dengan _slanting_ (miring) dan bias. Baru-baru ini The Washington Times menerbitkan daftar berita bohong. Dalamdaftar itu termasuk antara lain cerita yang menyebutkan bahwa perubahan iklam menyebabkan makin banyak badai seperti Katrina. Sekilas mungkin pernyataan bahwa perubahan iklm tadi tidak benar, dan untungnya, sejak Katrina yang menghancurkan itu memang tidak ada lagi badai serupa. Tapi apakah benar kesimpulan tersebut? Nampaknya, Washington Times menggunakan fakta ketiadaan badai paska Katrina tersebut untuk mendongkrak argumentasi tentang realitas perubahan iklim. Hanya karena perubahan A (perubahan iklim dapat menyebabkan badai besar) dan B (tidak ada badai besar) tidak berarti bahwa perubahan C (perubahan iklim) tidak ada.

Ketiga, propaganda murni. The Washington Post baru-baru ini melaporkan tentang kampanye propaganda canggih yang dibuat Rusia. Washington Post menulis bahwa Rusia banyak menyebarkan artikel menyesatkan secara online selama kampanye pemilu presdiden beberapa waktu lalu. Sementara itu tuduhan itu masih perlu pembuktian, mungkin lebih adil bila ada yang mengatakan bahwa beberapa berita palsu yang dimunculkan memang khusus dirancang untuk mempengaruhi opini pembaca dalam menentukan pilihannya.

Keempat, menyalahgunakan Data. "Have a Beer, It’s Good for Your Brain," itu bunyi salah satu laporan yang dimuat di majalah Inc (http://www.inc.com/will-yakowicz/beer-improves-brain-function.html). Tapi Anda harus menunggu beberapa menit terlebih dulu sebelum Anda mengambil setengah liter (atau dua) berikutnya. Itu merupakan tulisan yang didasarkan pada hasil pada tikus - bukan pada manusia. Jumlah bir yang dikomsusi agar pikiran membuat pikiran jadi bagus itu  setara dengan 28 tong pada manusia. Ini adalah contoh yang bagus tentang bagaimana media sering salah menafsirkan penelitian, menawarkan dan menampilkan suatu temuan semenarik meski tidak benar-benar berlaku untuk Anda. Parahnya, tulisannya sering tidak didukung keilmupengetahuanan.

Kelima, apa yang disebut dengan Imprecise and Sloppy. Misalnya, ada tulisan menyebutkan bahwa 1 diantara 5 CEO itu Psikopat. Judul tulisan ini bisa dijumpai di banyak media mulai dari the Telegraph (http://www.telegraph.co.uk/news/2016/09/13/1-in-5-ceos-are-psychopaths-australian-study-finds/) hingga Washinton Post (https://www.washingtonpost.com/news/on-small-business/wp/2016/09/16/gene-marks-21-percent-of-ceos-are-psychopaths-only-21-percent/?utm_term=.568bc28d3355).


Karena dia seorang CEO, Dr. John Johnson menyebut kesimpulan itu salah, karena dia (akunya) bukanlah seorang psikopat. Penelitian itu didasarkan pada survei pada  profesional di industri rantai pasokan, bukan CEO. Sebuah headline tentang professional di rantai pasokan mungkin tidak seksi, tapi berbicara tentang CEO memberikan kesan yang salah.