Jumat, 25 Agustus 2017

Change or Die - Perkenalkan Inilah Komunikasi Perubahan


Dalam 150 tahun sejarahnya, Nokia telah berkali-kali melakukan perubahan. Dimulai sebagai pabrik kertas di Finlandia pada tahun 1865 dan kemudian pindah ke industri lain dan negara lainnya, badai perubahan telah menciptakan ancaman sekaligus peluang bagi Nokia. Nokia belum memantapkan dirinya sebagai perusahaan yang memproduksi peralatan jaringan dan telepon sampai tahun 1980an, ketika teknologi mobile lepas landas.

Pada tahun 2007, perusahaan ini merupakan pemain dominan di bisnis ponsel, dengan pangsa pasar global 40% berkat teknologi yang unggul dan keuntungan skala yang sangat besar. Namun bagaimanapun, hanya dalam waktu lima tahun kemudian, Nokia mengalami krisis yang parah: kapitalisasi pasarnya turun 96%. Perusahaan itu seakan membakar uang tunai, dan kerugian operasional lebih dari $ 2 miliar dalam enam bulan pertama tahun 2012 saja.

Sebagai tanggapan, Nokia melakukan perubahan yang dramatis. Pertanyaan strategis besar yang pertama adalah nasib bisnis telepon seluler. Dalam perang ekosistem mobile, iOS Apple dan Android Google dengan cepat menangkap pasar yang lebih besar dan makin membesar, dan mulai memberikan sinyal-sinyal yang menunjukkan bahwa strategi pengembangan ponsel dengan basis Windows tidak mungkin mampu menyelamatkan perusahaan. Sebagai gantinya, Nokia memutuskan untuk menjual bisnis telepon selulernya ke Microsoft. Divestasi tersebut merupakan bagian dari kesepakatan senilai $ 7,2 miliar pada bulan September 2013.


Setelah divestasi, Nokia memiliki tiga portofolio bisnis yang sangat berbeda: infrastruktur jaringan, layanan pemetaan, dan lisensi teknologi dan paten. Hal ini membawa perusahaan ke keputusan strategis besar berikutnya: Haruskah Nokia mengembangkan dirinya sebagai perusahaan portofolio, atau haruskah ia memfokuskan kegiatannya?

Fenomena diatas menggambarkan perusahaan atau organisasi selalu menghadapi tantangan besar untuk bisa mengelola perubahan baik internal maupun eksternal secara efektif. Agar bisa bertahan di tengah arus perubahan lingkungan yang semakin dinamis, perusahaan atau organisasi harus terus-menerus melakukan perubahan strategi, struktur, proses, budaya dan melakukan adaptasi secara cepat. Bila perusahaan atau organisasi tidak mampu melakukan perubahan, mereka sulit bertahan atau berkembang.

Perdebatan soal daya beli yang muncul masyarakat dalam beberapa pekan terakhir masih meninggalkan sisa. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa bisnis saat ini memang telah berubah. Ambil saja pernyataan bahwa daya beli masyarakat turun, hal itu memaksa perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan itu. Demikian pula bila pernyataan banwa dewasa ini ada pergeseran pola belanja masyarakat benar. Konsekuensinya adalah perusahaan harus beradaptasi dengan perubahan itu.

Bedanya, bila perubahan yang terjadi adalah karena penurunan daya beli, sifat perubahan itu itu sementara. Ini kaena bisa saja dalam beberapa bulan mendatang daya beli masyarakat naik. Kalau perubahan itu karena pergeseran cara belanja misalnya, maka perubahan itu bersifat sustain. Artinya, kalau sekarang orang senang berbelanja online atau mengkonsumsi media online dan meninggalkan media konvensioanl seperti cetak, maka perubahan itu bisa dipastikan permanen. Dalam waktu yang lama, orang sulit kembali ke media cetak.

Karena itulah para pemilik perusahaan mungkin cukup arif dalam mensikapi perubahan ini. Dalam beberapa hari ini, ada kabar sebuah perusahaan hipermarket kesulitan membayar utangnya kepada pemasok. Alasannya bisnis sedang lesu. Pertanyaannya adalah apakah kelesuan itu karena pergeseran pola belanja konsumen atau karena penurunan daya beli? Sekali lagi saya katakan, kalau kelesuan karena penurunan daya beli ada harapan situasi akan berbalik kea rah yang positif saat daya beli meningkat. Akan tetapi, bila kelesuan karena pergeseran pola belanja, saya tidak akan bila kondisinya akan bisa berbalik bila perusahaan tidak melakukan perubahan menyeluruh termasuk model bisnisnya.

Banyak kasus perusahaan yang tutup karena perubahan yang orang menyebutnya sebagai disruptive ini karena mereka merasa nyaman dan enggan untuk berubah. Anda mungkin membayangkan bahwa orang akan berubah bila berada dalam kondisi tertekan. Namun banyak kasus menunjukkan bahwa ketika orang tertekan yang terjadi orang semakin pasif (Coleman, 1994). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang akan berubah ketika sadar bahwa pengelola perusahaan sebenarnya berada kondisi yang berbeda dengan perusahaan lain dan dia sebenarnya bisa seperti perusahaan orang lain yang saat ini kinerjanya bagus bila melakukan perubahan. Persoalannya, seringkali rencana perubahan tidak berjalan mulus. Yang terjadi, seringkali muncul penolakan atas rencana perubahan itu.

Lalu bagaimana caranya? Disinilah peran penting komunikasi. Komunikasi seperti apa? Bertentangan dengan kebanyakan studi, Goodman dan Truss (2004) menemukan bahwa dalam mendorong orang untuk berubah, bukan tergantung pada banyaknya informasi yang diberikan kepada mereka. Sebab menurut penelitian Goodman dan Truss tersebut, tidak terdapat banyak perbedaan antara mereka yang telah menerima banyak informasi dan mereka yang tidak.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa meskipun sudah menerapkan sebuah rencana strategi komunikasi terbaik, namun dalam beberapa kasus masih terdapat karyawan yang merasa belum menerima informasi yang cukup pada waktu yang tepat dan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, memastikan strategi komunikasi perubahan yang tepat disesuaikan dengan jenis perubahan adalah sangat penting. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar